Akurat Logo

Tandatangani Kesepakatan Akhiri Perang dengan Iran, Trump: Ini Tidak Mudah!

Fitra Iskandar | 18 Juni 2026, 08:17 WIB
Tandatangani Kesepakatan Akhiri Perang dengan Iran, Trump: Ini Tidak Mudah!
Presiden AS Donald Trump. Foto: Unsplash

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran secara resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang menjadi dasar penghentian konflik di Timur Tengah. Kesepakatan bersejarah tersebut juga membuka jalan bagi dibukanya kembali Selat Hormuz, pencabutan sejumlah sanksi terhadap Iran, hingga dimulainya program pemulihan ekonomi bernilai ratusan miliar dolar.

Penandatanganan dilakukan lebih cepat dari jadwal yang sebelumnya direncanakan berlangsung dalam sebuah seremoni resmi di Swiss. Gedung Putih dan media pemerintah Iran sama-sama mengonfirmasi bahwa dokumen tersebut telah ditandatangani oleh kedua pemimpin.

Video yang dirilis Gedung Putih memperlihatkan Trump menandatangani dokumen kesepakatan saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles, Prancis.

"Sudah ditandatangani. Saya menandatanganinya di Versailles," kata Trump kepada wartawan usai acara tersebut.

Selat Hormuz Dibuka Kembali, Sanksi Iran Mulai Dicabut

Kesepakatan itu memuat sejumlah poin penting yang berpotensi mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah.

Selain mengakhiri perang di berbagai front konflik, nota kesepahaman tersebut mencakup pembukaan penuh jalur pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat, pembebasan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan, serta pelonggaran sanksi internasional terhadap Teheran.

Kesepakatan juga memuat rencana rehabilitasi ekonomi Iran senilai 300 miliar dolar AS yang ditujukan untuk membantu pemulihan ekonomi negara tersebut setelah bertahun-tahun berada di bawah tekanan sanksi.

Iran Kembali Tegaskan Tak Akan Bangun Senjata Nuklir

Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran kembali menegaskan komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Namun sejumlah isu yang sebelumnya menjadi tuntutan utama Washington belum sepenuhnya terselesaikan. Persediaan uranium yang telah diperkaya milik Iran belum diserahkan, kemampuan rudal balistik negara tersebut tetap dipertahankan, dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok sekutu regional, termasuk Hizbullah di Lebanon, belum dihentikan.

Hal ini memunculkan perdebatan di kalangan pengamat mengenai sejauh mana Amerika Serikat berhasil mencapai target awal yang diumumkan saat konflik dimulai.

Trump Ubah Sikap soal Rudal Balistik Iran

Dalam perkembangan yang menarik perhatian, Trump juga melunakkan sikapnya terkait program rudal Iran.

Pada awal konflik, Trump sempat berjanji akan menghancurkan seluruh kemampuan rudal balistik Iran. Namun setelah kesepakatan tercapai, ia mengisyaratkan pendekatan yang lebih lunak.

"Jika negara lain memiliki rudal seperti itu, maka tidak adil jika Iran sama sekali tidak memilikinya," ujar Trump usai menghadiri pertemuan G7.

Meski demikian, Trump tetap memberikan peringatan keras kepada Teheran. Ia menegaskan Amerika Serikat siap kembali melakukan operasi militer jika Iran melanggar isi kesepakatan.

"Kami akan menyerang mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian ini," katanya.

Pemimpin G7 Sambut Positif Kesepakatan

Kesepakatan AS-Iran mendapat sambutan positif dari para pemimpin negara anggota G7 yang tengah berkumpul di Prancis.

Mereka menilai perjanjian tersebut berhasil mencegah potensi krisis ekonomi global yang dapat terjadi apabila konflik terus berlanjut, terutama mengingat pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi dunia.

Trump sendiri menyebut salah satu alasan utama mendorong perdamaian adalah untuk menghindari dampak ekonomi yang lebih luas.

"Saya tidak ingin melihat bencana ekonomi global terjadi," ujarnya.

Konflik Lebanon Masih Jadi Tantangan

Meski kesepakatan telah diteken, situasi di Lebanon masih menjadi perhatian utama.

Nota kesepahaman tersebut menyerukan penghentian permusuhan antara Israel dan Hizbullah yang selama berbulan-bulan memicu gelombang pengungsian besar di Lebanon.

Namun pertempuran sporadis masih terus terjadi. Israel yang tidak terlibat langsung dalam negosiasi menegaskan tetap memiliki hak untuk melakukan operasi militer di wilayah Lebanon selatan.

Dalam beberapa hari terakhir, media Lebanon melaporkan adanya serangan udara dan tembakan artileri Israel di sejumlah wilayah selatan negara itu. Sementara sumber keamanan Lebanon menyebut terjadi serangan drone yang diduga dilancarkan Hizbullah terhadap pasukan Israel.

Trump Tegur Netanyahu

Di tengah upaya menjaga implementasi kesepakatan damai, Trump juga kembali menyinggung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Meski menyebut Netanyahu sebagai sosok yang baik, Trump mengaku memiliki perbedaan pandangan terkait operasi militer Israel di Lebanon.

"Kami punya sedikit perbedaan pendapat soal Lebanon. Saya bilang kepada Bibi, mungkin bisa sedikit lebih lunak," ujar Trump menggunakan nama panggilan Netanyahu.

Trump bahkan secara terbuka mengkritik taktik Israel yang menghancurkan bangunan dalam operasi memburu anggota Hizbullah.

"Anda tidak harus merobohkan satu gedung setiap kali ada anggota Hizbullah masuk ke dalamnya," katanya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa meski kesepakatan damai AS-Iran telah resmi diteken, tantangan untuk menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah masih jauh dari selesai.

Sumber: Thenewdaily

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.