Kardiomiopati, Lemah Jantung yang Sering Datang Diam-diam

AKURAT.CO Jantung merupakan organ vital yang bekerja tanpa henti memompa darah ke seluruh tubuh. Namun, ketika fungsi otot jantung mulai melemah, berbagai masalah serius dapat muncul.
Salah satunya adalah kardiomiopati atau lemah jantung, kondisi yang kerap berkembang perlahan tanpa gejala jelas pada tahap awal, tetapi bisa berujung fatal jika tidak ditangani dengan tepat.
Apa Itu Kardiomiopati?
Kardiomiopati adalah kelainan pada otot jantung yang menyebabkan jantung menjadi lemah, membesar, atau kaku. Akibatnya, kemampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh menurun.
Penyakit ini dapat dipicu oleh faktor keturunan maupun faktor yang didapat, seperti tekanan darah tinggi, infeksi, gangguan metabolik, hingga gaya hidup tidak sehat.
Jenis-Jenis Kardiomiopati
Mengutip Alo Dokter, berdasarkan karakteristik dan penyebabnya, kardiomiopati terbagi ke dalam beberapa jenis utama:
1. Kardiomiopati Dilatasi
Terjadi ketika bilik kiri jantung membesar dan dinding ototnya menipis, sehingga daya pompa jantung melemah dan suplai darah ke tubuh berkurang.
Baca Juga: 10 Pulau Kecil di Sulawesi dengan Spot Snorkeling Terindah
2. Kardiomiopati Hipertrofik
Ditandai dengan penebalan abnormal pada otot jantung, terutama di bilik kiri, yang menghambat aliran darah keluar dari jantung.
3. Kardiomiopati Restriktif
Otot jantung menjadi kaku dan kehilangan elastisitas, sehingga jantung tidak dapat mengembang optimal saat terisi darah.
4. Kardiomiopati Aritmogenik Ventrikel Kanan (ARVC)
Kondisi ini ditandai dengan terbentuknya jaringan lemak atau jaringan parut pada bilik kanan jantung yang memicu gangguan irama jantung.
5. Kardiomiopati Takotsubo (Broken Heart Syndrome)
Sering disebut sindrom patah hati, kondisi ini muncul akibat stres emosional berat dan gejalanya menyerupai serangan jantung, meski tanpa penyumbatan pembuluh darah.
6. Kardiomiopati Idiopatik
Merupakan kelainan otot jantung yang penyebab pastinya tidak diketahui, meski diduga kuat berkaitan dengan faktor genetik.
Faktor Risiko Kardiomiopati
Berdasarkan informasi dari RS Pondok Indah, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kardiomiopati antara lain:
-
Tekanan darah tinggi
-
Diabetes
-
Gangguan tiroid
-
Penyakit jantung koroner
-
Obesitas
-
Konsumsi alkohol, narkotika, atau steroid anabolik
-
Riwayat terapi kanker
-
Faktor genetik
Gejala Kardiomiopati yang Perlu Diwaspadai
Baca Juga: Perbedaan Beasiswa Fully Funded dan Partial Funded yang Wajib Diketahui
-
Sesak napas saat beraktivitas
-
Mudah lelah
-
Pusing atau pingsan
-
Nyeri dada
-
Pembengkakan pada kaki atau lengan
-
Detak jantung tidak teratur
-
Batuk kering pada malam hari
Pengobatan Kardiomiopati
Penanganan kardiomiopati bertujuan memperbaiki fungsi jantung, mengurangi gejala, dan mencegah komplikasi. Pilihan terapi disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan penyakit, meliputi:
-
Perubahan gaya hidup, seperti pola makan sehat, olahraga sesuai anjuran dokter, dan pengelolaan stres
-
Terapi obat-obatan untuk membantu kerja jantung
-
Prosedur medis, termasuk miektomi septum, ablasi septum alkohol, pemasangan alat pacu jantung, hingga transplantasi jantung pada kasus gagal jantung berat
Cara Mencegah Kardiomiopati
Meski tidak semua kardiomiopati dapat dicegah, gaya hidup sehat berperan besar dalam menjaga kesehatan jantung. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Baca Juga: Panduan Lengkap Cara Mendaftar Kuliah di Korea Selatan
-
Rutin beraktivitas fisik ringan
-
Berhenti merokok dan menghindari asap rokok
-
Menghindari alkohol dan narkotika
-
Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
-
Membatasi asupan garam
-
Tidur cukup dan mengelola stres
-
Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
Kardiomiopati atau lemah jantung merupakan gangguan serius pada otot jantung yang dapat menghambat aliran darah ke seluruh tubuh. Penyakit ini bisa dipicu oleh faktor genetik maupun gaya hidup tidak sehat.
Meski tidak semua jenisnya dapat dicegah, deteksi dini, pengobatan tepat, serta penerapan pola hidup sehat sangat penting untuk memperlambat perkembangan penyakit dan mencegah komplikasi yang mengancam jiwa.
Laporan: Shera Amalia Ghaitsa/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









