Akurat Logo

Setelah Serangan Terbaru AS, Iran Nyatakan Tak Lagi Terikat Perjanjian Damai, Siap Kuasai Penuh Selat Hormuz

Fitra Iskandar | 15 Juli 2026, 13:40 WIB
Setelah Serangan Terbaru AS, Iran Nyatakan Tak Lagi Terikat Perjanjian Damai, Siap Kuasai Penuh Selat Hormuz
Setelah Serangan Terbaru AS, Iran Nyatakan Tak Lagi Terikat Perjanjian Damai, Siap Kuasai Penuh Selat Hormuz. Foto: Ilustrasi

AKURAT.CO Teheran menyatakan tidak lagi terikat dengan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) perdamaian yang ditandatangani pada 17 Juni lalu. Pernyataan itu disampaikan menyusul gelombang serangan udara terbaru militer AS terhadap sejumlah target militer Iran dan dimulainya kembali blokade laut di sekitar pelabuhan-pelabuhan Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa tindakan Washington telah membatalkan secara sepihak kesepakatan yang sebelumnya disusun untuk menghentikan konflik dan membuka jalan menuju perundingan damai.

"Amerika Serikat tidak hanya melanggar MoU. Dengan diberlakukannya blokade laut malam ini, perjanjian itu pada dasarnya telah dibatalkan. Iran tidak lagi menganggap dirinya terikat dengan memorandum tersebut," kata Gharibabadi dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran.

Iran Siap Kendalikan Seluruh Selat Hormuz

Seiring memburuknya situasi, Teheran juga mengumumkan sikap yang lebih tegas terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan minyak dunia.

Gharibabadi menyebut kondisi perang membuat Iran harus mengambil kendali penuh atas seluruh Selat Hormuz, meski dalam situasi normal pengelolaan jalur tersebut dilakukan bersama Oman.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, pemerintah Iran menyatakan akan menegakkan kedaulatannya atas Selat Hormuz "apa pun konsekuensinya".

Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap kemungkinan terganggunya arus pengiriman minyak dan gas alam dari kawasan Teluk Persia yang selama ini sangat bergantung pada jalur tersebut.

AS Lanjutkan Serangan dan Blokade Laut

Sebelumnya, militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran yang disebut berkaitan dengan ancaman terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Serangan itu dilakukan bersamaan dengan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.

Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan Washington akan bertindak sebagai "Guardian of the Hormuz Strait" atau penjaga Selat Hormuz untuk menjamin keamanan jalur pelayaran internasional.

Trump Ancam Serang Infrastruktur Vital Iran

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump memperingatkan bahwa operasi militer Amerika Serikat akan terus diperluas apabila Iran menolak kembali ke meja perundingan.

Ia menyebut Washington telah menyiapkan daftar target strategis berikutnya yang mencakup fasilitas energi, pembangkit listrik hingga jembatan-jembatan penting di Iran.

"Saya akan menyimpan target energi untuk tahap akhir. Berikutnya pembangkit listrik, kemudian jembatan-jembatan. Kecuali mereka kembali ke meja perundingan," kata Trump.

Iran Tegaskan Tak Akan Meminta Negosiasi

Di sisi lain, Teheran menutup peluang dialog dalam waktu dekat.

Gharibabadi menegaskan Iran tidak akan meminta pembicaraan dengan Amerika Serikat meski tekanan militer terus meningkat.

"Iran tidak akan pernah meminta negosiasi dengan Amerika Serikat," tegasnya.

Masa Depan Perdamaian Kian Suram

MoU yang ditandatangani pada 17 Juni lalu semula dirancang sebagai gencatan senjata selama 60 hari untuk meredakan konflik yang pecah sejak akhir Februari.

Kesepakatan tersebut mencakup upaya memulihkan keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz, menurunkan eskalasi militer, serta membuka kembali perundingan mengenai program nuklir Iran.

Namun, serangkaian serangan udara terbaru, blokade laut, dan saling ancam antara Washington dan Teheran kini membuat prospek perdamaian semakin tidak pasti, sekaligus meningkatkan risiko pecahnya konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Sumber: Indiatoday

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.