Iran Tolak Campur Tangan Asing di Selat Hormuz, Bantah Ada Negosiasi dengan AS

AKURAT.CO Pemerintah Iran menegaskan tidak akan mengizinkan negara lain terlibat dalam upaya pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Di saat yang sama, Teheran juga membantah adanya jadwal perundingan dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat, memperlihatkan bahwa jalan menuju penyelesaian konflik di kawasan Teluk masih dipenuhi ketidakpastian.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, pada Senin (29/6), sebagai respons atas pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang sebelumnya menyebut Prancis dan Oman tengah bekerja sama dengan sejumlah mitra internasional untuk membersihkan ranjau di Selat Hormuz.
Namun, Iran menegaskan bahwa setiap operasi di perairan strategis tersebut hanya dapat dilakukan oleh otoritas Iran.
Iran Peringatkan Prancis
Gharibabadi menyebut situasi keamanan di Selat Hormuz masih sangat sensitif dan memperingatkan Prancis agar tidak memperkeruh keadaan.
"Situasi saat ini sensitif dan kompleks. Kami dengan tegas menyarankan Prancis untuk tidak memperumit keadaan dengan tindakan provokatif," tulis Gharibabadi melalui akun X.
Pernyataan itu kembali menunjukkan penolakan Teheran terhadap keterlibatan pihak asing di salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Iran Bantah Ada Perundingan dengan Amerika Serikat
Di tengah berbagai upaya diplomatik yang dimediasi Oman dan Pakistan, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei memastikan belum ada agenda pertemuan antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan.
Pernyataan tersebut sekaligus membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut Iran telah mengajukan permintaan untuk menggelar pertemuan dengan pejabat Amerika.
Baghaei menjelaskan bahwa Iran memang akan mengirim delegasi teknis ke Qatar pekan ini. Namun, kunjungan tersebut tidak memiliki kaitan dengan pejabat AS yang kemungkinan juga berada di negara Teluk tersebut.
Menurutnya, Teheran belum memulai negosiasi menuju kesepakatan final karena pemerintah masih memprioritaskan pelaksanaan sejumlah poin dalam nota kesepahaman yang telah disepakati sebelumnya.
Qatar Hentikan Sementara Aktivitas Kapal Kecil
Meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk juga mendorong Qatar mengambil langkah antisipasi.
Pemerintah Qatar mengumumkan penghentian sementara aktivitas kapal nelayan, kapal kecil, jet ski, dan berbagai kendaraan laut lainnya hingga waktu yang belum ditentukan.
Kebijakan tersebut tidak berlaku bagi kapal dagang internasional maupun kapal yang beroperasi berdasarkan konvensi pelayaran internasional.
Otoritas transportasi Qatar tidak menjelaskan alasan resmi di balik keputusan tersebut. Namun, pengumuman itu muncul sehari setelah Doha mengonfirmasi seorang warganya meninggal dunia akibat terkena serpihan ledakan yang berkaitan dengan operasi militer di kawasan, setelah kapal yang ditumpanginya sempat dilaporkan hilang.
Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian sejak konflik bersenjata pecah pada akhir Februari lalu.
Serangan Iran terhadap sejumlah kapal tanker serta ancaman terhadap jalur pelayaran telah mengganggu distribusi minyak dunia dan memicu lonjakan kekhawatiran di pasar energi global.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran dilaporkan dua kali menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz, termasuk sebuah kapal tanker yang mengangkut minyak mentah asal Qatar. Insiden tersebut memicu serangan balasan Amerika Serikat serta meningkatkan kekhawatiran bahwa upaya mengakhiri konflik melalui jalur diplomatik dapat kembali gagal.
Selain itu, Iran juga melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Bahrain serta Kuwait pada Minggu (28/6), memperluas eskalasi konflik di kawasan Teluk.
Iran dan Oman Bahas Keamanan Selat Hormuz
Di tengah meningkatnya ketegangan, pejabat Iran dan Oman menggelar pembicaraan di Muscat pada Senin dengan fokus utama membahas situasi keamanan di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama bagi sebagian besar ekspor minyak global. Meski berada di wilayah perairan Iran dan Oman, jalur ini selama bertahun-tahun diakui sebagai rute pelayaran internasional yang sangat vital bagi perdagangan energi dunia.
Sumber: Telegraphindia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kementerian ESDM: Tabung CNG 3 Kg Tak Perlu Dibeli, Masyarakat Cukup Tukar Isi Gas
- 2Trump Perintahkan Serangan Balasan, AS Kembali Gempur Iran
- 3Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 Rilis! Ini Jadwal Laga Big Match yang Wajib Tonton
- 4Edwin van Der Sar Harap Timnas Indonesia Bisa Segera Tampil di Piala Dunia
- 5KPK Dikabarkan Gelar OTT di Kuansing, Sejumlah Pejabat Pemkab Diamankan
- 6Masjid Hajjah Yuliana Dibangun di Melbourne, Simbol Bakti kepada Orang Tua dan Gotong Royong Diaspora
- 7Afrika Selatan vs Kanada: Gol Menit Akhir Stephen Eustaquio Bawa Tuan Rumah ke 32 Besar
- 8Israel Resmi Akui Genosida Armenia, Turki Murka Sebut Upaya Tutupi Kejahatan di Gaza
- 9Japto Soerjosoemarno Penuhi Panggilan Ulang KPK Terkait Kasus Gratifikasi Tambang Rita Widyasari
- 10Harga Emas Pegadaian Hari Ini, 30 Juni 2026: Turun di Akhir Bulan






