Akurat Logo

Daya Saing Digital Indonesia Meningkat, Mengapa Kesenjangan Antarprovinsi Masih Lebar?

Idham Nur Indrajaya | 24 Juni 2026, 18:25 WIB
Daya Saing Digital Indonesia Meningkat, Mengapa Kesenjangan Antarprovinsi Masih Lebar?
Daya saing digital Indonesia naik pada 2026, tetapi kesenjangan antarprovinsi masih lebar. Simak penyebab dan tantangannya. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Indonesia mencatat kemajuan signifikan dalam transformasi digital. Akses internet semakin luas, layanan digital makin terintegrasi, dan pemanfaatan teknologi terus berkembang di berbagai sektor. Namun di balik kabar baik tersebut, terdapat pertanyaan penting: mengapa kesenjangan digital antarprovinsi masih begitu lebar?

Laporan East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 menunjukkan skor daya saing digital Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Akan tetapi, peningkatan tersebut belum sepenuhnya diikuti pemerataan kemampuan digital di seluruh daerah. Beberapa provinsi melesat jauh, sementara sebagian lainnya masih tertinggal.

Fenomena ini menjadi sinyal bahwa tantangan transformasi digital Indonesia kini tidak lagi sekadar menghadirkan koneksi internet, tetapi memastikan teknologi benar-benar menghasilkan nilai ekonomi, produktivitas, dan peluang kerja yang merata.

Ringkasan

Meski skor daya saing digital Indonesia meningkat, kesenjangan antarprovinsi masih terjadi karena beberapa faktor utama:

  • Infrastruktur digital belum merata sepenuhnya.

  • Kualitas sumber daya manusia digital berbeda antarwilayah.

  • Adopsi teknologi oleh UMKM masih timpang.

  • Aktivitas ekonomi digital masih terkonsentrasi di daerah tertentu.

  • Talenta digital dan AI lebih banyak tersedia di kota-kota besar.

  • Ekosistem inovasi belum berkembang secara merata.

Dengan kata lain, akses digital memang semakin luas, tetapi kemampuan memanfaatkan akses tersebut masih sangat beragam.

Apa Itu EV-DCI 2026 dan Mengapa Penting?

EV-DCI atau East Ventures – Digital Competitiveness Index merupakan indeks yang mengukur tingkat daya saing digital di berbagai wilayah Indonesia.

Laporan EV-DCI 2026 mencakup 38 provinsi dan 157 kota/kabupaten dengan pengukuran berdasarkan tiga subindeks utama, yaitu Input, Output, dan Penunjang. Ketiganya kemudian diterjemahkan ke dalam sembilan pilar dan 50 indikator yang menggambarkan kondisi digital suatu daerah.

Sejak pertama kali diluncurkan pada 2020, indeks ini menjadi salah satu referensi penting untuk melihat sejauh mana transformasi digital berkembang di Indonesia.

Menurut Co-Founder dan Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengubah infrastruktur digital menjadi manfaat ekonomi yang nyata.

“Dengan akses digital yang semakin terdistribusi dengan baik, keunggulan kompetitif Indonesia terletak pada kesediaan kita untuk mendorong efisiensi dalam pengumpulan data, membangun platform yang terintegrasi untuk memproses data tersebut, serta mendistribusikan informasi yang tepercaya,” kata Willson Cuaca melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO,

Ia menambahkan bahwa integrasi kapabilitas tersebut ke dalam program nasional akan membantu perencanaan yang lebih baik, pemantauan secara real time, dan respons yang lebih cepat terhadap berbagai tantangan di lapangan.

Mengapa Skor Daya Saing Digital Indonesia Terus Naik?

Data EV-DCI menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Perkembangan skor nasional adalah sebagai berikut:

  • 35,2 pada 2022

  • 37,8 pada 2023

  • 38,1 pada 2024

  • 38,8 pada 2025

  • 42,2 pada 2026

Jika dibandingkan dengan awal pelaporan, rata-rata skor provinsi meningkat lebih dari 50 persen sejak tahun 2020.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak lagi menjadi fenomena yang hanya terjadi di kota besar. Infrastruktur telekomunikasi terus berkembang, penggunaan internet meningkat, dan berbagai layanan publik maupun bisnis semakin mengandalkan teknologi digital.

Selain itu, digitalisasi kini juga masuk ke dalam berbagai Program Prioritas Nasional sehingga mendorong percepatan transformasi di banyak sektor.

Namun angka-angka tersebut perlu dibaca secara lebih mendalam. Kenaikan skor nasional memang menunjukkan kemajuan, tetapi tidak otomatis berarti semua daerah berkembang dengan kecepatan yang sama.

Mengapa Kesenjangan Digital Antarprovinsi Masih Besar?

Inilah paradoks utama yang diungkap EV-DCI 2026.

Sebanyak 37 dari 38 provinsi mengalami peningkatan skor. Namun kesenjangan antara provinsi dengan skor tertinggi dan terendah masih sangat besar.

DKI Jakarta kembali menjadi provinsi dengan daya saing digital tertinggi, diikuti Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan DI Yogyakarta. Bahkan selama enam tahun terakhir, DKI Jakarta dan Jawa Barat konsisten berada di posisi pertama dan kedua.

Sementara itu, selisih skor antara provinsi tertinggi dan terendah masih mencapai hampir 60 poin.

Angka tersebut mengindikasikan bahwa sebagian wilayah Indonesia hampir dua kali lebih siap secara digital dibanding wilayah lainnya.

Masalahnya bukan semata-mata soal internet.

Di banyak daerah, konektivitas memang sudah tersedia. Namun aktivitas ekonomi digital, investasi teknologi, talenta digital, dan inovasi masih terkonsentrasi di wilayah tertentu, terutama Pulau Jawa.

Akibatnya, manfaat ekonomi dari transformasi digital juga terkonsentrasi pada wilayah yang sama.

Papua Barat Daya Memberikan Pelajaran Penting

Salah satu temuan menarik dalam laporan EV-DCI 2026 adalah lonjakan Papua Barat Daya yang naik 15 peringkat.

Peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya pilar Infrastruktur, terutama melalui peningkatan rasio desa yang mendapatkan sinyal 4G.

Selain itu, berbagai indikator dalam pilar Kewirausahaan dan Produktivitas juga mengalami pertumbuhan, termasuk penggunaan internet untuk aktivitas penjualan melalui media sosial.

Kasus Papua Barat Daya memberikan pelajaran penting.

Ketika konektivitas meningkat dan masyarakat mulai memanfaatkan internet untuk kegiatan ekonomi, dampak positif dapat terlihat dalam waktu relatif cepat.

Namun keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur harus diikuti dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi.

Tanpa itu, internet hanya menjadi fasilitas komunikasi, bukan mesin pertumbuhan ekonomi.

Kesenjangan Digital Saat Ini Bukan Lagi Soal Sinyal

Selama bertahun-tahun, diskusi mengenai pemerataan digital di Indonesia sering berfokus pada pembangunan jaringan internet.

Kini tantangannya berubah.

Persoalan terbesar bukan lagi siapa yang memiliki sinyal, melainkan siapa yang mampu menghasilkan nilai ekonomi dari sinyal tersebut.

Ini adalah pergeseran yang sangat penting.

Dua daerah bisa sama-sama memiliki akses internet 4G. Namun hasil ekonominya bisa sangat berbeda tergantung bagaimana teknologi dimanfaatkan.

Di sinilah letak tantangan transformasi digital Indonesia pada fase berikutnya.

Keberhasilan tidak lagi diukur dari jumlah pengguna internet semata, tetapi dari produktivitas yang dihasilkan melalui pemanfaatan teknologi digital.

Baca Juga: Indonesia Bidik Ekspor UMKM Lewat Digitalisasi dan AI

Baca Juga: Etika Jadi Benteng Terakhir Jurnalis di Tengah Badai Konten Digital

Simulasi: Mengapa Internet Saja Tidak Cukup?

Bayangkan ada dua pelaku UMKM.

UMKM pertama berada di kota yang memiliki ekosistem digital kuat. Pemilik usaha menggunakan marketplace, sistem pembayaran digital, iklan online, dan mulai memanfaatkan AI untuk membuat konten pemasaran.

Dalam setahun, pelanggan bertambah dan akses pembiayaan menjadi lebih mudah karena memiliki rekam jejak transaksi digital.

Sementara itu, UMKM kedua berada di daerah yang juga sudah memiliki internet.

Namun pemilik usaha hanya menggunakan internet untuk komunikasi sehari-hari. Produk belum dipasarkan secara digital dan transaksi masih dilakukan secara manual.

Kedua UMKM sama-sama memiliki akses internet.

Tetapi hasil ekonominya berbeda jauh.

Ilustrasi sederhana ini menunjukkan bahwa konektivitas hanyalah langkah awal. Faktor pembeda sesungguhnya adalah kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan nilai tambah.

Transformasi Digital Indonesia Memasuki Babak Baru

Laporan EV-DCI 2026 menegaskan bahwa Indonesia sedang memasuki fase baru transformasi digital.

Jika sebelumnya fokus utama adalah memperluas adopsi teknologi, kini tantangan berikutnya adalah menciptakan nilai digital atau digital value creation.

Artinya, teknologi harus mampu:

  • Meningkatkan produktivitas.

  • Mendorong kewirausahaan digital.

  • Memperluas akses ekonomi.

  • Menciptakan lapangan kerja berkualitas.

  • Meningkatkan kualitas layanan publik.

Transformasi digital tidak boleh berhenti pada pembangunan infrastruktur. Nilai ekonomi yang dihasilkan harus menjadi ukuran utama keberhasilan.

Mengapa Talenta AI Menjadi Faktor Penentu Berikutnya?

Salah satu sorotan penting dalam EV-DCI 2026 adalah perlambatan perkembangan talenta digital.

Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berlangsung sangat cepat.

Kondisi ini menciptakan tantangan baru.

Kebutuhan pasar tidak lagi terbatas pada literasi digital dasar. Dunia kerja mulai membutuhkan kemampuan yang lebih spesifik, seperti:

  • Pemanfaatan AI dalam bisnis.

  • Analisis data.

  • Otomasi proses kerja.

  • Pengembangan produk berbasis teknologi.

  • Integrasi AI dalam layanan publik.

Negara-negara Asia Tenggara juga terus berinvestasi dalam pengembangan talenta AI. Jika Indonesia tidak mampu mempercepat peningkatan kapasitas SDM digital, maka kesenjangan daya saing dapat semakin melebar.

Padahal kapasitas pusat data dan infrastruktur digital Indonesia diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Tanpa talenta yang siap menghadapi era AI, peluang ekonomi dari investasi tersebut berisiko tidak termanfaatkan secara maksimal.

Apa Dampaknya bagi UMKM, Daerah, dan Dunia Kerja?

Bagi UMKM

Digitalisasi membuka peluang pasar yang lebih luas, efisiensi operasional, dan akses pembiayaan yang lebih baik.

Namun UMKM yang tidak beradaptasi berpotensi kehilangan daya saing.

Bagi Dunia Kerja

Permintaan terhadap keterampilan digital dan AI akan terus meningkat.

Pekerja yang mampu beradaptasi akan memiliki peluang lebih besar dibanding mereka yang hanya mengandalkan kemampuan konvensional.

Bagi Daerah

Daerah yang mampu membangun ekosistem digital akan lebih mudah menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja baru.

Sebaliknya, daerah yang tertinggal berisiko kehilangan momentum pertumbuhan ekonomi.

Bagi Indonesia

Jika kesenjangan digital tidak segera dipersempit, target menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di kawasan dapat menghadapi hambatan serius.

Pertumbuhan nasional mungkin tetap tinggi, tetapi manfaatnya tidak akan dirasakan secara merata.

Penutup

Laporan EV-DCI 2026 menunjukkan bahwa Indonesia berhasil meningkatkan daya saing digital secara konsisten. Namun keberhasilan tersebut juga mengungkap tantangan yang belum terselesaikan, yaitu kesenjangan antarprovinsi yang masih lebar.

Fase berikutnya dari transformasi digital Indonesia bukan lagi soal menghadirkan internet ke lebih banyak wilayah. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan setiap daerah mampu mengubah konektivitas menjadi produktivitas, inovasi, dan kesempatan ekonomi yang nyata.

Karena pada akhirnya, masa depan ekonomi digital Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang terhubung, tetapi oleh siapa yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan nilai. Pantau terus perkembangan transformasi digital Indonesia untuk melihat bagaimana tantangan besar ini akan dijawab dalam beberapa tahun mendatang.

Baca Juga: BI: Transaksi Digital Indonesia Melonjak, QRIS Tumbuh 95 Persen pada Mei 2026

Baca Juga: Kejar Target Jakarta Masuk 20 Kota Global Dunia di 2045, Pramono Percepat Transformasi Digital

FAQ

Apa itu EV-DCI 2026?

EV-DCI 2026 adalah indeks yang mengukur tingkat daya saing digital di 38 provinsi dan 157 kota/kabupaten di Indonesia berdasarkan berbagai indikator infrastruktur, produktivitas, dan pendukung transformasi digital.

Berapa skor EV-DCI Indonesia tahun 2026?

Skor EV-DCI Indonesia pada 2026 mencapai 42,2, meningkat dari 38,8 pada 2025 dan melanjutkan tren kenaikan yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Provinsi mana yang memiliki daya saing digital tertinggi?

DKI Jakarta menempati posisi pertama, diikuti Jawa Barat dan Jawa Timur. Ketiga provinsi tersebut menjadi wilayah dengan tingkat kesiapan digital tertinggi berdasarkan EV-DCI 2026.

Mengapa Pulau Jawa masih mendominasi?

Pulau Jawa memiliki keunggulan dari sisi infrastruktur, konsentrasi talenta digital, aktivitas ekonomi, investasi teknologi, serta ekosistem inovasi yang lebih matang dibanding banyak wilayah lainnya.

Apa penyebab kesenjangan digital antarprovinsi?

Penyebabnya meliputi perbedaan kualitas infrastruktur, kapasitas SDM digital, tingkat adopsi teknologi oleh UMKM, serta konsentrasi aktivitas ekonomi digital yang belum merata.

Bagaimana AI memengaruhi daya saing digital Indonesia?

AI menjadi faktor penting karena dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan inovasi. Daerah yang mampu mengembangkan talenta AI akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih besar.

Apa yang harus dilakukan daerah untuk meningkatkan daya saing digital?

Daerah perlu memperkuat infrastruktur digital, meningkatkan kualitas SDM, mendorong digitalisasi UMKM, memperluas akses internet yang berkualitas, serta membangun kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.