Akurat Logo

Gelombang Panas Eropa Makin Sering dan Brutal, WMO Ungkap Perubahan Drastis Sejak 1976

Fitra Iskandar | 12 Agustus 2026, 09:46 WIB
Gelombang Panas Eropa Makin Sering dan Brutal, WMO Ungkap Perubahan Drastis Sejak 1976
Ilustrasi gelombang panas - Unsplash

AKURAT.CO Gelombang panas ekstrem di Eropa kini semakin sering terjadi, berlangsung lebih lama, mencakup wilayah yang lebih luas, dan memiliki intensitas yang lebih tinggi. Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) menyebut perubahan tersebut merupakan salah satu dampak nyata dari pemanasan global akibat perubahan iklim.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Informasi Iklim WMO, John Kennedy, dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa.

Menurut Kennedy, sejumlah wilayah Eropa saat ini menghadapi gelombang panas kelima sepanjang musim panas. Kondisi tersebut diperparah oleh kekeringan, kebakaran hutan, serta suhu yang memecahkan rekor di sejumlah kawasan.

"Panas ekstrem menjadi lebih sering, lebih intens, berlangsung lebih lama, dan mencakup wilayah yang jauh lebih luas dibandingkan iklim yang lebih sejuk pada masa lalu," kata Kennedy.

Eropa menjadi perhatian khusus karena merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia.

Mengapa Gelombang Panas Eropa Makin Parah?

WMO menjelaskan, kondisi panas ekstrem yang terjadi saat ini merupakan hasil interaksi antara pola tekanan udara tinggi yang bertahan lama di belahan Bumi utara dan suhu global yang semakin panas.

Sistem tekanan tinggi berfungsi seperti "penutup". Kondisi ini membuat udara panas terperangkap, mengurangi tutupan awan, sekaligus menghambat masuknya udara yang lebih dingin.

Akibatnya, suhu dapat terus meningkat di wilayah yang sangat luas selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Menariknya, fenomena El Niño tidak menjadi penyebab utama panas ekstrem di Eropa tahun ini. Kennedy mengatakan kondisi di kawasan Pasifik tropis saat ini berada dalam fase netral.

Dibandingkan 1976, Kondisinya Kini Berubah Total

WMO juga membandingkan situasi sekarang dengan musim panas 1976, yang pada saat itu juga ditandai pola tekanan tinggi dan rendah yang relatif mirip.

Namun, dampaknya sangat berbeda.

Kennedy mengatakan pada 1976 hanya terdapat beberapa wilayah yang mengalami suhu di atas rata-rata karena kondisi iklim global saat itu masih jauh lebih dingin.

Kini kondisinya justru terbalik.

Sebagian besar wilayah dunia mengalami suhu di atas rata-rata, sementara kawasan yang lebih dingin hanya menjadi pengecualian.

Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana pemanasan global telah mengubah "titik awal" kondisi iklim sebelum suatu gelombang panas terjadi.

Laut yang Makin Panas Ikut Memicu Suhu Ekstrem

Kondisi laut juga ikut memperparah panas di daratan Eropa.

Kennedy menyebut suhu permukaan laut yang sangat tinggi, terutama di Laut Mediterania dan perairan di sebelah barat Eropa, memberikan tambahan panas yang kemudian memperkuat kondisi atmosfer di atas daratan.

Selain itu, tanah yang mengering akibat kekeringan membuat suhu semakin mudah melonjak.

Ketika kelembapan tanah habis, energi matahari lebih banyak digunakan untuk memanaskan permukaan tanah dibandingkan menguapkan air.

"Semua faktor ini datang bersamaan dan menghasilkan panas rekor yang kita lihat tahun ini," ujar Kennedy.

Ancaman Gelombang Panas Diperkirakan Semakin Besar

Fenomena tersebut menjadi peringatan bahwa gelombang panas ekstrem tidak lagi dapat dipandang sebagai kejadian langka.

Pemanasan global membuat suhu dasar bumi semakin tinggi. Ketika kondisi atmosfer tertentu kemudian memicu gelombang panas, suhu dapat terdorong jauh lebih tinggi dan bertahan lebih lama.

Bagi Eropa, kondisi ini juga meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, gangguan kesehatan, tekanan terhadap sektor energi, serta kerusakan pertanian.

Perbandingan antara 1976 dan kondisi saat ini menunjukkan satu perubahan penting: pola cuaca tertentu mungkin pernah terjadi sebelumnya, tetapi dunia yang menjadi latar belakangnya kini jauh lebih panas.

Sumber: Koreaherald

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.