Iran Ubah Taktik Serangan, Stok Rudal Patriot AS Menipis: 65 Persen Interceptor Sudah Terpakai

AKURAT.CO Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase baru ketika Teheran disebut semakin mampu menyesuaikan taktik serangannya untuk menembus sistem pertahanan udara Amerika di Timur Tengah.
Perubahan strategi Iran tersebut membuat AS harus mengerahkan lebih banyak rudal pencegat (interceptor) Patriot yang jumlahnya kini semakin terbatas. Laporan terbaru bahkan menunjukkan sekitar 65 persen persediaan interceptor Patriot AS telah digunakan sejak perang dimulai pada Februari 2026.
Perkembangan ini menjadi perhatian serius Pentagon karena sistem Patriot merupakan salah satu lapisan utama pertahanan terhadap rudal balistik dan ancaman udara lainnya.
Iran Disebut Semakin Mahir Menembus Pertahanan AS
Menurut laporan The New York Times, selama lima hari pada Juni, Iran melancarkan gelombang serangan drone dan rudal terhadap pasukan AS di tiga pangkalan di Yordania.
Serangan dilakukan dengan pola yang dirancang untuk membebani sistem pertahanan udara Amerika. Rudal-rudal Iran dilaporkan menggunakan kemampuan manuver yang memungkinkan perubahan arah secara tiba-tiba sehingga menyulitkan sistem pertahanan AS menentukan sasaran dan memilih rudal pencegat yang harus ditembakkan.
Serangkaian serangan tersebut menunjukkan bahwa Iran tidak hanya mengandalkan jumlah rudal dan drone, tetapi juga terus menyesuaikan taktik berdasarkan respons pertahanan Amerika.
Laporan mengenai serangan di Yordania menyebut rentetan serangan tersebut berlangsung beberapa kali dalam kurun lima hari. Pejabat AS menilai pasukan Iran semakin mampu menghindari sistem pertahanan udara Amerika.
Rudal Iran Tembus Pertahanan dan Tewaskan Tiga Tentara AS
Salah satu serangan paling mematikan terjadi pada 17 Juli 2026 di pangkalan Muwaffaq Salti, Yordania.
Sebuah rudal balistik Iran berhasil melewati pertahanan udara AS dan menghantam fasilitas tempat tinggal personel militer. Tiga tentara Amerika kemudian dinyatakan tewas dalam serangan tersebut.
Militer AS awalnya mengonfirmasi dua korban tewas dan satu personel hilang. Pentagon kemudian mengidentifikasi korban ketiga sebagai Sersan Angel S. Rampersad. Dua korban lainnya adalah Letnan Satu Tyler James Feehan dan Prajurit Isabella Gonzales.
Serangan tersebut menjadi bukti bahwa meskipun sistem pertahanan udara AS mampu mencegat sebagian besar proyektil Iran, satu rudal yang lolos tetap dapat menimbulkan korban besar.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menggambarkan situasi tersebut dengan mengatakan bahwa hampir seluruh rudal berhasil ditembak jatuh, tetapi satu rudal berhasil lolos.
Stok Patriot AS Anjlok Drastis
Persoalan terbesar bagi Washington bukan hanya kemampuan Iran menyerang, tetapi juga seberapa lama AS mampu mempertahankan tingkat penggunaan rudal pencegat tersebut.
Reuters melaporkan bahwa sekitar 65 persen stok interceptor Patriot AS telah digunakan antara Februari hingga Juli. Perkiraan terbaru menyebut persediaan yang tersisa bahkan kurang dari 850 interceptor.
Patriot merupakan sistem pertahanan udara bergerak yang dirancang untuk menghadapi berbagai ancaman, termasuk pesawat, rudal jelajah, dan rudal balistik. Varian PAC-3 MSE menjadi salah satu interceptor utama untuk menghadapi ancaman rudal balistik dan memiliki harga sekitar US$4–5 juta per rudal.
Situasi ini menimbulkan dilema strategis bagi Pentagon. Semakin banyak rudal yang ditembakkan untuk melindungi pasukan AS dan sekutunya, semakin cepat persediaan interceptor terkuras.
AS Juga Kehabisan Rudal Serang Jarak Jauh
Krisis amunisi tidak hanya terjadi pada sistem pertahanan.
Laporan Reuters pada awal Agustus menyebut Angkatan Darat AS telah menggunakan “hampir seluruh” stok rudal presisi jarak jauh selama lima bulan perang dengan Iran.
Rudal yang terdampak terutama mencakup Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM). Senjata tersebut memungkinkan militer AS menyerang sasaran dari jarak jauh tanpa harus terlalu dekat dengan sistem pertahanan lawan.
ATACMS juga memiliki arti penting bagi Ukraina karena rudal tersebut digunakan Kyiv untuk menyerang sasaran militer Rusia dari jarak jauh.
Dengan demikian, konsumsi amunisi dalam perang Iran tidak hanya berdampak terhadap kemampuan tempur AS di Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memengaruhi kemampuan Washington memenuhi kebutuhan persenjataan negara mitranya.
Trump Bantah AS Kekurangan Amunisi
Di tengah laporan mengenai menipisnya persediaan senjata, Presiden Donald Trump membantah bahwa AS menghadapi kekurangan amunisi yang membahayakan kemampuan militernya.
Trump mengatakan AS memiliki lebih banyak amunisi dibandingkan negara lain dan menyebut produksi persenjataan Amerika saat ini terus meningkat.
Pemerintah AS juga mendorong industri pertahanan mempercepat produksi rudal dan sistem pertahanan udara. Pentagon bahkan telah meminta perusahaan pertahanan menyusun rencana untuk meningkatkan kapasitas produksi secara cepat di tengah kekhawatiran mengenai penurunan stok.
Perang Iran Picu Krisis Rudal Pertahanan Global
Menipisnya stok Patriot kini menjadi persoalan yang lebih luas daripada sekadar perang AS-Iran.
Ukraina juga sangat bergantung pada sistem Patriot untuk menghadapi serangan rudal Rusia. NATO dan negara-negara Eropa tengah berupaya meningkatkan pasokan sistem pertahanan udara setelah persediaan interceptor di sejumlah negara ikut tertekan.
Reuters melaporkan bahwa perang di Ukraina dan konflik Iran secara bersamaan telah meningkatkan permintaan terhadap Patriot, sementara kapasitas produksi global membutuhkan waktu untuk mengejar kebutuhan.
Situasi tersebut menciptakan persoalan strategis baru bagi Washington: perang yang berkepanjangan bukan hanya menguras personel dan anggaran, tetapi juga menghabiskan persediaan rudal yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diproduksi kembali.
Dengan Iran yang disebut semakin mampu menyesuaikan pola serangan dan stok interceptor AS yang terus menurun, kemampuan pertahanan udara Amerika kini menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan arah konflik berikutnya.
Sumber: JPost
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







