Bukan Lagi Sekadar Kecepatan, Operator Mulai Fokus Monetisasi 5G

AKURAT.CO Operator telekomunikasi global mulai mengubah strategi bisnis 5G. Fokusnya kini bukan hanya memperluas jaringan, tetapi mencari cara agar investasi 5G bisa menghasilkan keuntungan.
Pada fase awal, 5G dipasarkan sebagai internet super cepat untuk pengguna smartphone. Namun banyak pelanggan merasa pengalaman 5G belum jauh berbeda dibanding 4G biasa.
Hal ini membuat operator kesulitan menaikkan pendapatan hanya dari paket data reguler. Karena itu, mereka mulai mencari model bisnis baru berbasis layanan premium, sebagaimana dikutip dari GSMA Intelligence, Jumat (8/5/2026).
Salah satu strategi yang mulai dikembangkan adalah network slicing. Teknologi ini membuat operator dapat membuat jalur internet khusus dengan kualitas berbeda dalam satu jaringan 5G.
Lewat network slicing, pelanggan tertentu bisa mendapat koneksi lebih stabil dan latensi rendah. Layanan seperti ini dianggap cocok untuk gaming, video streaming dan industri digital.
Dikutip dari The Economic Times, Bharti Airtel India mulai mengeksplorasi monetisasi 5G lewat layanan premium. Reliance Jio juga disebut mulai menyiapkan layanan berbasis kualitas koneksi.
Baca Juga: 5G dan AI Jadi Kunci Percepatan Ekonomi Digital Indonesia
Operator di Korea Selatan dan Amerika Serikat lebih dulu mencoba paket 5G premium. Mereka menawarkan pengalaman internet prioritas untuk pelanggan tertentu.
Dikutip dari CNBC, sektor bisnis mulai menjadi target utama monetisasi 5G. Operator melihat peluang besar dari kebutuhan industri terhadap koneksi stabil dan real-time.
Pabrik pintar, logistik, hingga otomasi industri menjadi pasar baru 5G. Teknologi ini dinilai cocok untuk mendukung mesin otomatis dan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI).
Banyak operator juga mulai menjual layanan private 5G network. Jaringan khusus ini dibuat untuk perusahaan agar koneksi lebih aman dan terkendali.
Di Asia Pasifik, operator mulai menawarkan layanan dengan jaminan kualitas jaringan atau SLA. Strategi ini dianggap lebih menjanjikan dibanding hanya menjual kuota internet biasa.
Model monetisasi lain yang berkembang adalah Fixed Wireless Access atau FWA berbasis 5G. Layanan ini dipakai sebagai alternatif internet rumah tanpa perlu kabel fiber optik.
Di Indonesia, arah monetisasi 5G mulai terlihat meski masih tahap awal. Operator mulai menawarkan bundling premium dan layanan internet rumah berbasis 5G seperti Fixed Wireless Access (FWA).
Namun tantangan terbesar di Indonesia masih soal biaya pembangunan jaringan dan daya beli pelanggan. Karena itu, operator cenderung lebih hati-hati dalam memperluas layanan premium 5G.
Kondisi ini membuat industri telekomunikasi mulai melihat 5G bukan sekadar teknologi internet cepat. Jaringan generasi kelima kini mulai diposisikan sebagai layanan premium dan infrastruktur bisnis digital masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








