Akurat Logo

Mengapa Balita Lebih Rentan Keracunan Makanan? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Nurma Nafisa Faradilla | 9 Juni 2026, 16:00 WIB
Mengapa Balita Lebih Rentan Keracunan Makanan? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya
Makanan sehat untuk bayi. (Ilustrasi/ Magnific)

AKURAT.CO Makanan yang tampak bersih belum tentu sepenuhnya aman untuk dikonsumsi. Bakteri, virus, parasit, hingga zat kimia berbahaya dapat mencemari makanan dan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Risiko ini bisa dialami siapa saja, tetapi anak-anak, terutama balita, termasuk kelompok yang paling rentan.

Dikutip dari WHO, Para ahli kesehatan menilai bahwa sistem tubuh anak yang masih berkembang membuat mereka lebih mudah terkena penyakit akibat makanan yang terkontaminasi dibandingkan orang dewasa.

Baca Juga: Tanda-tanda Orang Hajinya Mardud Apa Saja? Catat Ciri-cirinya!

Dampaknya tidak hanya berupa sakit perut atau diare, tetapi juga dapat memengaruhi tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.

Mengapa Balita Lebih Berisiko?

Balita memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sekuat orang dewasa. Ketika bakteri atau virus masuk melalui makanan, tubuh mereka lebih sulit melawan infeksi.

Selain itu, ukuran tubuh yang lebih kecil membuat paparan kuman atau zat berbahaya dalam jumlah sedikit sekalipun dapat memberikan dampak yang lebih besar. Karena itulah anak-anak lebih mudah mengalami dehidrasi, diare berat, atau komplikasi lain akibat penyakit bawaan makanan.

Penyakit yang Sering Muncul Akibat Makanan Sembarangan

Makanan yang tidak aman dapat mengandung berbagai mikroorganisme berbahaya seperti bakteri, virus, dan parasit.

Beberapa gangguan kesehatan yang umum terjadi antara lain:

  • Diare akut

  • Mual dan muntah

  • Sakit perut

  • Demam

  • Infeksi saluran pencernaan

Pada kasus yang berat, kondisi tersebut dapat menyebabkan dehidrasi serius yang memerlukan perawatan medis.

Bahaya Zat Kimia dalam Makanan

Tidak hanya mikroorganisme, makanan juga bisa terkontaminasi zat kimia berbahaya. Paparan logam berat seperti timbal, arsenik, dan metilmerkuri menjadi perhatian para ahli kesehatan dunia.

Jika masuk ke tubuh dalam jangka panjang, zat-zat tersebut dapat mengganggu fungsi organ, meningkatkan risiko penyakit kronis, hingga memengaruhi perkembangan otak anak.

Metilmerkuri, misalnya, diketahui dapat mengganggu perkembangan sistem saraf sehingga berdampak pada kemampuan belajar dan perkembangan kognitif anak.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Keuangan 9 Juni 2026: Aquarius, Aries, Scorpio, dan Pisces

Dampak Jangka Panjang pada Tumbuh Kembang

Penyakit akibat makanan tidak aman sering dianggap hanya menyebabkan gangguan sementara. Padahal, infeksi berulang pada anak dapat memengaruhi penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini berpotensi menyebabkan gangguan tumbuh kembang, penurunan daya tahan tubuh, hingga masalah kesehatan yang bertahan dalam jangka panjang.

Karena itu, keamanan pangan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan anak sejak usia dini.

Cara Mencegah Keracunan Makanan pada Anak

Orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko penyakit akibat makanan tercemar, antara lain:

1. Cuci Tangan Sebelum Menyiapkan Makanan

Pastikan tangan dicuci menggunakan sabun dan air mengalir sebelum memasak atau menyuapi anak.

2. Pastikan Makanan Matang Sempurna

Memasak makanan hingga matang dapat membantu membunuh sebagian besar bakteri dan virus penyebab penyakit.

3. Gunakan Air Bersih

Air yang digunakan untuk memasak, mencuci bahan makanan, maupun membuat susu harus berasal dari sumber yang aman.

4. Simpan Makanan dengan Benar

Makanan yang disimpan pada suhu tidak tepat berisiko menjadi tempat berkembangnya bakteri.

5. Perhatikan Kebersihan Peralatan Makan

Botol susu, sendok, piring, dan peralatan makan anak harus dibersihkan secara rutin agar tidak menjadi sumber kontaminasi.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.