Mantan Direktur FBI James Comey Didakwa Berbohong ke Kongres, Trump Dinilai Tekan DOJ

AKURAT.CO Mantan Direktur FBI James Comey didakwa dewan juri federal di Virginia pada Kamis (25/9) atas dua tuduhan memberikan pernyataan palsu kepada Kongres dan menghalangi proses kongres. Jika terbukti bersalah, Comey terancam hukuman penjara hingga lima tahun.
Dakwaan pertama menuduh Comey berbohong dalam sidang Kongres pada 30 September 2020 dengan menyatakan tidak pernah memberi izin siapa pun di FBI menjadi sumber anonim bagi media. Padahal, dokumen dakwaan menyebut ia mengetahui dan mengizinkan pihak ketiga melakukannya.
Dakwaan kedua menuding Comey secara sengaja berusaha menghalangi kewenangan penyelidikan Senat melalui pernyataan palsu yang sama. Sementara itu, dakwaan ketiga yang sempat diajukan jaksa—atas dugaan kebohongan lain—ditolak dewan juri tanpa alasan yang dipublikasikan.
Bantahan Comey
Melalui unggahan media sosial, Comey menegaskan dirinya tidak bersalah.
“Rasa takut adalah alat tiran… tetapi saya tidak takut. Hati saya hancur untuk Departemen Kehakiman, namun saya percaya pada sistem peradilan federal dan saya tidak bersalah,” tulis Comey.
Tekanan Politik dari Trump
Kasus ini muncul di tengah pengaruh politik Presiden AS Donald Trump yang kian besar terhadap Departemen Kehakiman (DOJ). Trump dikenal lama memandang Comey sebagai rival politik.
Setelah dakwaan diajukan, Trump menyebut Comey sebagai “penghancur kehidupan” dan menegaskan “harga yang mahal harus dibayar.” Minggu sebelumnya, pemerintahan Trump menekan jaksa awal kasus ini, Erik Siebert, hingga mundur karena menolak melanjutkan penyelidikan terhadap Comey dan sejumlah musuh politik Trump lainnya.
Trump kemudian menunjuk Lindsey Halligan, mantan ajudannya yang minim pengalaman kejaksaan, sebagai Jaksa Agung AS untuk Distrik Timur Virginia.
Pola Campur Tangan DOJ
Kasus Comey disebut mengikuti pola pembersihan politik di tubuh DOJ. Putri Comey, yang pernah menjadi jaksa federal di Distrik Selatan New York, dipecat pada Juli lalu. Praktik pemecatan terhadap jaksa atau pengacara yang dinilai menentang kebijakan Trump dilaporkan terjadi berulang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








