Mengapa Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem? Ini Penyebab, Dampak, dan Penjelasan Ilmiahnya

AKURAT.CO Eropa dilanda gelombang panas ekstrem dengan suhu yang memecahkan rekor dan berdampak luas terhadap kesehatan, transportasi, hingga aktivitas masyarakat.
Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai salah satu gelombang panas terbesar dalam sejarah modern yang diperparah oleh perubahan iklim.
Lantas, apa penyebab Eropa mengalami gelombang panas yang begitu ekstrem? Berikut penjelasan lengkap beserta faktor-faktor yang memengaruhinya.
Baca Juga: Partai Buruh Pecah
Penyebab Eropa Alami Gelombang Panas
Eropa saat ini sedang menghadapi gelombang panas yang disebut sebagai salah satu yang paling parah dan paling luas dalam sejarah modern.
Menurut para ilmuwan, kondisi cuaca ekstrem ini sangat mungkin dipicu oleh perubahan iklim akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam.
Suhu udara di berbagai negara Eropa terus meningkat hingga jauh di atas normal. Hampir setengah dari sekitar 850 kota terbesar di Eropa mengalami tingkat stres panas tertinggi yang pernah tercatat.
Stres panas adalah kondisi ketika suhu udara yang sangat tinggi dipadukan dengan kelembapan tinggi, sehingga tubuh menjadi lebih sulit mendinginkan diri melalui keringat. Akibatnya, risiko gangguan kesehatan seperti dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga serangan panas (heatstroke) meningkat.
Baca Juga: Mendagri Instruksikan Kepala Daerah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Dampak El Nino
Sebagai contoh, Inggris mencatat rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni, yaitu mencapai 36,7 derajat Celsius di Somerset pada 25 Juni. Sementara itu, sejumlah negara di Eropa Barat juga mengalami peningkatan kasus darurat medis akibat cuaca panas.
Gelombang panas bukan hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mengganggu berbagai aktivitas sehari-hari. Beberapa sekolah terpaksa ditutup, rumah sakit menghadapi lonjakan jumlah pasien, dan sejumlah layanan transportasi mengalami penundaan hingga pembatalan.
Sebelumnya, pada musim panas tahun 2022, lebih dari 60 ribu orang di Eropa dilaporkan meninggal akibat cuaca panas ekstrem. Meski jumlah korban pada gelombang panas kali ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, para peneliti memperkirakan dampaknya juga akan sangat besar.
Hasil analisis dari kelompok ilmuwan World Weather Attribution (WWA) menunjukkan bahwa gelombang panas saat ini menjadi jauh lebih parah karena pemanasan global yang terus meningkat.
Mereka memperkirakan, jika kondisi cuaca yang sama terjadi pada tahun 2003, suhu yang dirasakan kemungkinan sekitar 2 derajat Celsius lebih rendah dibanding sekarang karena saat itu tingkat pemanasan global belum sebesar saat ini.
Bahkan jika dibandingkan dengan gelombang panas besar yang terjadi pada tahun 1976, suhu saat ini diperkirakan masih sekitar 3,5 derajat Celsius lebih tinggi.
Selain itu, suhu malam yang tetap panas hingga membuat banyak orang kesulitan tidur kini diperkirakan 100 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan dua dekade lalu.
Para ilmuwan mengingatkan bahwa tanpa upaya serius untuk mengurangi emisi karbon dan mengatasi perubahan iklim, gelombang panas di masa depan diperkirakan akan menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih ekstrem.
“Ini adalah gelombang panas paling parah dan paling luas yang pernah memengaruhi wilayah sebesar ini di Eropa,” kata Dr Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London sekaligus anggota tim WWA, dikutip dari The Guardian.
Tim WWA melakukan penelitian dengan menggabungkan data suhu yang telah tercatat di lapangan dan hasil prediksi cuaca. Penelitian ini berfokus pada tiga hari dengan suhu paling tinggi di wilayah Eropa Barat yang sedang mengalami fenomena heat dome atau kubah panas.
Melalui metode penelitian ilmiah yang telah diperiksa dan ditinjau oleh para ahli independen (peer review), tim WWA menyimpulkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia merupakan penyebab utama yang membuat gelombang panas kali ini menjadi jauh lebih parah.
=====
Para peneliti juga menegaskan bahwa gelombang panas ini bukan disebabkan oleh variasi alami cuaca semata, termasuk bukan karena pengaruh fenomena El Niño yang berkembang di Samudra Pasifik.
Menurut para ilmuwan, pola tekanan udara tinggi yang menahan udara panas di atas wilayah Eropa sekaligus menarik udara panas dari Gurun Sahara sebenarnya merupakan fenomena yang cukup sering terjadi pada musim panas.
Namun, karena suhu rata-rata Bumi kini sudah meningkat akibat pemanasan global, udara panas yang datang menjadi lebih panas daripada sebelumnya.
Inilah yang menyebabkan gelombang panas kali ini terasa lebih ekstrem, berlangsung lebih lama, dan berdampak lebih besar terhadap kesehatan masyarakat maupun aktivitas sehari-hari.
Penyebab Gelombang Panas
1. Perubahan Iklim
Meningkatnya emisi gas rumah kaca membuat suhu rata-rata Bumi terus naik, sehingga cuaca panas menjadi lebih ekstrem dan berlangsung lebih lama.
2. Fenomena Heat Dome (Kubah Panas)
Heat dome terjadi ketika tekanan udara tinggi menutupi suatu wilayah dan memerangkap udara panas di dekat permukaan Bumi. Udara panas tidak bisa naik atau keluar, sehingga suhu terus meningkat dari hari ke hari.
3. Massa Udara Panas
Gelombang panas juga dapat terjadi ketika angin membawa massa udara panas dari daerah yang lebih kering atau gurun menuju wilayah lain. Contohnya, udara panas dari Gurun Sahara sering meningkatkan suhu di sejumlah negara Eropa pada musim panas.
4. Langit Cerah dan Minim Hujan
Saat langit cerah tanpa banyak awan, sinar matahari dapat langsung memanaskan permukaan Bumi. Jika kondisi ini berlangsung beberapa hari dan curah hujan rendah, suhu udara akan terus meningkat.
5. Tanah yang Kering
Tanah yang kekurangan air tidak mampu memberikan efek pendinginan melalui penguapan. Akibatnya, lebih banyak panas tersimpan di permukaan sehingga suhu udara menjadi semakin tinggi.
6. Efek Pulau Panas Perkotaan (Urban Heat Island)
Bangunan beton, jalan beraspal, dan minimnya pepohonan menyerap panas pada siang hari lalu melepaskannya kembali pada malam hari. Kondisi ini membuat suhu di kota tetap tinggi, bahkan setelah matahari terbenam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







