Kritik Eropa soal Imigrasi dan Perang Iran, Trump Ungkap Senang Jika Irlandia Bersatu
AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan penyatuan Republik Irlandia dengan Irlandia Utara akan menjadi hal yang "fantastis". Pernyataan tersebut disampaikan saat Trump melakukan kunjungan dua hari ke Irlandia, Sabtu, 12 September 2026.
Trump menyampaikan pandangan tersebut dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin di Dublin. Ia ditanya mengenai isu reunifikasi Irlandia yang selama puluhan tahun menjadi salah satu persoalan politik paling sensitif di kawasan tersebut.
"Saya tidak ingin menimbulkan masalah, tetapi saya ingin melihat Irlandia bersatu. Pada akhirnya itu akan terjadi. Jadi, sebaiknya terjadi sekarang," kata Trump.
"Saya pikir itu akan menjadi sesuatu yang fantastis. Namun, tentu saja Inggris akan memiliki pandangannya sendiri mengenai hal tersebut," lanjutnya.
Pernyataan Trump menyentuh isu yang selama puluhan tahun memicu konflik antara kelompok yang ingin Irlandia Utara tetap menjadi bagian dari Inggris dan kelompok yang menginginkan wilayah tersebut bergabung dengan Republik Irlandia.
Konflik Panjang Irlandia Utara
Persoalan status Irlandia Utara pernah memicu kekerasan berkepanjangan yang dikenal sebagai The Troubles. Konflik tersebut melibatkan kelompok paramiliter dari berbagai kubu serta pasukan Inggris dan menyebabkan sekitar 3.600 orang meninggal dunia selama beberapa dekade.
Setelah Republik Irlandia memperoleh pemerintahan sendiri pada abad ke-20, enam wilayah di bagian utara tetap menjadi bagian dari Inggris. Irlandia Utara kemudian terbagi antara dua komunitas utama.
Kelompok nasionalis, yang mayoritas beragama Katolik, secara umum menginginkan penyatuan dengan Republik Irlandia. Sementara kelompok unionis, yang mayoritas Protestan, ingin Irlandia Utara tetap berada di bawah Inggris.
Kesepakatan damai 1998, yang turut dimediasi Amerika Serikat, secara signifikan mengakhiri kekerasan. Namun, status akhir Irlandia Utara tetap terbuka.
Kesepakatan tersebut memungkinkan digelarnya referendum mengenai penyatuan Irlandia apabila terdapat indikasi kuat bahwa mayoritas masyarakat menginginkannya.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham pada Rabu lalu mengatakan belum ada alasan untuk menggelar referendum baru selama belum terdapat dukungan publik yang jelas.
"Saya tidak mengetahui adanya dukungan mayoritas masyarakat untuk referendum baru. Sampai hal itu berubah, referendum tidak akan digelar," kata Burnham.
Trump Kritik Eropa
Selain isu Irlandia, Trump menggunakan kunjungannya untuk melontarkan kritik terhadap sejumlah negara Eropa, terutama terkait perdagangan, energi dan imigrasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







