AKURAT.CO Persaingan industri kecerdasan buatan kembali memanas setelah Google DeepMind dilaporkan merekrut puluhan peneliti dari startup AI bernama Contextual AI.
Langkah ini langsung menarik perhatian dunia teknologi karena menunjukkan bagaimana perusahaan besar kini berlomba mengamankan talenta AI terbaik di tengah persaingan industri yang semakin agresif.
Kesepakatan tersebut disebut tidak berbentuk akuisisi penuh seperti biasanya. Sebaliknya, Google memilih model lisensi teknologi sambil merekrut sejumlah peneliti utama dari startup tersebut.
Strategi seperti ini mulai sering digunakan perusahaan teknologi besar untuk mempercepat pengembangan AI tanpa harus membeli seluruh perusahaan.
Bagi industri teknologi, langkah ini menunjukkan bahwa perang AI kini bukan hanya soal chatbot atau model bahasa besar, tetapi juga perebutan ilmuwan dan peneliti yang memiliki teknologi penting di balik sistem AI modern.
DeepMind Rekrut Lebih dari 20 Peneliti AI
Mengutip Reuters, Google DeepMind merekrut lebih dari 20 peneliti dari Contextual AI sebagai bagian dari perjanjian lisensi teknologi bernilai sekitar US$80 juta hingga US$90 juta atau sekitar Rp1,3 triliun hingga Rp1,4 triliun.
Salah satu nama yang ikut bergabung adalah Douwe Kiela, co-founder sekaligus CEO Contextual AI. Kehadiran tokoh penting startup tersebut memperlihatkan betapa seriusnya Google dalam memperkuat divisi AI mereka.
Contextual AI sendiri dikenal sebagai startup yang fokus pada pengembangan teknologi retrieval-augmented generation (RAG), sistem yang membantu AI mengambil informasi lebih akurat dari sumber data eksternal sebelum menghasilkan jawaban.
Teknologi seperti ini menjadi sangat penting karena banyak perusahaan AI kini berusaha meningkatkan akurasi chatbot dan mengurangi halusinasi AI yang sering menghasilkan jawaban salah atau menyesatkan.
Strategi Baru Perusahaan Teknologi Besar
Kesepakatan antara Google dan Contextual AI memperlihatkan tren baru di industri AI global. Banyak perusahaan besar kini memilih melakukan “acquihire”, yaitu merekrut tim inti startup sekaligus melisensi teknologinya tanpa mengakuisisi perusahaan sepenuhnya.
Model ini dianggap lebih cepat dan lebih aman dari pengawasan regulator antimonopoli dibanding akuisisi tradisional bernilai besar. Sebelumnya, Google juga melakukan pendekatan serupa terhadap beberapa startup AI lain.
Fenomena ini muncul karena kebutuhan talenta AI terus meningkat. Perusahaan seperti Google, Microsoft, OpenAI, hingga Anthropic kini bersaing mendapatkan peneliti terbaik untuk mempercepat pengembangan model AI generasi berikutnya.
Di sisi lain, startup AI juga semakin bernilai tinggi. Banyak perusahaan baru di sektor AI kini mendapatkan valuasi fantastis hanya dalam waktu singkat karena investor percaya teknologi AI masih akan menjadi pusat industri teknologi global dalam beberapa tahun mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal





