Akurat Logo

Pentagon Ajukan Dana Tambahan Rp1.300 Triliun untuk Perang Iran, Trump Hadapi Tekanan Politik dan Ekonomi

Fitra Iskandar | 23 Juni 2026, 22:07 WIB
Pentagon Ajukan Dana Tambahan Rp1.300 Triliun untuk Perang Iran, Trump Hadapi Tekanan Politik dan Ekonomi
Pentagon. Foto: AA

AKURAT.CO Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dilaporkan tengah mengupayakan tambahan anggaran sebesar USD80 miliar atau sekitar Rp1.300 triliun kepada Kongres untuk menutupi biaya operasi militer terkait konflik dengan Iran.

Permintaan dana jumbo tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump serta kekhawatiran bahwa pengeluaran perang akan semakin membebani warga Amerika yang masih menghadapi tekanan ekonomi.

Meski Gedung Putih belum secara resmi mengajukan proposal kepada Kongres melalui Office of Management and Budget (OMB), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Wakil Menteri Pertahanan Stephen Feinberg disebut aktif melobi para senator agar menyetujui tambahan anggaran tersebut.

Menurut Feinberg, dokumen permintaan dana tambahan itu telah dikirimkan ke OMB dan kini menunggu proses lebih lanjut sebelum diajukan secara resmi ke parlemen.

Anggaran Perang Iran Bisa Tembus Rekor Baru

Laporan Associated Press menyebut tambahan USD80 miliar itu diajukan di luar rencana Gedung Putih untuk menaikkan anggaran Pentagon menjadi USD1,5 triliun, atau hampir 50 persen lebih tinggi dibandingkan anggaran pertahanan tahun fiskal saat ini.

Meski lebih rendah dari estimasi awal Pentagon yang sempat mencapai USD200 miliar sebelum konflik berlangsung, angka terbaru tersebut masih jauh lebih besar dibandingkan perkiraan biaya perang sebesar USD29 miliar yang sebelumnya disampaikan Hegseth kepada Kongres bulan lalu.

Dana tambahan itu disebut akan digunakan untuk mengganti persediaan amunisi yang terkuras, memperbaiki peralatan militer yang rusak, serta membiayai operasi pasukan Amerika yang masih ditempatkan di berbagai wilayah strategis.

Kongres Terbelah Soal Dana Tambahan

Rencana penambahan anggaran perang memicu perdebatan sengit di Kongres.

Senator Demokrat Patty Murray mengkritik kebijakan tersebut dan menilai pemerintah menghabiskan uang rakyat untuk konflik yang tidak mendapat dukungan luas dari masyarakat.

"Anda menggunakan uang pajak hasil kerja keras keluarga Amerika untuk perang yang ditentang banyak orang," kata Murray dalam sidang dengar pendapat sebelumnya.

Senator Demokrat Brian Schatz bahkan memperingatkan bahwa biaya sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar dibandingkan angka USD80 miliar yang saat ini dibahas.

Di sisi lain, sejumlah politisi Partai Republik mendukung tambahan anggaran tersebut dengan alasan menjaga kesiapan militer Amerika.

Pemimpin Mayoritas Senat John Thune menegaskan bahwa Washington harus segera mengisi kembali stok amunisi yang berkurang akibat konflik dengan Iran maupun operasi militer sebelumnya.

"Kita harus memastikan persediaan militer kembali penuh dan siap digunakan," ujarnya.

Senator Republik Jim Banks juga mendukung langkah tersebut dan menyebut investasi pertahanan dapat memperkuat industri manufaktur militer dalam negeri.

Trump: Biaya Besar untuk Cegah Iran Punya Senjata Nuklir

Pete Hegseth sendiri belum memberikan komentar terbaru kepada wartawan mengenai proposal dana tambahan tersebut.

Namun sebelumnya ia menegaskan bahwa biaya besar yang harus dikeluarkan Amerika Serikat merupakan konsekuensi dari upaya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Menurut Hegseth, pertanyaan utama bukanlah berapa besar biaya perang, melainkan seberapa besar risiko yang harus dihadapi dunia jika Iran berhasil memiliki senjata nuklir.

Meski demikian, ia mengakui bahwa strategi tersebut membawa konsekuensi finansial yang signifikan bagi pemerintah Amerika Serikat.

Beban Baru di Tengah Tekanan Ekonomi

Perdebatan mengenai tambahan dana perang Iran muncul ketika banyak keluarga Amerika masih menghadapi tekanan akibat inflasi, tingginya biaya hidup, dan ketidakpastian ekonomi.

Karena itu, pembahasan anggaran pertahanan diperkirakan menjadi salah satu isu paling panas di Kongres dalam beberapa pekan mendatang, sekaligus menjadi ujian politik penting bagi pemerintahan Donald Trump menjelang agenda politik berikutnya.

Sumber: JPost

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.