Kasus Batu Saluran Kemih di Indonesia Terus Meningkat, Dokter Ungkap Gejala yang Sering Diabaikan

AKURAT.CO Kasus batu saluran kemih di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Gaya hidup kurang aktif, minim konsumsi air putih, hingga pola makan tinggi garam menjadi sejumlah faktor pemicunya.
Dokter Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dr. Teguh Risesa Djufri, mengatakan batu saluran kemih dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain dehidrasi, risikonya juga meningkat akibat obesitas, gangguan metabolik, konsumsi garam berlebih, serta faktor keturunan.
Dr. Teguh menyebut sekitar 1-13 persen penduduk dunia berpotensi mengalami batu saluran kemih sepanjang hidupnya. Indonesia yang beriklim tropis juga memiliki risiko lebih tinggi karena suhu udara yang panas membuat tubuh lebih mudah kehilangan cairan.
"Kasusnya memang dari tahun ke tahun dengan kondisi gaya hidup dan pola hidup sekarang ini yang lebih banyak sedentary lifestyle sehingga itu menyebabkan prevalensi dari batu saluran kemih meningkat," ujarnya kepada Akurat.co, saat bincang media yang digelar di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Meski begitu, banyak penderita tidak menyadari mengalami batu saluran kemih karena gejalanya sering dianggap sepele. Akibatnya, pasien kerap datang saat ukuran batu sudah membesar atau mulai menimbulkan komplikasi.
Menurut dr. Teguh, gejala batu saluran kemih biasanya muncul saat terjadi sumbatan atau infeksi. Keluhannya dapat berupa nyeri pinggang yang menjalar, mual, demam, urine berdarah, hingga nyeri saat buang air kecil.
"Biasanya gejalanya nyeri pinggang. Nyeri pinggang yang sering itu dianggap bahwa nyeri pinggang akibat otot. Padahal ternyata itu adalah batu saluran kemih," jelasnya.
Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan USG sebagai langkah awal karena aman. Jika diperlukan, pemeriksaan dilanjutkan dengan CT scan non-kontras untuk mengetahui ukuran serta lokasi batu agar terapi dapat disesuaikan.
Batu kecil dapat ditangani dengan obat dan peningkatan cairan, sementara batu besar dapat diatasi melalui teknologi minimal invasif seperti Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL), maupun Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS).
Menurutnya, kemajuan teknologi membuat penanganan batu saluran kemih lebih efektif dengan luka minimal dan waktu pemulihan lebih cepat. Masyarakat juga diimbau segera memeriksakan diri jika mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tersebut.
Sebagai upaya pencegahan, masyarakat dianjurkan memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2-3 liter per hari, mengurangi konsumsi garam, menjaga berat badan ideal dan rutin beraktivitas fisik. Cara ini dinilai dapat membantu menekan risiko terbentuknya batu saluran kemih.
"Yang paling penting adalah pencegahan, karena prinsip utama dalam penanganan batu saluran kemih adalah mencegah agar batu tidak terbentuk kembali," tutup dr. Teguh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







