Israel Serang Lebanon Saat Negosiasi Damai Berlangsung, Gencatan Senjata Kembali Dilanggar

AKURAT.CO Jet tempur Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon selatan pada Kamis (26/6/2026), ketika pejabat Lebanon dan Israel tengah menyelesaikan putaran kelima perundingan yang dimediasi Amerika Serikat di Washington untuk membahas gencatan senjata jangka panjang.
Serangan tersebut menghantam kota perbatasan Beit Yahoun, yang berada di Lebanon selatan. Insiden itu disebut kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata yang masih berlaku di tengah upaya diplomatik kedua negara.
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun besarnya kerusakan akibat serangan tersebut.
Serangan Terjadi di Tengah Perundingan Washington
Serangan udara berlangsung bersamaan dengan berakhirnya putaran kelima negosiasi antara Beirut dan Tel Aviv yang difasilitasi Amerika Serikat.
Perundingan tersebut merupakan bagian dari upaya mencari kesepakatan damai yang lebih permanen setelah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Rangkaian pembicaraan ini juga berlangsung setelah mulai berlakunya nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran pada 18 Juni, yang ditandatangani secara elektronik oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Salah satu poin dalam kesepakatan itu memuat komitmen untuk menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah Lebanon.
Gencatan Senjata Kembali Dipertanyakan
Serangan terbaru di Beit Yahoun kembali memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas gencatan senjata yang selama ini menjadi dasar upaya meredakan konflik di perbatasan Lebanon-Israel.
Meski proses diplomasi terus berlangsung, aksi militer di lapangan masih berlanjut sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai target serangan maupun tanggapan resmi dari pihak Israel terkait operasi tersebut.
Ribuan Korban Sejak Konflik Memanas
Berdasarkan data resmi pemerintah Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan lebih dari 4.100 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya.
Korban terus bertambah meski kedua pihak telah menyepakati gencatan senjata dan berbagai upaya diplomatik internasional terus dilakukan.
Serangan terbaru menunjukkan bahwa situasi keamanan di perbatasan Lebanon-Israel masih sangat rapuh, sementara negosiasi politik di Washington belum berhasil menghentikan aksi militer di lapangan.
Sumber: Yenisafak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








