Akurat Logo

Trump Perintahkan Serangan Balasan, AS Kembali Gempur Iran

Fitra Iskandar | 28 Juni 2026, 08:02 WIB
Trump Perintahkan Serangan Balasan, AS Kembali Gempur Iran
Ilustrasi misil. Foto: War Thunder

AKURAT.CO Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS melancarkan serangan udara ke sejumlah target militer Iran atas perintah Presiden Donald Trump, Sabtu (27/6/2026) waktu setempat. Operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata sementara.

Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) menyatakan bahwa pesawat tempur AS menghantam berbagai fasilitas militer Iran, termasuk infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, gudang penyimpanan drone, hingga kemampuan penebar ranjau laut.

Menurut CENTCOM, tindakan militer itu diambil setelah pasukan Iran menyerang kapal tanker Kiku menggunakan drone bunuh diri (one-way drone) pada Sabtu pagi.

Kapal Tanker Bermuatan 2 Juta Barel Minyak Diserang

Kapal tanker Kiku diketahui membawa lebih dari 2 juta barel minyak mentah ketika melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Berdasarkan data pelacakan kapal, Kiku berangkat dari ladang minyak Qatar di Teluk Persia pada awal pekan dan menuju pelabuhan di Uni Emirat Arab yang berada di Teluk Oman.

Kapal tersebut dilaporkan menggunakan jalur pelayaran alternatif di dekat pantai Oman, bukan rute yang selama ini berada di bawah pengawasan Iran. Jalur baru itu kini semakin banyak dipilih kapal-kapal dagang untuk mengurangi risiko keamanan.

AS: Iran Abaikan Kesepakatan Gencatan Senjata

Dalam pernyataannya, CENTCOM menegaskan bahwa Iran sebenarnya memiliki kesempatan untuk mematuhi perjanjian gencatan senjata sementara yang telah disepakati dengan Washington.

"Iran memiliki kesempatan untuk menghormati perjanjian gencatan senjata, tetapi memilih untuk tidak melakukannya," demikian pernyataan militer AS.

Tak lama setelah serangan balasan dilakukan, televisi pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan di wilayah utara Selat Hormuz, meski belum memberikan rincian mengenai lokasi maupun tingkat kerusakan.

Bahrain Kecam Serangan Drone Iran

Situasi juga memanas di Bahrain, negara yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat.

Kementerian Luar Negeri Bahrain mengungkapkan bahwa sejumlah drone Iran juga mengarah ke wilayah negaranya. Serangan tersebut disebut sebagai ancaman serius terhadap keamanan warga dan penduduk Bahrain.

Meski demikian, hingga kini belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan akibat insiden tersebut.

Sebelumnya, Bahrain menjadi tuan rumah pertemuan para Menteri Luar Negeri Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) bersama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Dalam pertemuan itu, negara-negara Teluk menyerukan penghentian serangan Iran serta menuntut Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional.

Iran Klaim Serang Target Militer AS

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui kantor berita resmi IRNA mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi milik "tentara teroris Amerika" di kawasan Timur Tengah.

Namun, Iran tidak menjelaskan lokasi yang menjadi sasaran serangan tersebut.

Sebagai balasan, militer AS menyebut telah menghancurkan sejumlah lokasi peluncuran rudal, fasilitas drone, dan radar pantai milik Iran dalam operasi udara semalam.

Negosiasi Damai Terancam Gagal

Serangan terbaru ini kembali menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik AS-Iran dapat kembali membesar, meskipun kedua negara sebelumnya telah mencapai kesepakatan sementara untuk menghentikan pertempuran dan membuka jalan menuju perjanjian damai permanen.

Dalam kesepakatan interim tersebut, Washington dan Teheran memiliki waktu 60 hari untuk menyepakati berbagai isu penting, termasuk keamanan pelayaran di Selat Hormuz, program nuklir Iran, serta stok uranium yang diperkaya.

Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin proses negosiasi memperingatkan bahwa Iran seharusnya memilih jalur diplomasi apabila memiliki keberatan terhadap isi kesepakatan.

Menurutnya, setiap tindakan kekerasan akan mendapat respons yang setimpal dari Amerika Serikat.

Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas Dunia

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, Pusat Informasi Maritim Gabungan yang diawasi Angkatan Laut AS mengumumkan perluasan jalur pelayaran di dekat pantai Oman agar kapal dapat melintas dua arah.

Langkah tersebut diperkirakan memicu ketegangan baru dengan Iran yang menganggap Selat Hormuz berada di bawah pengaruhnya.

Sebelumnya, pejabat parlemen Iran Ebrahim Azizi menegaskan bahwa setiap kapal yang melintas harus mematuhi aturan Teheran.

Namun Amerika Serikat dan negara-negara Teluk menolak klaim tersebut karena Selat Hormuz diakui sebagai jalur pelayaran internasional.

Pusat Informasi Maritim Gabungan juga memperingatkan bahwa ancaman terhadap kapal-kapal komersial masih sangat tinggi. Para pelaut diminta mewaspadai kemungkinan adanya ranjau laut serta peningkatan aktivitas militer di kawasan.

Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional (IMO) menghentikan sementara operasi evakuasi kapal hingga terdapat jaminan keamanan. Meski demikian, sekitar 115 kapal dilaporkan telah berhasil keluar dari Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.

Sumber: PBS

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.