Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah

AKURAT.CO Rusia terus memperluas kehadiran militernya di Libya dengan memanfaatkan konflik internal, hubungan dengan Jenderal Khalifa Haftar, serta akses ke pangkalan udara dan pelabuhan strategis. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Moskow membangun jaringan logistik militer yang menghubungkan Afrika Utara dengan kawasan Sahel hingga Afrika bagian tengah.
Perluasan pangkalan militer Rusia di Libya menjadi perhatian NATO karena negara tersebut berada di pesisir selatan Laut Mediterania, berhadapan langsung dengan Eropa. Melalui akses ke enam fasilitas penerbangan militer dan pelabuhan Tobruk, Rusia berpeluang memperkuat distribusi pasukan, persenjataan, dan perlengkapan militer ke berbagai wilayah Afrika.
Strategi Rusia di Libya semakin penting setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah pada Desember 2024. Sejumlah personel dan peralatan militer Rusia dilaporkan dipindahkan ke Libya timur, yang kini berpotensi menjadi salah satu penopang operasi Moskow di Mediterania dan Afrika.
Rusia Manfaatkan Konflik Internal Libya
Libya masih terpecah sejak krisis politik dan pemilu yang diperselisihkan pada 2014. Wilayah timur berkaitan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Libya dan Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Khalifa Haftar, sedangkan wilayah barat berpusat pada otoritas di Tripoli.
Perpecahan ini membuka ruang bagi campur tangan negara asing, termasuk Rusia. Moskow sebelumnya memanfaatkan kelompok tentara bayaran Wagner, yang pada 2019 mendukung serangan Haftar untuk merebut Tripoli.
Setelah pendiri Wagner, Yevgeny Prigozhin, meninggal dunia pada 2023, peran Africa Corps yang berada di bawah Kementerian Pertahanan Rusia semakin menonjol. Selain kepentingan militer, Rusia juga mengejar akses terhadap infrastruktur energi, transportasi, dan jalur distribusi strategis di Afrika Utara.
Enam Pangkalan Udara Jadi Penopang Rusia
Analisis citra satelit yang dikutip dalam laporan mengenai aktivitas Rusia menunjukkan kehadiran Moskow di enam fasilitas penerbangan militer Libya, yakni Al-Khadim, Al-Jufra, Tamanhint, Matan al-Sarra, Al-Qardabiyah, dan Brak al-Shati.
Sejak 2024, pembangunan dan peningkatan infrastruktur di sejumlah lokasi dilaporkan mencakup hanggar, gudang, tempat tinggal personel, fasilitas teknis, serta perbaikan landasan pacu dan area parkir pesawat.
Meski demikian, Rusia tidak secara resmi mengambil alih keenam pangkalan tersebut. Fasilitas itu tetap merupakan instalasi militer Libya, terutama di wilayah yang dikuasai pasukan terkait Haftar. Rusia memperoleh akses untuk menggunakan sebagian infrastrukturnya.
Al-Jufra menjadi titik penting untuk menopang aktivitas militer Rusia, sedangkan Al-Khadim mendukung pergerakan personel dan peralatan menuju wilayah Afrika lainnya. Pengembangan Tamanhint dan Brak al-Shati juga memperkuat kemampuan transportasi serta kehadiran Rusia di Libya selatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








