Kisah Alfatih, Santri yang Selamat Setelah 3 Hari Tertimbun di Reruntuhan Ponpes Al Khoziny

AKURAT.CO Di tengah duka mendalam atas ambruknya mushala Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, kisah selamatnya seorang santri bernama Alfatih Cakra Buana (14) menjadi secercah harapan.
Santri asal Desa Sendang Dajah, Kecamatan Labang, Bangkalan, ini ditemukan hidup setelah tiga hari tertimbun reruntuhan bangunan.
Menurut sang ayah, KH Abdul Hannan, Alfatih selamat karena tubuhnya terlindungi oleh timbunan pasir.
“Jadi tubuh anak saya tenggelam ke pasir sehingga reruntuhan bangunan tidak menyentuh tubuh anak saya. Sedangkan bagian wajahnya terlindungi seng, jadi bagian wajah tidak luka,” ujarnya dalam keterangan kepada wartawan, Minggu (5/10/2025).
Baca Juga: Update Ambruknya Bangunan Ponpes Al-Khoziny: Korban Meninggal Bertambah Jadi 52 Orang
Peristiwa nahas itu terjadi saat para santri sedang melaksanakan salat Ashar di lantai tiga mushala. “Saya ada di saf tengah dan shalat Ashar bersama teman-teman,” kenang Alfatih. Tak lama setelah itu, ia merasakan guncangan hebat seperti gempa, lalu bangunan mendadak runtuh dan menimpa semua santri di dalamnya.
Alfatih mengaku sempat pingsan, lalu sadar dalam kondisi gelap dan miring ke kiri. “Awalnya saya kira gempa, lalu bangunan ambruk. Saya pingsan, bangun-bangun sudah gelap. Posisi saya miring ke kiri,” tuturnya.
Dalam kegelapan itu, ia mengalami hal yang tak biasa—mimpi bermain bersama teman-temannya. “Di dalam sana saya hanya mimpi bermain sama teman-teman. Yang saya ingat, saya seperti bermain handphone dan bersepedahan dengan teman-teman,” ungkapnya.
Selama tertimbun, ia tidak makan dan minum. Namun dalam mimpinya, ia merasa seperti sedang minum.
“Saat bangun rasanya haus sekali dan sudah bernafas,” tambahnya. Hingga akhirnya, suara tim penyelamat dan cahaya senter menjadi tanda bahwa hidupnya terselamatkan.
“Saya bangun karena ada suara itu dan saya melihat cahaya lampu. Alhamdulillah, setelah itu saya berhasil keluar dari sana,” ujarnya penuh syukur.
Setelah dievakuasi pada malam Kamis, Alfatih langsung dibawa ke RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo untuk menjalani perawatan. Dua hari kemudian, ia diperbolehkan pulang dan kembali ke Bangkalan. Setibanya di rumah, Alfatih menyempatkan diri berziarah ke makam kakek dan neneknya.
Baca Juga: Meteor Jatuh di Cirebon, Ini Jawaban Tafsir Sains
“Semoga teman-teman saya yang masih tertimbun segera bisa ditemukan dan diselamatkan,” ucapnya lirih.
Kisah Alfatih menjadi salah satu cerita keajaiban di tengah tragedi yang menewaskan puluhan santri itu. Hingga kini, proses pencarian dan evakuasi korban masih terus dilakukan oleh tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, dan relawan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








