Akurat Logo

Rupiah Tertekan ke Rp17.862, Pasar Tunggu Keputusan BI Besok

Esha Tri Wahyuni | 18 Agustus 2026, 17:55 WIB
Rupiah Tertekan ke Rp17.862, Pasar Tunggu Keputusan BI Besok
Ilustrasi Mata Uang Rupiah (Source: Freepik)

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa (18/8/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.862 per USD, melemah 64 poin atau 0,36% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.798 per USD.

Tekanan terhadap rupiah datang ketika pasar global kembali dibayangi kenaikan harga minyak mentah akibat meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Situasi tersebut berpotensi menambah kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor energi Indonesia, sementara pelaku pasar domestik juga menunggu keputusan Bank Indonesia (BI) mengenai suku bunga acuan pada Rabu (19/8/2026).

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca Juga: Rupiah Ditaksir Menguat ke Rp17.750 Jelang Putusan BI Rate

"Indeks dolar AS menguat pada perdagangan Selasa. Penguatan dolar ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga minyak," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa (18/8/2026).

Pasar energi kembali menghadapi tekanan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tidak akan mengupayakan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.

Kesepakatan tersebut sebelumnya menjadi salah satu faktor yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Namun, ketegangan kembali meningkat setelah upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik secara permanen menemui jalan buntu. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan beralih ke postur militer yang "sepenuhnya ofensif" jika jalur diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan.

Ketidakpastian tersebut langsung tercermin di pasar minyak. Harga minyak Brent pada Selasa berada di sekitar USD91,22 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mencapai USD85,31 per barel. Kenaikan tersebut membawa harga minyak ke level tertinggi dalam hampir tiga pekan.

Salah satu titik yang menjadi perhatian pasar adalah Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu koridor utama perdagangan minyak dunia sehingga gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut dapat memperketat pasokan energi global.

Reuters melaporkan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah turun drastis dibandingkan kondisi sebelum konflik. Pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan gangguan yang berlangsung lebih lama, bukan sekadar gangguan sementara.

Selain ketegangan di Hormuz, serangan kelompok Houthi terhadap kapal di Laut Merah juga menambah risiko terhadap jalur perdagangan energi dan logistik global.

Kondisi tersebut membuat pasar kembali menghitung risiko inflasi apabila harga minyak bertahan tinggi. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak memiliki implikasi langsung terhadap kebutuhan devisa karena sebagian kebutuhan energi masih dipenuhi melalui impor.

Kenaikan harga minyak bukan hanya persoalan pasar energi. Bagi nilai tukar rupiah, pergerakan harga minyak juga berkaitan dengan kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi.

Ketika harga minyak mentah meningkat, nilai transaksi impor energi dalam denominasi dolar AS ikut meningkat apabila volume impor tidak berubah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS di pasar domestik.

"Ketika harga minyak mentah naik, kebutuhan dolar untuk pembayaran impor energi juga meningkat. Kondisi ini dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah, terutama ketika dolar AS secara global juga menguat," ujar Ibrahim.

Baca Juga: Rupiah Rp17.500 Jadi Asumsi RAPBN 2027, Ini Alasannya

Tekanan tersebut menjadi semakin penting karena rupiah saat ini berada di level yang sensitif terhadap sentimen eksternal. Pada perdagangan Selasa, rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp17.880 sebelum akhirnya ditutup pada Rp17.862 per USD.

Dengan posisi tersebut, arah harga minyak dan indeks dolar AS menjadi dua faktor eksternal yang akan terus diperhatikan pasar valuta asing dalam beberapa hari ke depan.

Dari sisi domestik, pasar juga mencermati posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia.

Bank Indonesia mencatat ULN Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai USD453,4 miliar atau sekitar Rp8.089,1 triliun. Angka tersebut tumbuh 4,4% secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 sebesar USD444,4 miliar atau sekitar Rp7.928,5 triliun.

Berdasarkan komponennya, ULN pemerintah pada triwulan II 2026 tercatat USD216,3 miliar atau sekitar Rp3.860,4 triliun. Angka tersebut tumbuh 2,9% secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2026 sebesar 3,8%.

Perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi aliran masuk Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi tersebut menunjukkan pembiayaan pemerintah masih memperoleh dukungan dari investor.

Sementara itu, ULN swasta masih mengalami kontraksi meskipun kontraksinya semakin rendah. Bank Indonesia menilai perkembangan ULN pada triwulan II 2026 tetap terjaga dengan dukungan peningkatan ULN publik dan kontraksi ULN swasta yang semakin rendah.

Dengan demikian, posisi ULN belum menjadi satu-satunya faktor yang menentukan pergerakan rupiah. Pasar saat ini lebih sensitif terhadap kombinasi sentimen global, kebutuhan valuta asing, aliran modal, serta respons kebijakan moneter.

Faktor domestik yang paling dekat dengan pergerakan rupiah adalah keputusan Bank Indonesia setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026.

BI Rate saat ini berada di level 5,75%. Bank Indonesia terakhir menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% pada RDG 17-18 Juni 2026. Sebelumnya, BI juga menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni dan 50 basis poin pada Mei.

Keputusan BI pada Rabu (19/8/2026) menjadi perhatian karena bank sentral harus menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Di satu sisi, suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu menjaga daya tarik aset rupiah dan meredam tekanan terhadap nilai tukar. Namun, di sisi lain, biaya dana yang lebih tinggi dapat memberikan konsekuensi terhadap penyaluran kredit dan aktivitas ekonomi.

Ibrahim memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada RDG kali ini.

"Pasar akan melihat bagaimana Bank Indonesia merespons tekanan terhadap rupiah, terutama dari sisi stabilitas nilai tukar, inflasi dan kondisi eksternal. Keputusan suku bunga akan menjadi salah satu faktor penting bagi arah rupiah berikutnya," kata dia.

Selain keputusan BI Rate, pasar akan mencermati pernyataan bank sentral mengenai stabilitas rupiah, prospek inflasi, kondisi likuiditas perbankan, serta perkembangan kredit hingga akhir tahun.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.