Tragedi Robohnya Mushala Pesantren Al-Khoziny, Ini Pesan Islam untuk Orang yang Menyalahkan Tradisi Pesantren

AKURAT.CO Tragedi robohnya mushala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, bukan hanya meninggalkan luka bagi keluarga korban, tetapi juga memunculkan gelombang komentar di ruang publik.
Di antara suara duka dan empati, muncul pula nada sinis: ada yang menyalahkan sistem pendidikan pesantren yang dianggap “kolot”, ada yang mengkritik kepatuhan santri pada kiai, bahkan ada yang menuding bangunan sederhana pesantren sebagai simbol kemiskinan yang tak layak disebut lembaga pendidikan modern.
Narasi seperti ini mencerminkan gejala sosial yang berulang: masyarakat yang jauh dari kehidupan pesantren kerap memandang dari kacamata materialistik, bukan spiritual.
Padahal pesantren, dalam sejarah Islam Indonesia, bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi ruang pembentukan karakter, adab, dan kedekatan ruhani kepada Allah. Kiai bukan sekadar pengajar, tetapi mursyid—pemandu jalan ruhani yang mengajarkan makna hidup di balik penderitaan.
Ketika mushala roboh dan puluhan santri wafat dalam sujud, sebagian masyarakat justru menuntut agar pesantren “berpikir modern”, seolah keselamatan hanya tergantung pada kuatnya beton dan baja. Padahal dalam pandangan Islam, dunia ini hanya sebatas sebab, bukan sumber keselamatan. Allah berfirman:
اللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Allah-lah yang menghidupkan dan mematikan, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran [3]: 156).
Baca Juga: Kisah Rafi, Santri yang Wafat dalam Sujud di Reruntuhan Ponpes Al-Khoziny
Ayat ini menegaskan bahwa takdir hidup dan mati berada di tangan Allah. Mengambil sebab adalah kewajiban, tetapi mengaitkan bencana semata pada kelalaian manusia tanpa mengingat peran Ilahi adalah reduksi terhadap makna takdir. Dalam epistemologi Islam, takdir dan ikhtiar tidak dipertentangkan, melainkan disinergikan.
Tradisi pesantren yang menekankan ketaatan kepada guru bukanlah bentuk ketundukan buta, melainkan latihan ruhani untuk membunuh ego. Kiai bukan figur yang harus disalahkan ketika musibah terjadi, sebab kiai sejati bukanlah penguasa duniawi, melainkan penjaga nilai ukhrawi. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama di antara kami.” (HR. Ahmad)
Ketaatan kepada ulama dan guru dalam pesantren adalah bagian dari penghormatan terhadap ilmu, bukan bentuk feodalisme spiritual. Justru, dengan ketaatan inilah lahir ribuan ulama, guru, dan pendidik yang istiqamah menyebarkan Islam dengan kesabaran dan keikhlasan.
Menyalahkan pesantren karena bangunannya sederhana juga menandakan ketidaktahuan terhadap realitas sosial pesantren. Banyak pondok berdiri dari gotong royong masyarakat kecil—para petani, nelayan, dan pedagang—yang mewakafkan tanah dan hartanya untuk pendidikan agama. Kekuatan pesantren bukan pada megahnya gedung, melainkan pada kokohnya akhlak dan keilmuan yang tumbuh di dalamnya.
Baca Juga: Kisah Rafi, Santri yang Wafat dalam Sujud di Reruntuhan Ponpes Al-Khoziny
Rasulullah ﷺ sendiri hidup sederhana; rumah beliau terbuat dari tanah liat, beratapkan pelepah kurma. Namun dari rumah yang sederhana itu lahir peradaban agung. Islam tidak pernah mensyaratkan kemewahan materi sebagai tanda keberkahan, justru kesederhanaan adalah ciri jalan para nabi.
Tragedi Al-Khoziny semestinya menjadi momen refleksi, bukan saling menyalahkan. Ia mengingatkan kita bahwa iman tidak menjamin bebas dari musibah, tetapi mengajarkan cara menghadapi musibah dengan sabar dan ikhlas. Dalam logika iman, bahkan kematian santri dalam sujud adalah kemuliaan, bukan kegagalan.
Alih-alih merendahkan tradisi pesantren, seharusnya masyarakat modern belajar dari kekokohan spiritual mereka: kepatuhan tanpa pamrih, doa yang tak pernah putus, dan keikhlasan dalam menerima takdir. Sebab di tengah dunia yang kian bising oleh kritik dan ketidakpercayaan, pesantren masih menjaga nyala iman yang tak pernah padam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








