Bentrokan Berdarah Guncang Iran Barat, Pemberontakan Kurdi Kembali Menguat di Tengah Negosiasi AS-Iran?

AKURAT.CO Ketegangan kembali memanas di wilayah barat Iran yang mayoritas dihuni etnis Kurdi. Serangkaian serangan bersenjata yang menewaskan personel keamanan Iran memunculkan dugaan bahwa pemberontakan Kurdi yang selama bertahun-tahun meredup kini mulai memasuki fase baru.
Situasi tersebut berkembang ketika Iran dan Amerika Serikat masih berupaya melanjutkan pembicaraan diplomatik yang dinilai sangat rapuh. Para analis menilai meningkatnya aktivitas kelompok bersenjata Kurdi berpotensi menjadi tantangan baru bagi stabilitas keamanan Teheran.
Sejumlah Anggota Garda Revolusi Iran Tewas
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah bentrokan dilaporkan terjadi di berbagai wilayah barat dan barat laut Iran.
Laporan media internasional menyebut sedikitnya empat personel keamanan Iran tewas dalam dua serangan terpisah pada Selasa waktu setempat.
Sementara itu, kantor berita Iran Tasnim melaporkan dua anggota Garda Revolusi Iran (IRGC) tewas dan dua lainnya terluka akibat serangan bersenjata di Kota Paveh, Provinsi Kermanshah, yang berbatasan langsung dengan Irak.
Di kota Baneh, kelompok bersenjata juga menyerang pos pemeriksaan polisi. Serangan tersebut menewaskan dua polisi serta melukai tiga warga lainnya, termasuk seorang anak perempuan berusia tiga tahun.
Laporan lain menyebut bentrokan juga terjadi di wilayah Marivan dan Mahabad, yang selama ini dikenal sebagai pusat aktivitas masyarakat Kurdi di Iran.
Kelompok "Sun of Hope" Mengaku Bertanggung Jawab
Serangan di Paveh diklaim dilakukan oleh kelompok bersenjata yang relatif baru bernama Xore Heva atau "Sun of Hope".
Kelompok tersebut menyatakan aksi mereka merupakan balasan atas tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstrasi yang pecah setelah kematian Mahsa Amini pada 2022.
Mahsa Amini meninggal dunia setelah ditahan oleh polisi moral Iran karena diduga melanggar aturan wajib berhijab. Peristiwa itu memicu demonstrasi nasional yang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pemerintah Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Mengapa Wilayah Kurdi Selalu Bergolak?
Etnis Kurdi merupakan salah satu kelompok tanpa negara terbesar di Timur Tengah. Populasinya tersebar di Iran, Irak, Suriah, dan Turki.
Di Iran, masyarakat Kurdi banyak tinggal di wilayah pegunungan barat dan barat laut. Selama puluhan tahun, kelompok-kelompok Kurdi menuduh pemerintah melakukan diskriminasi politik, penangkapan, eksekusi, hingga operasi militer di kawasan tersebut.
Sebaliknya, pemerintah Iran menganggap sejumlah organisasi Kurdi sebagai kelompok separatis maupun teroris yang mengancam keutuhan negara.
Salah satu kelompok yang paling sering terlibat bentrokan dengan Garda Revolusi Iran adalah Party for a Free Life in Kurdistan (PJAK), yang memiliki sayap militer bernama YRK (East Kurdistan Defense Units).
Kelompok HAM: Situasi Bisa Berubah Menjadi Eskalasi Besar
Kepala hubungan internasional organisasi HAM Kurdi Hiwa, Jino Victoria Doabi, menilai bentrokan terbaru tidak lagi terlihat sebagai insiden yang berdiri sendiri.
Menurutnya, meluasnya lokasi bentrokan mengindikasikan adanya potensi eskalasi yang lebih besar.
Ia juga menyebut masyarakat Kurdi semakin frustrasi karena merasa pemerintah Iran terus melakukan operasi militer terhadap wilayah Kurdi tanpa mendapat tekanan berarti dari komunitas internasional.
Negosiasi AS-Iran Ikut Menjadi Sorotan
Gelombang kekerasan ini terjadi bersamaan dengan langkah Iran melanjutkan nota kesepahaman dengan Amerika Serikat yang menuai kritik dari kalangan oposisi Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa kesepakatan tersebut telah memperoleh persetujuan dari pemimpin tertinggi Iran setelah adanya jaminan bahwa kepentingan nasional Iran tetap terlindungi.
Namun, sejumlah kelompok oposisi, termasuk organisasi-organisasi Kurdi, menilai setiap bentuk kesepakatan dengan pemerintah Iran hanya akan memperkuat posisi rezim dan memperlemah perjuangan kelompok-kelompok yang selama ini menentangnya.
Pernah Disebut Berpotensi Menjadi Front Baru Melawan Iran
Awal tahun 2026, berbagai laporan juga sempat menyebut kelompok-kelompok bersenjata Kurdi dipertimbangkan sebagai salah satu tekanan strategis terhadap Iran saat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat.
Beberapa media internasional melaporkan adanya pembentukan aliansi sejumlah kelompok oposisi Kurdi, termasuk PJAK, untuk menghadapi pemerintah Iran apabila konflik regional meluas.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti bahwa kelompok-kelompok tersebut benar-benar melancarkan operasi militer besar-besaran.
Iran Menghadapi Tekanan dari Dalam Negeri
Rangkaian bentrokan terbaru belum dapat dipastikan sebagai awal pemberontakan berskala besar. Namun penyebaran konflik ke sejumlah wilayah Kurdi, klaim keterlibatan kelompok militan, serta meningkatnya penolakan terhadap proses diplomasi antara Washington dan Teheran menunjukkan bahwa kawasan perbatasan barat Iran kembali menjadi titik rawan.
Jika situasi terus memburuk, pemerintah Iran berpotensi menghadapi tekanan ganda, yakni menjaga stabilitas keamanan di dalam negeri sekaligus mempertahankan momentum negosiasi diplomatik dengan Amerika Serikat.
Sumber: Skynews
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Perintahkan Serangan Balasan, AS Kembali Gempur Iran
- 2Daftar Tim Lolos 16 Besar Piala Dunia 2026 dan Jadwal Lengkap Pertandingan Babak Knockout
- 3Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 Rilis! Ini Jadwal Laga Big Match yang Wajib Tonton
- 4Bentrokan Berdarah Guncang Iran Barat, Pemberontakan Kurdi Kembali Menguat di Tengah Negosiasi AS-Iran?
- 5Update Terbaru Bagan 16 Besar Piala Dunia 2026: Jerman dan Belanda Gugur
- 6KPK Dikabarkan Gelar OTT di Kuansing, Sejumlah Pejabat Pemkab Diamankan
- 7Israel Resmi Akui Genosida Armenia, Turki Murka Sebut Upaya Tutupi Kejahatan di Gaza
- 8Afrika Selatan vs Kanada: Gol Menit Akhir Stephen Eustaquio Bawa Tuan Rumah ke 32 Besar
- 9Prabowo: Kita Hormati Kritik, Tapi Jangan Sampai Demokrasi Dirusak Kepentingan Asing
- 106 Pesan Penting Presiden Prabowo Buat Polri: Jaga Kepercayaan, Jangan Menyusahkan Rakyat








