Prancis Kritik Penyerangan AS ke Venezuela Tapi Dukung Penangkapan Maduro

AKURAT.CO Pemerintah Prancis menyatakan penyesalan atas aksi militer AS di Venezuela yang dinilai tidak menghormati hukum internasional. Pernyataan tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri Prancis menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, Pascal Confavreux, mengatakan bahwa metode yang digunakan Amerika Serikat dalam operasi militernya tidak sejalan dengan prinsip hukum internasional. “Hukum internasional tidak dihormati dalam cara bertindak yang digunakan. Kami menyesalkan hal itu,” ujar Confavreux kepada stasiun televisi TF1, seperti dikutip BFMTV, Senin.
Meski demikian, Confavreux menegaskan bahwa Prancis tidak menyayangkan penangkapan Maduro secara personal. Ia menyebut Maduro telah kehilangan legitimasi politik karena tidak mengakui hasil pemilu Juli 2024 serta melakukan pemenjaraan terhadap lawan-lawan politiknya. “Karena itu, kami tidak akan menyesalinya,” kata Confavreux.
Namun, ia menekankan bahwa Prancis tidak dapat menerima apa yang disebutnya sebagai “hukum yang ditentukan oleh pihak terkuat”, merujuk pada aksi militer AS di Venezuela. Menurutnya, transisi kekuasaan harus tetap berlangsung secara damai dan sesuai dengan prinsip hukum internasional.
Senada dengan Confavreux, juru bicara pemerintah Prancis Maud Bregeon juga menyatakan bahwa Paris tidak akan “menangisi kepergian” Maduro, yang ia sebut sebagai seorang diktator. Meski begitu, Bregeon menekankan pentingnya membuka jalan bagi masa depan Venezuela melalui transisi yang damai dan demokratis.
“Venezuela harus bisa melangkah keluar dari era Maduro. Itu harus dimulai dengan pembebasan tahanan politik dan pengakuan yang sah terhadap hasil pemilu 2024,” ujarnya.
Pernyataan Prancis ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa aksi militer AS di Venezuela berujung pada penangkapan Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Trump bahkan menyatakan Amerika Serikat siap mengambil alih kendali sementara atas Venezuela, termasuk dengan pengerahan pasukan jika diperlukan.
Maduro dan Cilia Flores dilaporkan tiba di New York pada Sabtu malam dan kini ditahan di sebuah pusat detensi di Brooklyn. Keduanya menghadapi dakwaan federal terkait perdagangan narkoba serta dugaan kerja sama dengan kelompok kriminal yang dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh AS.
Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut. Sementara itu, sejumlah pejabat di Caracas menyerukan pembebasan pasangan tersebut dan mengecam keras tindakan militer Amerika Serikat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








