Iran Bersikeras Kuasai Selat Hormuz, Siap Kenakan Tarif Kapal Asing, AS Menolak Keras

AKURAT.CO Iran dilaporkan tengah berupaya mendapatkan pengakuan internasional atas kendalinya terhadap Selat Hormuz. Salah satunya mendapatkan hak untuk mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Mengutip laporan Reuters yang mengacu pada dua sumber senior Iran, Teheran bahkan disebut siap menggunakan kekuatan militer apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Keinginan itu menjadi salah satu isu utama dalam pembicaraan damai antara Iran dan Amerika Serikat setelah konflik bersenjata selama tiga bulan yang berakhir melalui kesepakatan gencatan senjata sementara pada 17 Juni lalu.
Kesepakatan Sementara Berlaku 60 Hari
Dalam perjanjian interim tersebut, Iran sepakat mengizinkan kapal-kapal internasional melintas bebas di Selat Hormuz selama 60 hari.
Namun, menurut sumber Reuters, pemerintah Iran menilai isi kesepakatan itu tetap memberikan kewenangan kepada Teheran untuk menentukan kapal mana yang boleh melintas serta jalur pelayaran yang digunakan.
Iran juga disebut belum bersedia membahas isu-isu lain, termasuk program nuklirnya, sebelum status pengelolaan Selat Hormuz mendapat pengakuan permanen.
Iran Berencana Kenakan Tarif Kapal Mulai Pertengahan Agustus
Apabila kesepakatan sementara tidak diperpanjang, Iran dikabarkan akan mulai mengenakan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz mulai pertengahan Agustus.
Hingga kini pemerintah Iran belum mengungkap besaran tarif maupun mekanisme pemungutannya.
Langkah tersebut akan menjadi kebijakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selama puluhan tahun, kapal-kapal internasional dapat melintasi Selat Hormuz tanpa dikenai biaya, meski kawasan itu kerap menjadi titik ketegangan geopolitik.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan energi global.
Amerika Serikat Tolak Rencana Iran
Rencana Iran langsung berbenturan dengan sikap Amerika Serikat.
Presiden Donald Trump sebelumnya menegaskan bahwa tidak boleh ada pungutan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, kecuali jika diputuskan oleh Amerika Serikat sendiri.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa tidak ada negara yang berhak memblokir jalur pelayaran internasional ataupun memungut biaya atas kapal yang melintas di perairan tersebut.
Ketegangan juga meningkat setelah Iran dilaporkan melepaskan tembakan ke arah empat kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui sisi perairan Oman tanpa meminta izin kepada Teheran. Insiden itu memicu baku tembak singkat dengan pasukan Amerika Serikat.
Iran Sebut Ini Kesempatan Bersejarah
Seorang pejabat senior Iran mengatakan negaranya tidak ingin kembali ke kondisi sebelum perang.
Menurutnya, keberhasilan Iran bertahan dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel menjadi peluang strategis untuk memperkuat posisi jangka panjangnya di kawasan.
Teheran diyakini berharap negara-negara pengguna jalur pelayaran, termasuk Amerika Serikat, pada akhirnya menerima pengelolaan Selat Hormuz oleh Iran karena biaya konflik yang terus meningkat.
Negosiasi Tingkat Tinggi Masih Tertunda
Di sisi lain, Iran pada Selasa menyatakan belum bersedia menggelar pertemuan dengan utusan senior Amerika Serikat, Jared Kushner dan Steve Witkoff, yang berada di Doha.
Pemerintah Iran hanya membuka peluang untuk pembahasan teknis di tingkat yang lebih rendah, sembari menegaskan bahwa seluruh ketentuan gencatan senjata 17 Juni harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum pembicaraan lebih luas, termasuk mengenai program nuklir Iran.
Pakar: Risiko Konflik Kembali Memanas Masih Tinggi
Guru Besar Sejarah Modern dari St Andrews University, Ali Ansari, menilai Iran kemungkinan mengambil langkah yang terlalu jauh.
Menurutnya, peluang konflik kembali pecah masih sangat besar karena baik Iran maupun Amerika Serikat sama-sama merasa tidak mengalami kekalahan dalam perang sebelumnya.
"Prospek konflik ini kembali menyala jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan banyak orang, karena tidak ada pihak yang merasa kalah," ujarnya.
Sumber: Outlookindia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Trump Perintahkan Serangan Balasan, AS Kembali Gempur Iran
- 2Daftar Tim Lolos 16 Besar Piala Dunia 2026 dan Jadwal Lengkap Pertandingan Babak Knockout
- 3Bentrokan Berdarah Guncang Iran Barat, Pemberontakan Kurdi Kembali Menguat di Tengah Negosiasi AS-Iran?
- 4Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 Rilis! Ini Jadwal Laga Big Match yang Wajib Tonton
- 5Update Terbaru Bagan 16 Besar Piala Dunia 2026: Jerman dan Belanda Gugur
- 6KPK Dikabarkan Gelar OTT di Kuansing, Sejumlah Pejabat Pemkab Diamankan
- 7Israel Resmi Akui Genosida Armenia, Turki Murka Sebut Upaya Tutupi Kejahatan di Gaza
- 8Afrika Selatan vs Kanada: Gol Menit Akhir Stephen Eustaquio Bawa Tuan Rumah ke 32 Besar
- 9Presiden Prabowo Terima Medali Loka Praja Samrakshana, Simbol Perlindungan dan Pengayoman pada Masyarakat
- 10Prabowo: Kita Hormati Kritik, Tapi Jangan Sampai Demokrasi Dirusak Kepentingan Asing







