Akurat Logo

Fakta Terbaru Penembakan Gala Pers Trump: Pelaku Diduga Punya Manifesto Ekstrem

Fitra Iskandar | 27 April 2026, 10:08 WIB
Fakta Terbaru Penembakan Gala Pers Trump: Pelaku Diduga Punya Manifesto Ekstrem
Cole Tomas Allen, pelaku penembakan di acara Trump. Foto: ABC7

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut tersangka penembakan dalam acara makan malam White House Correspondents’ Association di Washington sebagai sosok “sakit” yang memiliki manifesto anti-Kristen.

Dalam sejumlah wawancara televisi pada Minggu, Trump mengungkapkan bahwa keluarga pelaku sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran kepada aparat penegak hukum. Tersangka diidentifikasi sebagai Cole Tomas Allen (31), warga Torrance, yang ditangkap di lokasi kejadian.

Manifesto Anti-Kristen dan Target Pejabat Pemerintah

Trump mengatakan pelaku mengalami perubahan pandangan keagamaan yang signifikan. “Dia dulunya seorang Kristen, lalu berubah menjadi anti-Kristen,” ujar Trump dalam program “60 Minutes”.

Menurut aparat, pelaku mengirimkan manifesto kepada keluarganya sebelum melancarkan aksi. Dalam dokumen tersebut, ia menyebut dirinya sebagai “Friendly Federal Assassin” dan memuat kritik keras terhadap ajaran Kristen serta sistem pemerintahan.

Manifesto itu juga mencantumkan daftar target pejabat pemerintah AS, disusun berdasarkan tingkat jabatan. Namun, Direktur FBI Kash Patel disebut tidak termasuk dalam daftar tersebut.

Kritik Keamanan Hotel dan Kronologi

Pelaku juga menyoroti lemahnya sistem keamanan di Washington Hilton Hotel, lokasi acara berlangsung. Dalam tulisannya, ia mengaku dapat masuk dengan membawa berbagai senjata tanpa terdeteksi.

Menurut otoritas, pelaku tiba di Washington menggunakan kereta Amtrak dari Los Angeles melalui Chicago dan menginap di hotel tersebut sejak Jumat. Ia kemudian melepaskan tembakan menggunakan senapan ke arah petugas Secret Service di pos pemeriksaan sebelum akhirnya dilumpuhkan dan ditangkap.

Jaksa Agung AS sementara, Todd Blanche, menyebut Trump dan pejabat tinggi pemerintahan menjadi target utama serangan.

Pejabat Dievakuasi, Tidak Ada Korban Jiwa

Saat insiden terjadi, Trump, Ibu Negara Melania Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta sejumlah pejabat kabinet langsung dievakuasi.

Seorang agen Secret Service sempat tertembak, namun selamat karena peluru mengenai rompi pelindungnya. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Proses Hukum dan Dugaan Motif

Pelaku dijadwalkan menghadapi dakwaan di pengadilan federal pada Senin, termasuk penyerangan terhadap petugas federal, penggunaan senjata api, serta percobaan pembunuhan.

Penyidik masih mendalami motif serangan dan belum menemukan indikasi keterkaitan dengan pihak asing, termasuk Iran.

Insiden ini kembali memicu kekhawatiran terkait keamanan pejabat tinggi AS, terutama di tengah meningkatnya kekerasan politik dalam beberapa tahun terakhir.

Trump memanfaatkan momentum ini untuk mendorong pembangunan ballroom baru di Gedung Putih yang diklaim memiliki standar keamanan lebih tinggi.

Reaksi Global dan Latar Belakang Pelaku

Sejumlah pemimpin dunia mengecam serangan tersebut dan menyatakan lega karena tidak ada korban jiwa dari kalangan pejabat.

Kunjungan kenegaraan Raja Inggris Charles III ke Amerika Serikat tetap dijadwalkan berlangsung.

Sementara itu, informasi awal menunjukkan pelaku pernah bekerja di lembaga pendidikan swasta C2 Education. Tetangga di lingkungan tempat tinggalnya menggambarkan pelaku sebagai sosok tertutup dan jarang berinteraksi.

Aparat juga mengungkap bahwa pelaku memiliki beberapa senjata api yang disimpan di rumah orang tuanya.

Insiden ini menambah daftar panjang kasus kekerasan bersenjata di Amerika Serikat yang kian meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Sumber: Korea Herald

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.