Akurat Logo

Mengapa Menguap Bisa Menular? Ini Penjelasan Ilmiah yang Jarang Diketahui

Redaksi Akurat | 5 Juni 2026, 23:34 WIB
Mengapa Menguap Bisa Menular? Ini Penjelasan Ilmiah yang Jarang Diketahui
Ilustrasi menguap.

AKURAT.CO Menguap yang menular (contagious yawning) merupakan fenomena ketika seseorang ikut menguap setelah melihat atau mendengar orang lain menguap.

Meski sering dianggap berkaitan dengan rasa kantuk, para peneliti menemukan bahwa fenomena ini ternyata juga berhubungan dengan cara kerja otak, emosi, dan ikatan sosial antarmanusia.

Secara ilmiah, contagious yawning telah banyak dikaji dalam bidang neurologi dan psikologi sosial.

Mengutip artikel Biology and Human Anatomy, sejumlah penelitian menunjukkan sekitar 10-55 persen orang akan ikut menguap setelah melihat orang lain menguap.

Temuan tersebut menunjukkan adanya respons otomatis dalam sistem saraf yang membuat manusia cenderung meniru perilaku orang lain.

Dengan demikian, menguap tidak hanya merupakan refleks tubuh, tetapi juga dipengaruhi oleh pengamatan terhadap lingkungan sekitar.

1. Sistem Neuron Cermin di Otak

Salah satu penjelasan ilmiah mengenai mengapa menguap bisa menular berkaitan dengan keberadaan mirror neurons atau neuron cermin di otak.

Neuron cermin merupakan sel saraf yang aktif ketika seseorang melakukan suatu tindakan maupun ketika melihat orang lain melakukan tindakan yang sama.

Sistem ini memungkinkan manusia secara tidak sadar meniru perilaku yang diamatinya.

Karena itulah, saat seseorang melihat orang lain menguap, otak dapat merespons dengan memicu perilaku serupa sehingga orang tersebut ikut menguap.

2. Berkaitan dengan Empati dan Ikatan Sosial

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa sistem neuron cermin berhubungan erat dengan kemampuan berempati.

Baca Juga: Kenapa Warna Cat Mobil Bisa Cepat Pudar? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Orang yang lebih mudah tertular menguap dari orang lain umumnya memiliki tingkat empati yang lebih tinggi.

Efek menguap menular juga cenderung lebih kuat terjadi pada orang-orang yang memiliki hubungan dekat, seperti keluarga, teman, atau pasangan.

Hal ini menunjukkan bahwa fenomena menguap tidak hanya berkaitan dengan fungsi biologis, tetapi juga mencerminkan adanya keterikatan sosial antarmanusia.

3. Sulit Ditahan Karena Mekanisme Neurologis

Penelitian lain menunjukkan bahwa contagious yawning merupakan respons neurologis yang sulit dikendalikan secara sadar.

Oleh karena itu, banyak orang tidak mampu menahan diri untuk tidak menguap ketika melihat orang lain melakukannya.

Fenomena ini tidak hanya ditemukan pada manusia, tetapi juga pada sejumlah hewan seperti simpanse dan anjing.

Temuan tersebut semakin memperkuat teori bahwa menguap menular berkaitan dengan komunikasi sosial dan empati.

Sebaliknya, efek ini cenderung lebih lemah pada anak-anak berusia di bawah empat tahun karena kemampuan sosial dan empati mereka belum berkembang secara optimal.

Mengapa Menguap Bisa Menular?

Pada dasarnya, menguap yang menular merupakan hasil interaksi antara sistem saraf, kemampuan berempati, dan hubungan sosial.

Keberadaan neuron cermin membuat manusia secara alami cenderung meniru perilaku orang lain, termasuk menguap.

Karena itu, menguap bukan sekadar tanda mengantuk, melainkan juga menunjukkan bagaimana otak manusia bekerja dalam membangun hubungan sosial dan memahami orang lain di sekitarnya.

Baca Juga: Kenapa Gunung Bisa Meletus Meski Terlihat Tenang? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Laporan: Fikhra Azmi/magang

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.