PBB: Situasi HAM Myanmar Jatuh ke Titik Terendah, Rohingya Kembali Jadi Korban

AKURAT.CO Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa kondisi hak asasi manusia (HAM) di Myanmar telah jatuh ke titik terendah baru. Kekerasan terhadap warga sipil, penderitaan komunitas Rohingya, serta maraknya ekonomi ilegal disebut semakin memperburuk krisis di negara tersebut.
Dalam laporan yang dirilis Selasa (25/8/2026), Kantor HAM PBB menyatakan upaya junta militer Myanmar untuk mempertahankan kendali dan legitimasi setelah kudeta 2021 justru memperdalam penderitaan masyarakat sipil.
PBB menyoroti penggunaan serangan udara, pembakaran rumah, pengusiran penduduk, serta pembatasan bantuan kemanusiaan dalam konflik antara militer Myanmar dengan kelompok bersenjata etnis dan milisi.
Lebih dari 8.000 Warga Sipil Tewas
Menurut laporan tersebut, sedikitnya 8.075 warga sipil, termasuk 1.074 anak-anak, tewas sejak kudeta militer pada 2021.
Dari jumlah tersebut, sedikitnya 1.241 orang dilaporkan meninggal dalam satu tahun terakhir.
Namun, PBB memperingatkan angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi. Data dari berbagai sumber terbuka menunjukkan jumlah warga sipil yang tewas sejak kudeta bisa mencapai 15.731 orang, termasuk sekitar 3.102 korban dalam setahun terakhir.
Konflik juga menyebabkan sekitar 3,6 juta orang mengungsi di dalam negeri.
Krisis kemanusiaan semakin parah dengan sekitar 12,4 juta orang menghadapi kelaparan akut, sementara sekitar 400.000 anak kecil dan ibu mengalami malnutrisi akut.
Rohingya Kembali Menghadapi Kekerasan
Situasi di wilayah Rakhine menjadi perhatian khusus PBB. Militer Myanmar dan Arakan Army, kelompok bersenjata etnis yang tengah berkonflik dengan junta, dituduh melakukan pelanggaran HAM terhadap komunitas Rohingya yang mayoritas beragama Islam.
PBB menyebut pelanggaran tersebut berlangsung secara luas dan sistematis.
Arakan Army dituduh melakukan penangkapan sewenang-wenang, penyiksaan, kekerasan seksual dan berbasis gender, kerja paksa, perekrutan paksa, serta penghancuran rumah dan tempat ibadah.
Warga Rohingya yang berusaha menghindari perekrutan paksa juga dilaporkan ditahan dan mengalami penyiksaan.
Sejumlah mantan tahanan mengaku mengalami pemukulan serta bentuk penyiksaan lainnya selama berada dalam tahanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






