Puasa Intermiten Bikin Langsing atau Bikin Diabetes? Remaja Wajib Waspada!

AKURAT.CO Selama ini, puasa intermiten atau intermittent fasting dikenal sebagai metode diet yang ampuh untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan metabolisme.
Namun, penelitian terbaru justru mengungkap sisi gelap pola makan ini, terutama bagi remaja dan anak muda.
Dikutip dari berbagai sumber, Minggu (23/2/2025), sebuah studi menunjukkan bahwa puasa intermiten jangka panjang bisa mengganggu produksi insulin pada individu yang masih dalam tahap pertumbuhan.
Dalam penelitian yang dilakukan pada tikus muda, puasa berkepanjangan selama 10 minggu menyebabkan penurunan produksi insulin—mirip dengan gejala awal diabetes tipe 1 pada manusia.
Sebaliknya, efek berbeda ditemukan pada tikus yang lebih tua.
Alih-alih menurunkan produksi insulin, puasa intermiten justru meningkatkan sensitivitas insulin mereka, membantu tubuh mengelola gula darah dengan lebih baik.
Baca Juga: Hubungan Megawati dan Prabowo Diprediksi Makin Panas Usai Hasto Ditahan KPK
"Kami cukup terkejut dengan hasil ini. Biasanya, puasa intermiten dianggap bermanfaat bagi sel beta yang memproduksi insulin, tetapi pada tikus muda, efeknya justru berlawanan," ujar Leonardo Matta, salah satu penulis utama penelitian tersebut.
Lebih lanjut, analisis di tingkat sel menunjukkan bahwa tikus muda mengalami gangguan pematangan sel beta pankreas akibat puasa berkepanjangan.
Sebaliknya, tikus dewasa yang sudah memiliki sel beta matang tidak mengalami dampak negatif.
Studi ini juga menemukan bahwa puasa intermiten jangka pendek—sekitar lima minggu—masih aman dan bermanfaat bagi semua kelompok usia.
Oleh karena itu, para peneliti menyarankan agar anak-anak dan remaja lebih berhati-hati dalam menerapkan pola makan ini untuk menghindari risiko jangka panjang terhadap kesehatan pankreas mereka.
"Puasa intermiten memang bermanfaat bagi orang dewasa, tetapi bagi remaja dan anak muda, bisa jadi ada risiko tersembunyi. Langkah selanjutnya adalah meneliti lebih dalam bagaimana pola makan ini memengaruhi perkembangan sel beta, yang berperan penting dalam produksi insulin," jelas Stephan Herzig, profesor di Universitas Teknik Munich.
Jadi, sebelum ikut-ikutan tren diet puasa intermiten, pastikan kamu memahami risikonya—terutama jika masih berada dalam masa pertumbuhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









