Tarif Trump Berpotensi Bikin Harga iPhone Tembus Rp40 Jutaan

AKURAT.CO Kebijakan tarif impor baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, diperkirakan akan berdampak besar pada harga produk teknologi. Salah satu yang paling terdampak adalah iPhone buatan Apple.
Tarif baru tersebut dikenakan pada berbagai produk impor dari China dengan besaran mencapai 54 persen. Padahal, sebagian besar produksi iPhone masih bergantung pada pabrik di negara tersebut.
Analis menilai harga iPhone bisa naik antara 30 persen hingga 40 persen apabila Apple membebankan biaya tambahan kepada konsumen. Kenaikan ini dinilai dapat mengubah pasar smartphone premium secara signifikan.
Model iPhone 16 yang saat ini dijual mulai US$799 (sekitar Rp13,9 jutaan) diperkirakan bisa naik menjadi sekitar US$1.142 (sekitar Rp19,8 jutaan), sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa (12/5/2026).
Sementara itu, iPhone 16 Pro Max dengan kapasitas penyimpanan 1TB berpotensi mengalami lonjakan harga lebih tinggi. Perangkat yang saat ini dijual US$1.599 (sekitar Rp27,8 jutaan) diprediksi bisa naik hingga hampir US$2.300 (sekitar Rp40 jutaan).
Dampak kebijakan tarif juga langsung terasa pada saham Apple di pasar keuangan. Saham perusahaan tersebut turun 9,3 persen dan menjadi penurunan harian terbesar sejak Maret 2020.
Baca Juga: Chip A20 Pro di iPhone 18 Pro Bawa Teknologi 2nm dan Peningkatan AI
Pada periode pertama pemerintahan Trump, Apple sempat memperoleh pengecualian tarif untuk beberapa produknya. Namun kali ini pemerintah AS belum memberikan sinyal adanya keringanan serupa.
Produk Apple lain diperkirakan ikut terdampak oleh kebijakan tersebut. iPhone 16e yang dijual mulai US$599 (sekitar Rp10,4 jutaan) diprediksi bisa naik menjadi sekitar US$856 (sekitar Rp14,9 jutaan) jika tarif diterapkan penuh.
Apple sebenarnya mulai memindahkan sebagian produksi ke India dan Vietnam untuk mengurangi ketergantungan pada China. Meski begitu, kedua negara tersebut juga terkena tarif baru dari pemerintah AS.
Vietnam dikenai tarif impor sebesar 46 persen, sedangkan India sebesar 26 persen. Kondisi ini membuat upaya diversifikasi produksi Apple belum sepenuhnya mampu menekan biaya tambahan.
Di sisi lain, penjualan iPhone saat ini sedang mengalami perlambatan di sejumlah pasar utama. Fitur kecerdasan buatan Apple Intelligence dinilai belum cukup menarik untuk mendorong pengguna membeli model terbaru.
Analis memperkirakan Apple kemungkinan menunda kenaikan harga besar hingga peluncuran iPhone 17 pada akhir tahun ini. Situasi tersebut juga berpotensi memberi keuntungan bagi Samsung yang menghadapi tarif impor lebih rendah dibanding China.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







