Survei: Popularitas Trump Anjlok ke Titik Terendah, Mayoritas Warga AS Tolak Perang Melawan Iran

AKURAT.CO Popularitas Presiden Amerika Serikat Donald Trump merosot ke level terendah sejak kembali menjabat. Survei nasional terbaru yang dirilis Quinnipiac University pada Rabu (29/7/2026) menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak puas dengan kinerja Trump, terutama terkait kebijakan perang terhadap Iran.
Hasil jajak pendapat tersebut mencatat hanya 32 persen pemilih terdaftar yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump sebagai presiden. Sebaliknya, 58 persen responden mengaku tidak puas, menjadikannya tingkat persetujuan terendah yang pernah dicatat dalam survei Quinnipiac selama masa kepemimpinannya.
Mayoritas Warga AS Tolak Serangan Militer ke Iran
Survei juga mengungkap penolakan publik terhadap operasi militer Amerika Serikat di Iran semakin menguat.
Sebanyak 60 persen responden menyatakan menentang aksi militer AS terhadap Iran, sedangkan hanya 34 persen yang mendukung langkah tersebut.
Penolakan paling besar datang dari pemilih Partai Demokrat, di mana 89 persen menolak operasi militer tersebut. Sementara itu, 69 persen pemilih independen juga menyatakan keberatan. Di kubu Partai Republik, dukungan terhadap kebijakan Trump masih cukup kuat dengan 74 persen responden mendukung operasi militer terhadap Iran.
Publik Menolak Pengiriman Pasukan Darat
Tidak hanya menolak serangan militer, mayoritas warga Amerika juga menentang rencana pengiriman pasukan darat ke Iran.
Survei menunjukkan 74 persen responden menolak pengerahan tentara AS ke wilayah Iran, sedangkan hanya 19 persen yang mendukung opsi tersebut.
Mayoritas responden juga memperkirakan konflik tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Sebanyak 55 persen meyakini perang akan berlangsung sekitar satu tahun atau lebih, sementara 35 persen bahkan memperkirakan konflik akan berlanjut melampaui satu tahun.
Di sisi lain, persepsi publik terhadap jalannya perang juga cenderung negatif. Sebanyak 54 persen responden menilai Amerika Serikat tidak berada di pihak yang memenangkan konflik dengan Iran. Hanya 36 persen yang berpendapat AS berada dalam posisi unggul.
Penilaian Trump di Bidang Ekonomi Ikut Memburuk
Selain isu perang, Trump juga mendapat rapor merah dalam berbagai sektor kebijakan domestik.
Dalam bidang ekonomi, hanya 34 persen responden yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump, sedangkan 62 persen mengaku tidak puas.
Survei tersebut juga menunjukkan 59 persen warga Amerika menilai kondisi ekonomi terus memburuk. Bahkan, 49 persen responden mengatakan kondisi keuangan pribadi mereka kini lebih buruk dibandingkan satu tahun lalu.
Sementara itu, pada isu imigrasi yang selama ini menjadi salah satu agenda utama Trump, tingkat kepuasan publik juga masih berada di bawah angka mayoritas. Sebanyak 40 persen responden menyatakan puas terhadap penanganan isu imigrasi, sedangkan 57 persen menyatakan tidak puas.
Survei nasional Quinnipiac University tersebut melibatkan 963 pemilih terdaftar di seluruh Amerika Serikat dan dilakukan pada 23 hingga 27 Juli.
Sumber: Anadolu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







