Viral Hasil Riset! Galon BPA Bisa Bikin Mandul Dan Picu Tumor

AKURAT.CO - Kamu pasti pernah mengonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) yang dijual bebas di pasaran. Di Indonesia, ada banyak air minum dalam kemasan dengan beberapa ukuran, mulai dari 330 ml hingga 19 liter dalam bentuk galon.
Dalam memproduksi kemasan, perusahaan air minum tentu merancang kemasan dari bahan yang bagus dan tahan lama. Namun, ada satu bahan kimia bernama BPA atau Bisphenol A yang biasanya dulu dipakai oleh perusahaan air minum untuk membuat kemasan air minum.
Menariknya, satu dekade ke belakang ramai diperbincangkan tentang bahaya kandungan BPA yang ada di kemasan plastik, terutama galon.
Penelitian-penelitian di berbagai negara menyebutkan kalau Bisphenol A bisa meningkatkan risiko beberapa penyakit, seperti kanker dan tumor.
Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kamu pahami dulu apa itu BPA atau Bisphenol A. Simak di bawah ini, yuk!
Pengertian BPA
BPA atau Bisphenol A adalah bahan kimia industri yang sering digunakan untuk membuat plastik polikarbonat dan resin epoksi. BPA sudah digunakan sejak 1940-an untuk membuat berbagai produk plastik rumah tangga. Contohnya galon, kemasan air minum, botol bayi, peralatan makan, tutup botol, pipa air, hingga jendela antipecah.
Masalahnya, BPA bisa masuk ke dalam minuman atau makanan yang kamu konsumsi. BPA bisa masuk ke tubuh jika kamu mengonsumsi minuman atau makanan yang menggunakan wadah plastik BPA.
Hasil Riset tentang BPA pada Galon
Sudah banyak riset klinis yang meneliti tentang bahaya BPA bagi kesehatan. Sejumlah penelitian di berbagai negara, termasuk Indonesia menunjukkan kalau BPA di kemasan bisa memicu perubahan sistem hormon tubuh.
Kandungan BPA juga bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti menurunkan aktivitas hormon dan kualitas sperma, gangguan libido, hingga sulit ejakulasi. Selain itu, BPA juga bisa memicu penyakit diabetes dan gangguan ginjal kronis.
Jika kandungan BPA dalam tubuh sudah berlebih, bisa memperlambat perkembangan saraf seseorang yang berakibat pada pubertas pria maupun wanita.
Efek Buruk Jangka Panjang
Melansir Guru Besar Universitas Airlangga, Prof. Junaidi Khotib yang menyebut kalau dampak dari BPA pada galon ini adalah jangka panjang. Terkadang orang-orang, khususnya generasi muda tidak menyadari bahwa di dalam tubuh mereka ada perubahan-perubahan yang berkaitan dengan efek dari BPA.
Menurutnya, penting untuk menyelamatkan anak muda dari efek buruk jangka panjang yang bisa disebabkan oleh BPA pada galon ini. Apalagi beberapa penelitian menyebut kalau BPA bisa meningkatkan risiko kanker dan tumor.
Bisa Sebabkan Kanker dan Tumor
Berdasarkan riset oleh Aleksandra Konieczna, Aleksandra Rutkowska, dan Dominik Rachoń di National Library of Medicine, menunjukkan kalau BPA pada kemasan terbukti meningkatkan risiko kelainan endokrin.
Contohnya tumor yang bergantung pada hormon, seperti kanker prostat dan payudara. Oleh sebab itu, penting untuk selalu memilih air minum dalam kemasan yang BPA-free atau tidak mengandung BPA.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








