Kepada Mahasiswa di Marsberg, Kanselir Jerman Friedrich Merz Bercerita tentang AS yang “Dipermalukan” Iran

AKURAT.CO Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kian memanas setelah negosiasi terbaru kedua negara kembali menemui jalan buntu. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, bahkan menyebut AS sedang “dipermalukan” oleh kepemimpinan Teheran.
Pernyataan keras itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan perjalanan delegasi negaranya ke Islamabad untuk melanjutkan pembicaraan tidak langsung dengan Iran. Sebelumnya, putaran negosiasi di ibu kota Islamabad yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance juga berakhir tanpa hasil.
Merz: Iran Lebih Cerdik di Meja Perundingan
Berbicara di hadapan mahasiswa di Marsberg, Merz menilai tim Trump kalah taktik dalam menghadapi Iran.
“Iran jelas sangat terampil dalam bernegosiasi—atau justru terampil untuk tidak bernegosiasi. Mereka membiarkan Amerika datang ke Islamabad, lalu pulang tanpa hasil,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Sebuah negara besar sedang dipermalukan oleh Iran,” mengacu pada kegagalan diplomasi AS.
Trump: “Kami Punya Semua Kartu”
Berbeda dengan kritik tersebut, Trump tetap optimistis. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyatakan posisi AS masih kuat.
“Kami memegang semua kartu. Jika Iran ingin bicara, mereka bisa datang kepada kami atau menghubungi kami,” kata Trump.
Pernyataan ini mencerminkan perbedaan tajam antara sekutu transatlantik terkait strategi menghadapi Iran.
Iran Ajukan Proposal “Hormuz First”
Di tengah kebuntuan, Iran mengajukan proposal baru yang fokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global.
Namun, Teheran meminta agar isu sensitif seperti program nuklir, rudal, dan sanksi ditunda pembahasannya.
Seorang diplomat yang terlibat dalam perundingan menilai pendekatan ini bermasalah.
“Bagaimana mungkin dampak perang seperti Hormuz dibahas lebih dulu, sementara akar masalahnya belum disentuh?” ujarnya.
IMO Tolak Rencana Biaya Jalur Laut
Rencana Iran untuk mengenakan biaya bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz juga menuai penolakan dari International Maritime Organization (IMO).
Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menegaskan:
“Tidak ada dasar hukum untuk mengenakan pajak atau biaya di jalur pelayaran internasional.”
Tekanan Ekonomi Kian Berat
Kebuntuan diplomasi diperparah oleh blokade ekonomi yang saling diberlakukan. AS meningkatkan tekanan dengan membatasi aktivitas pelayaran yang terkait pelabuhan Iran.
Menurut International Monetary Fund, ekonomi Iran diproyeksikan menyusut 6,1% tahun ini, dengan inflasi mendekati 70%. Harga kebutuhan pokok dan layanan kesehatan melonjak tajam.
Blokade juga menghambat tanker Iran kembali ke pelabuhan, memperburuk kapasitas penyimpanan energi dan mengancam sektor minyak dalam jangka panjang.
Iran Dekati Rusia
Untuk meredam dampak krisis, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.
Putin menyatakan dukungan terhadap Iran.
“Rusia akan melakukan segala yang mendukung kepentingan Iran dan stabilitas kawasan,” ujarnya.
Analis: Tekanan Ekonomi Tak Cukup
Pengamat dari International Crisis Group, Ali Vaez, menilai strategi tekanan ekonomi AS belum tentu berhasil.
“Iran melihat ini sebagai pertarungan eksistensial. Mereka siap menanggung biaya lebih besar, bahkan dengan mengalihkan beban ke rakyat,” katanya.
Risiko Global dan Kepentingan Politik Trump
Di sisi lain, Trump menghadapi tekanan domestik, mulai dari harga energi hingga inflasi. Ia juga ingin meredakan krisis sebelum pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping.
Krisis ini bahkan berpotensi mengganggu pasokan bahan bakar global, termasuk untuk ajang besar seperti Piala Dunia di Amerika Utara.
Ancaman Baru dari Israel
Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperingatkan potensi aksi militer baru di Lebanon terhadap Hezbollah.
“Ancaman roket dan drone masih nyata. Ini membutuhkan respons operasional dan teknologi,” ujarnya.
Sumber: Guardian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






