Akurat
Pemprov Sumsel

Disebut dalam Hadis Nabi, Orang Meninggal Tertimpa Runtuhan adalah Syahid

Fajar Rizky Ramadhan | 7 Oktober 2025, 06:30 WIB
Disebut dalam Hadis Nabi, Orang Meninggal Tertimpa Runtuhan adalah Syahid

AKURAT.CO Tragedi robohnya mushala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, yang menewaskan puluhan santri, menyisakan duka yang mendalam.

Namun di balik kesedihan itu, ada secercah pengharapan spiritual bagi keluarga korban. Dalam ajaran Islam, orang yang meninggal karena tertimpa bangunan atau reruntuhan disebut sebagai syahid.

Pandangan ini bersumber langsung dari hadis Nabi Muhammad Saw yang menjelaskan bahwa kesyahidan tidak hanya terbatas pada mereka yang gugur di medan perang, tetapi juga mencakup orang-orang yang wafat dalam kondisi tertentu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُونُ، وَالْمَبْطُونُ، وَالْغَرِقُ، وَصَاحِبُ الْهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Para syuhada itu ada lima: orang yang mati karena wabah, orang yang mati karena sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa bangunan (runtuhan), dan orang yang mati di jalan Allah.” (HR. Muslim, no. 1914)

Dalam hadis ini, istilah ṣāḥib al-hadm (صاحب الهدم) secara harfiah berarti “orang yang mati karena tertimpa bangunan.” Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mereka termasuk dalam golongan syahid akhirat, yakni orang-orang yang mendapatkan pahala dan kemuliaan syahid di sisi Allah, meskipun secara hukum duniawi tetap dimandikan, dikafani, dan dishalatkan sebagaimana jenazah biasa.

Hadis ini menjadi landasan teologis penting dalam memahami peristiwa seperti robohnya mushala pesantren Al-Khoziny. Para korban yang meninggal dunia akibat tertimpa bangunan dapat dimasukkan dalam kategori ṣāḥib al-hadm, karena mereka meninggal dalam keadaan tertimpa reruntuhan dan tidak sedang melakukan perbuatan dosa.

Baca Juga: Santri Al-Khoziny yang Wafat dalam Tragedi Robohnya Mushala Pesantren Layak Disebut Syahid

Makna “syahid” dalam Islam tidak tunggal. Secara umum, para ulama membedakan antara dua kategori: syahid dunia-akhirat dan syahid akhirat saja. Syahid dunia-akhirat adalah mereka yang gugur di medan perang karena membela agama Allah, yang tidak dimandikan dan tidak dishalatkan sebagaimana ketentuan syariat.

Sedangkan syahid akhirat adalah orang-orang yang meninggal karena sebab-sebab tertentu yang dijanjikan pahala syahid, seperti tertimpa bangunan, tenggelam, atau terbakar. Mereka tetap diperlakukan sebagai jenazah biasa di dunia, tetapi di sisi Allah memperoleh kedudukan syuhada.

Meninggal tertimpa reruntuhan seperti para santri Al-Khoziny juga dapat dipandang sebagai bentuk ujian yang berakhir dengan kemuliaan. Dalam hadis lain, Nabi ﷺ menegaskan:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa setiap penderitaan seorang mukmin memiliki nilai penebusan dosa. Maka, kematian yang datang dengan cara tertimpa reruntuhan—disertai dengan niat ikhlas, dalam keadaan beribadah atau beriman—menjadi tanda ampunan dan derajat tinggi di sisi Allah.

Dalam tragedi Al-Khoziny, beberapa saksi menyebutkan bahwa para santri sedang melaksanakan salat ketika bangunan ambruk. Salah satu korban, Rafi Catur Okta Mulya, ditemukan dalam posisi sujud memeluk temannya yang selamat. Bagi banyak orang, peristiwa itu menjadi simbol husnul khatimah — akhir kehidupan yang baik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba akan dibangkitkan (pada hari kiamat) sesuai dengan keadaan ketika ia meninggal.” (HR. Muslim, no. 2878)

Seseorang yang meninggal dalam keadaan sujud akan dibangkitkan dalam posisi sujud pula. Ini adalah tanda kemuliaan, karena sujud merupakan momen paling dekat antara hamba dan Tuhannya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

“Sekali-kali janganlah kamu menuruti dia, dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu kepada Allah.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 19)

Baca Juga: Kisah Rafi, Santri yang Wafat dalam Sujud di Reruntuhan Ponpes Al-Khoziny

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menegaskan bahwa sujud adalah simbol ketaatan total dan kedekatan spiritual yang paling tinggi antara manusia dan Allah. Maka, wafat dalam sujud bukan hanya tanda husnul khatimah, tetapi juga bukti keistimewaan iman.

Secara teologis, hadis-hadis ini meneguhkan keyakinan bahwa para korban seperti santri-santri Al-Khoziny tidak meninggal sia-sia. Mereka meninggal dalam kondisi beribadah, di tempat suci, dan karena sebab yang dijanjikan pahala syahid. Dalam perspektif Islam, ini bukan hanya tragedi fisik, tetapi juga momentum untuk menegaskan nilai spiritual dari musibah.

Namun, di sisi lain, Islam juga menekankan pentingnya ikhtiar untuk mencegah bencana serupa. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 195 menegaskan:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”

Ayat ini mengandung pesan moral dan sosial: setiap umat beriman wajib menjaga keselamatan diri dan orang lain, termasuk dengan memastikan keamanan tempat ibadah dan lembaga pendidikan.

Dengan demikian, memahami tragedi Al-Khoziny bukan hanya soal kesedihan dan kehilangan, tetapi juga pembelajaran iman. Mereka yang wafat karena tertimpa bangunan mendapat jaminan kemuliaan di sisi Allah, sementara yang hidup diingatkan agar lebih berhati-hati dalam membangun dan mengelola tempat-tempat suci.

Syahid bukan hanya tentang darah dan perang, melainkan tentang kesungguhan dalam beribadah, keteguhan dalam iman, dan ketulusan menerima takdir. Maka, mereka yang wafat di bawah reruntuhan mushala bukanlah korban semata — mereka adalah syuhada yang namanya tercatat mulia di sisi Allah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.