Aktivis Klaim Keruk Data 86 Juta Lagu Spotify, Platform Lakukan Investigasi

AKURAT.CO Kelompok aktivis mengklaim telah mengeruk puluhan juta file musik dari Spotify dan berencana merilisnya ke publik. Klaim ini langsung memicu sorotan karena berpotensi disalahgunakan untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kelompok bernama Anna's Archive menyebut telah menyalin sekitar 86 juta file audio dari Spotify. Selain itu, mereka mengklaim juga mengambil 256 juta baris metadata, termasuk nama artis dan album.
Spotify membenarkan adanya aktivitas tidak sah terkait pengikisan data di platformnya. Namun, perusahaan menegaskan bahwa data tersebut tidak mencakup seluruh katalog Spotify yang berisi lebih dari 100 juta lagu.
Perusahaan berbasis di Stockholm itu mengatakan telah menonaktifkan akun-akun yang terlibat dalam aktivitas ilegal. Spotify juga menyebut pihak ketiga menggunakan cara melanggar hukum untuk menghindari sistem manajemen hak digital (DRM).
Menurut Spotify, file musik yang diambil diyakini bukan lagu yang belum dirilis. Sementara itu, Anna's Archive menyatakan tujuan mereka adalah membangun arsip pelestarian musik global, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Kamis (25/12/2025).
Kelompok tersebut mengklaim data audio itu mewakili hampir seluruh musik yang paling sering diputar pengguna Spotify. File-file tersebut rencananya akan dibagikan melalui jaringan torrent.
Isu ini memunculkan kekhawatiran soal pemanfaatan musik bajakan untuk pelatihan AI. Komposer dan aktivis hak cipta Ed Newton-Rex menilai praktik penggunaan data ilegal sudah umum terjadi di industri AI.
Ia menegaskan bahwa musik hasil kebocoran hampir pasti akan digunakan untuk melatih model AI. Karena itu, ia mendorong pemerintah mewajibkan perusahaan AI membuka sumber data pelatihan mereka.
Anna's Archive juga menyinggung LibGen, arsip buku bajakan yang sebelumnya dikaitkan dengan pelatihan model AI Meta. Meski Meta sempat memenangkan gugatan, proses hukum terkait hak cipta tersebut masih berlanjut.
Menanggapi kasus ini, Spotify mengaku telah memperkuat sistem perlindungan internal. Perusahaan juga menyatakan akan terus memantau aktivitas mencurigakan untuk mencegah pelanggaran serupa di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal



