Akurat Logo

Biaya Perawatan DBD Naik 88 Persen dalam 5 Tahun, Allianz Ungkap Ancaman Baru bagi Keuangan Keluarga

Idham Nur Indrajaya | 22 Juni 2026, 15:14 WIB
Biaya Perawatan DBD Naik 88 Persen dalam 5 Tahun, Allianz Ungkap Ancaman Baru bagi Keuangan Keluarga
Biaya perawatan DBD naik 88 persen dalam lima tahun. Allianz ungkap tingginya klaim dan risiko finansial bagi keluarga Indonesia. dok. Allianz

AKURAT.CO Pernahkah Anda berpikir bahwa satu kali rawat inap akibat demam berdarah bisa menguras jutaan hingga puluhan juta rupiah? Bagi banyak keluarga Indonesia, ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) selama ini lebih sering dipandang sebagai persoalan kesehatan musiman. Namun di balik tingginya jumlah kasus yang terus muncul setiap tahun, ada persoalan lain yang semakin besar dan sering luput dari perhatian, yakni lonjakan biaya perawatan.

Data terbaru Allianz Indonesia menunjukkan bahwa biaya perawatan DBD mengalami kenaikan signifikan dalam lima tahun terakhir. Temuan ini menjadi peringatan bahwa DBD tidak hanya berisiko terhadap kesehatan, tetapi juga dapat menjadi beban finansial yang cukup berat bagi masyarakat, khususnya keluarga kelas menengah yang harus menghadapi biaya medis yang terus meningkat.

Allianz Indonesia mencatat bahwa rata-rata biaya perawatan DBD per kasus meningkat hingga 88 persen selama periode 2020-2025. Pada saat yang sama, biaya perawatan demam tifoid juga mengalami kenaikan hingga 66 persen.

Selain kenaikan biaya perawatan, Allianz Indonesia juga mencatat tingginya jumlah klaim terkait penyakit tropis hingga pertengahan Juni 2026.

Beberapa data yang tercatat antara lain:

  • 1.686 klaim DBD dengan nilai klaim lebih dari Rp21,5 miliar.

  • 1.534 klaim demam tifoid dengan nilai klaim lebih dari Rp14,5 miliar.

  • 815 klaim tuberkulosis (TBC) dengan nilai klaim lebih dari Rp5,4 miliar.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu penyebab utama masyarakat membutuhkan layanan kesehatan, baik rawat jalan maupun rawat inap.

Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja, mengatakan data yang dimiliki Allianz memperlihatkan bahwa penyakit tropis masih memberikan dampak yang cukup besar terhadap kebutuhan perawatan medis masyarakat.

"Data klaim yang kami miliki menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan perawatan medis yang cukup tinggi. Di saat yang sama, kami juga melihat adanya peningkatan biaya perawatan untuk beberapa penyakit tropis dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan deteksi dini, tidak hanya untuk menjaga kesehatan tetapi juga untuk membantu mengurangi risiko beban finansial," ujar dr. Tubagus melalui keterangan yang diterima AKURAT.CO, Senin, 22 Juni 2026.

Mengapa Biaya Perawatan DBD Naik Hingga 88 Persen?

Kenaikan biaya perawatan DBD tidak terjadi begitu saja. Di balik angka 88 persen tersebut terdapat beberapa faktor yang saling berkaitan.

Pertama, biaya layanan kesehatan di Indonesia terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Rumah sakit menghadapi peningkatan biaya operasional, mulai dari alat kesehatan, laboratorium, obat-obatan, hingga tenaga medis.

Kedua, penanganan DBD saat ini semakin menuntut pemeriksaan yang lebih komprehensif. Pasien sering kali memerlukan pemeriksaan darah berulang untuk memantau jumlah trombosit dan kondisi klinis lainnya selama masa perawatan.

Ketiga, pasien yang datang terlambat ke fasilitas kesehatan cenderung membutuhkan penanganan yang lebih intensif. Semakin berat kondisi pasien, semakin tinggi pula biaya yang harus dikeluarkan.

Yang menarik, kenaikan biaya perawatan sebesar 88 persen dalam lima tahun menunjukkan bahwa inflasi medis bergerak jauh lebih cepat dibandingkan inflasi umum yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Artinya, risiko finansial akibat sakit berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan banyak keluarga dalam menyesuaikan anggaran kesehatan mereka.

Data Allianz Menunjukkan DBD Masih Menjadi Ancaman Serius

Meskipun masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan DBD, penyakit ini masih menjadi tantangan kesehatan nasional.

Data yang dikutip dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa pada 2024 terdapat 210.644 kasus DBD dengan 1.239 kematian di Indonesia. Sementara itu, TBC masih menjadi masalah besar dengan Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam jumlah kasus, mencapai sekitar 1,06 juta kasus per tahun berdasarkan data WHO dan Global Tuberculosis Report 2024.

Tingginya jumlah klaim yang diterima Allianz Indonesia memperlihatkan bahwa penyakit tropis belum menunjukkan tanda-tanda menghilang. Sebaliknya, penyakit tersebut masih terus memengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia setiap tahunnya.

Kondisi iklim tropis, kepadatan penduduk, sanitasi yang belum merata, serta keberadaan vektor penyakit seperti nyamuk Aedes aegypti menjadi faktor yang membuat DBD terus berulang.

Ancaman DBD Kini Tidak Hanya Soal Kesehatan, Tetapi Juga Finansial

Selama ini, banyak orang menganggap DBD sebagai penyakit yang dapat sembuh setelah beberapa hari dirawat. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi sering kali mengabaikan satu aspek penting: biaya pengobatan.

Menurut Allianz Indonesia, biaya rawat inap pasien DBD dapat mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp20 juta, tergantung tingkat keparahan penyakit, lama perawatan, kebutuhan pemeriksaan laboratorium, serta kemungkinan komplikasi yang muncul selama perawatan.

Bagi sebagian keluarga kelas menengah, pengeluaran mendadak sebesar itu dapat mengganggu kondisi keuangan bulanan.

Inilah paradoks yang menarik. DBD merupakan penyakit yang sangat dikenal masyarakat Indonesia, tetapi justru karena terlalu akrab, banyak orang menganggapnya sebagai penyakit biasa. Akibatnya, kewaspadaan menurun dan penanganan sering terlambat dilakukan.

Padahal, semakin lambat penanganan dilakukan, semakin besar pula risiko komplikasi dan semakin tinggi biaya yang harus dikeluarkan.

Baca Juga: Program Cek Kesehatan Gratis Diperluas, Wamenkes Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Penyakit

Baca Juga: Obesitas Bukan Soal Penampilan, tapi Ancaman Penyakit Mematikan

Simulasi Biaya Rawat Inap DBD pada Keluarga Kelas Menengah

Bayangkan sebuah keluarga muda dengan pendapatan gabungan Rp12 juta per bulan.

Suatu hari, salah satu anggota keluarga terkena DBD dan harus menjalani rawat inap selama lima hari.

Jika biaya perawatan mencapai Rp10 juta, maka hampir seluruh anggaran bulanan keluarga tersebut dapat habis hanya untuk satu episode penyakit.

Belum termasuk:

  • Kehilangan pendapatan akibat tidak bekerja.

  • Biaya transportasi ke rumah sakit.

  • Pembelian obat tambahan.

  • Biaya pendamping pasien.

Dalam kondisi seperti ini, penyakit yang awalnya dianggap biasa dapat berubah menjadi tekanan finansial yang signifikan.

Karena itu, isu DBD saat ini tidak lagi bisa dipandang hanya dari sisi kesehatan masyarakat. Penyakit ini juga berkaitan dengan ketahanan ekonomi keluarga.

Mengapa Banyak Orang Terlambat Menangani DBD?

Dokter dan edukator kesehatan dr. Dion Haryadi menilai masih banyak masyarakat yang menganggap remeh penyakit tropis yang sebenarnya dapat dicegah.

"Meski telah lama dikenal masyarakat Indonesia, penyakit DBD, demam tifoid, dan TBC masih menjadi penyakit yang menghantui setiap tahunnya. Padahal, sebagian besar penyakit tropis sebenarnya dapat dicegah," ujar dr. Dion Haryadi.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar adalah anggapan bahwa penyakit tropis sudah terlalu umum sehingga dianggap tidak berbahaya.

Pada kasus DBD, misalnya, banyak orang mengira pasien sudah membaik ketika demam mulai turun. Padahal, fase tersebut justru dapat menjadi periode paling kritis dalam perjalanan penyakit.

Kesalahan persepsi ini membuat sebagian pasien baru mencari pertolongan medis ketika kondisi sudah memburuk.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Risiko DBD?

Pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif dan paling murah dibandingkan biaya pengobatan.

Beberapa langkah sederhana yang disarankan antara lain:

1. Hindari Menumpuk Pakaian di Dalam Kamar

Pakaian yang digantung terlalu lama dapat menjadi tempat istirahat nyamuk Aedes aegypti.

2. Rutin Memeriksa Tempat Penampungan Air

Periksa talang air, dispenser, vas bunga, dan wadah air lainnya yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

3. Menjaga Kebersihan Lingkungan

Lingkungan yang bersih membantu memutus siklus perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.

4. Segera Periksakan Diri Saat Muncul Gejala

Jangan menunggu gejala memburuk. Deteksi dini dapat meningkatkan peluang pemulihan sekaligus mengurangi risiko biaya perawatan yang lebih besar.

DBD dan Inflasi Medis: Ancaman yang Semakin Nyata

Data Allianz Indonesia memberikan gambaran yang lebih luas mengenai perubahan risiko kesehatan di Indonesia. Jika dulu fokus utama masyarakat adalah bagaimana menghindari penyakit, kini muncul tantangan baru berupa bagaimana menghadapi biaya pengobatan yang terus meningkat.

Kenaikan biaya perawatan DBD hingga 88 persen dalam lima tahun menunjukkan bahwa penyakit tropis tidak lagi sekadar masalah kesehatan publik. Penyakit ini juga menjadi isu ekonomi rumah tangga yang dapat memengaruhi stabilitas keuangan keluarga.

Karena itu, pencegahan, deteksi dini, kepesertaan BPJS yang aktif, serta perlindungan kesehatan yang memadai menjadi semakin relevan di tengah tren kenaikan biaya medis.

Pada akhirnya, ancaman terbesar DBD saat ini mungkin bukan hanya jumlah kasus yang masih tinggi setiap tahun. Ancaman yang tidak kalah penting adalah bagaimana satu penyakit yang sering dianggap biasa ternyata dapat menimbulkan konsekuensi finansial yang luar biasa besar bagi keluarga Indonesia. Pantau terus perkembangan isu kesehatan dan biaya medis agar dapat mengambil langkah pencegahan lebih dini.

Baca Juga: Bagaimana Vaksin Bekerja Melindungi Tubuh dari Penyakit? Penjelasan Lengkap dan Manfaatnya

Baca Juga: Haji 2027 Bakal Lebih Ketat, Jemaah dengan Penyakit Tertentu Berpotensi Ditunda Keberangkatannya

FAQ

Apakah biaya rawat inap DBD semakin mahal?

Ya. Data Allianz Indonesia menunjukkan rata-rata biaya perawatan DBD meningkat hingga 88 persen selama periode 2020-2025. Kenaikan ini dipengaruhi oleh inflasi medis, biaya operasional rumah sakit, pemeriksaan laboratorium, dan kebutuhan penanganan yang semakin kompleks.

Berapa biaya pengobatan DBD di rumah sakit?

Biaya pengobatan demam berdarah dapat berkisar antara Rp5 juta hingga Rp20 juta, tergantung tingkat keparahan pasien, lama rawat inap, kebutuhan pemeriksaan medis, dan kemungkinan komplikasi yang terjadi selama perawatan.

Mengapa biaya perawatan DBD terus meningkat?

Biaya perawatan DBD meningkat karena kenaikan biaya layanan kesehatan, harga obat-obatan, pemeriksaan laboratorium yang lebih intensif, serta meningkatnya kebutuhan perawatan pada pasien yang datang dalam kondisi lebih berat.

Apa penyebab utama demam berdarah di Indonesia?

Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Faktor seperti iklim tropis, kepadatan penduduk, dan keberadaan tempat perkembangbiakan nyamuk membuat penyakit ini masih banyak ditemukan di Indonesia.

Apakah DBD bisa dicegah?

DBD dapat dicegah melalui pengendalian sarang nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, menguras tempat penampungan air secara rutin, serta menghindari tempat yang berpotensi menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

Mengapa deteksi dini DBD sangat penting?

Deteksi dini membantu pasien mendapatkan penanganan lebih cepat sebelum memasuki fase kritis. Selain meningkatkan peluang kesembuhan, pemeriksaan sejak awal juga dapat mengurangi risiko komplikasi dan biaya pengobatan yang lebih besar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.