Akurat Logo

AI Bisa Jadi Pemicu Inflasi Global? Ini Penjelasan Lengkapnya!

Idham Nur Indrajaya | 2 Juli 2026, 19:08 WIB
AI Bisa Jadi Pemicu Inflasi Global? Ini Penjelasan Lengkapnya!
AI selama ini identik dengan efisiensi. Namun, DBS menilai investasi AI justru dapat memicu inflasi global dalam jangka pendek. Berikut penjelasannya. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Selama beberapa tahun terakhir, Artificial Intelligence (AI) hampir selalu dikaitkan dengan efisiensi. Teknologi ini diyakini mampu memangkas biaya operasional, meningkatkan produktivitas pekerja, hingga membantu perusahaan menghasilkan barang dan jasa dengan lebih cepat. Tak sedikit yang memperkirakan AI akan menjadi salah satu kekuatan utama yang membantu menekan inflasi dalam jangka panjang.

Namun, pandangan tersebut mulai mendapat tantangan.

Dalam laporan terbaru DBS Group Research, Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook justru mengingatkan bahwa AI memiliki sisi lain yang belum banyak menjadi perhatian. Sebelum mampu menghadirkan efisiensi, AI terlebih dahulu membutuhkan investasi yang sangat besar untuk membangun seluruh infrastruktur pendukungnya. Proses inilah yang berpotensi menciptakan tekanan inflasi baru di tingkat global.

"Lonjakan investasi Artificial Intelligence (AI) juga mulai muncul sebagai faktor pendorong inflasi dalam jangka pendek. Meskipun AI menjanjikan peningkatan produktivitas, hal tersebut kemungkinan hanya berlaku untuk perspektif jangka panjang," ujar Hou Wey Fook dalam acara DBS CIO Insight yang diselenggarakan beberapa waktu lalu.

Pernyataan tersebut menawarkan sudut pandang yang berbeda dari narasi yang selama ini berkembang. Selama ini, pembahasan mengenai AI lebih banyak berfokus pada manfaatnya dalam meningkatkan efisiensi perusahaan. DBS justru mengajak investor melihat fase yang sedang berlangsung saat ini, yakni periode ketika berbagai perusahaan teknologi berlomba-lomba membangun fondasi AI dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Artinya, paradoks mulai muncul. Teknologi yang suatu hari nanti diperkirakan mampu menurunkan biaya produksi justru berpotensi meningkatkan tekanan harga pada tahap awal pengembangannya.

Perubahan cara pandang ini menjadi penting karena turut memengaruhi proyeksi inflasi, kebijakan suku bunga bank sentral, hingga strategi investasi global.


Mengapa Investasi AI Bisa Mendorong Inflasi Global?

Untuk memahami analisis DBS, AI perlu dilihat bukan hanya sebagai perangkat lunak seperti chatbot atau asisten virtual, melainkan sebagai sebuah ekosistem yang membutuhkan investasi fisik dalam jumlah sangat besar.

Setiap layanan AI yang digunakan masyarakat sesungguhnya ditopang oleh infrastruktur yang sangat kompleks. Agar sebuah model AI dapat beroperasi, perusahaan harus membangun pusat data berskala besar, memasang ribuan chip berperforma tinggi, memperluas jaringan komunikasi, menyediakan sistem pendingin, hingga memastikan pasokan listrik tersedia tanpa henti.

Semua kebutuhan tersebut membutuhkan belanja modal yang nilainya mencapai miliaran dolar.

Menurut Hou Wey Fook, fase inilah yang menjadi sumber tekanan inflasi baru.

"Fase saat ini masih padat belanja modal dan terkendala pasokan. Dalam jangka pendek, investasi besar-besaran di AI berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, mengingat pembangunan infrastruktur masif meningkatkan permintaan terhadap berbagai kebutuhan, mulai dari perangkat lunak dan komponen elektronik hingga konsumsi listrik," jelasnya.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa lonjakan investasi AI menciptakan efek berantai pada berbagai sektor ekonomi.

Ketika perusahaan teknologi secara bersamaan membangun pusat data baru, permintaan terhadap semikonduktor meningkat tajam. Pada saat yang sama, kebutuhan baja, tembaga, kabel, sistem pendingin, perangkat jaringan, hingga energi listrik juga ikut melonjak.

Jika kapasitas produksi belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan tersebut, harga berbagai komponen akan terdorong naik.

Fenomena seperti ini merupakan salah satu mekanisme dasar terbentuknya inflasi, yakni ketika permintaan tumbuh lebih cepat dibanding kemampuan pasokan untuk memenuhinya.


Paradoks AI: Menekan Biaya di Masa Depan, Menaikkan Biaya Hari Ini

Di sinilah letak paradoks yang menjadi inti analisis DBS.

AI memang berpotensi menciptakan efisiensi luar biasa. Dalam jangka panjang, teknologi ini diperkirakan mampu mengurangi biaya operasional perusahaan, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mempercepat inovasi, bahkan menekan biaya produksi di berbagai sektor.

Namun, manfaat tersebut tidak muncul secara instan.

Sebelum efisiensi tercapai, dunia harus melewati fase investasi besar-besaran untuk membangun fondasi AI terlebih dahulu.

Ilustrasinya dapat dianalogikan dengan pembangunan jalan tol.

Ketika sebuah jalan tol selesai dibangun, biaya distribusi barang biasanya menjadi lebih murah karena perjalanan lebih cepat dan efisien. Akan tetapi, sebelum manfaat itu dirasakan, pemerintah maupun investor harus mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk pembebasan lahan, pembangunan konstruksi, pembelian material, hingga perekrutan tenaga kerja.

AI bekerja dengan logika yang serupa.

Sebelum perusahaan menikmati peningkatan produktivitas, mereka harus terlebih dahulu menginvestasikan dana dalam jumlah sangat besar untuk membangun infrastruktur digital yang mampu menopang teknologi tersebut.

DBS menilai dunia saat ini masih berada pada fase pembangunan itu. Karena itu, tekanan terhadap inflasi diperkirakan masih akan bertahan dalam jangka pendek, terlebih ketika gelombang investasi AI berlangsung bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan tingginya harga energi.

Baca Juga: Inflasi Masih Sesuai Target BI, Kenaikan BBM Dominasi Tekanan Harga

Baca Juga: Tak Lagi Dipicu Pangan, Inflasi Juni 2026 Didorong Biaya Transportasi

AI Bukan Satu-satunya Penyebab, Geopolitik dan Energi Memperbesar Tekanan Inflasi

DBS menekankan bahwa AI bukanlah faktor tunggal yang mendorong kenaikan inflasi. Justru yang menjadi perhatian adalah ketika investasi AI berlangsung bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan perubahan kebijakan fiskal di berbagai negara.

Kombinasi beberapa faktor tersebut menciptakan tekanan harga yang lebih sulit dikendalikan dibandingkan periode sebelumnya.

Menurut Hou Wey Fook, kondisi global saat ini menunjukkan bahwa berbagai asumsi lama mengenai inflasi perlu ditinjau kembali.

"Alih-alih meredakan ketegangan global dan memulihkan kebijakan fiskal yang penuh kehati-hatian, bauran kebijakan AS saat ini justru berkontribusi pada peningkatan risiko geopolitik, belanja pertahanan lebih tinggi, serta defisit yang lebih lebar secara struktural," katanya.

Artinya, tekanan inflasi tidak lagi hanya dipengaruhi oleh naik turunnya harga minyak atau gangguan rantai pasok seperti yang terjadi setelah pandemi COVID-19. Kini, dunia menghadapi beberapa sumber tekanan harga secara bersamaan.

DBS mengidentifikasi sejumlah faktor yang saling memperkuat, yaitu:

  • investasi AI dalam skala besar;

  • meningkatnya pengeluaran pemerintah untuk sektor pertahanan;

  • konflik geopolitik, khususnya di Timur Tengah;

  • kebutuhan energi yang terus bertambah;

  • defisit fiskal yang lebih besar di sejumlah negara.

Ketika seluruh faktor tersebut bergerak pada waktu yang sama, tekanan terhadap inflasi menjadi lebih persisten. Dengan kata lain, inflasi bukan lagi fenomena yang mudah mereda hanya karena rantai pasok mulai pulih.

Mengapa Kebutuhan Energi AI Menjadi Perhatian Baru?

Salah satu aspek yang masih jarang dibahas adalah besarnya kebutuhan energi dalam pengembangan AI.

Selama ini masyarakat lebih mengenal AI sebagai teknologi digital yang bekerja "di awan" (cloud). Padahal, setiap permintaan yang diproses oleh model AI membutuhkan kapasitas komputasi yang dijalankan di ribuan server fisik yang beroperasi tanpa henti.

Server-server tersebut membutuhkan pasokan listrik yang stabil dalam jumlah sangat besar.

Semakin banyak perusahaan mengembangkan model AI generatif, semakin besar pula kebutuhan terhadap pusat data, sistem pendingin, jaringan transmisi listrik, hingga pembangkit energi.

Dalam praktiknya, pembangunan satu pusat data AI berskala besar dapat mengonsumsi listrik setara kebutuhan puluhan hingga ratusan ribu rumah tangga. Ketika proyek serupa dibangun secara bersamaan di berbagai negara, permintaan energi meningkat signifikan.

DBS menilai kondisi ini berpotensi mempertahankan harga energi pada level yang relatif tinggi.

Dampaknya tidak berhenti pada sektor teknologi.

Harga energi merupakan komponen biaya bagi hampir seluruh industri, mulai dari manufaktur, logistik, transportasi, hingga sektor pangan. Ketika biaya energi meningkat, perusahaan pada akhirnya akan meneruskan sebagian kenaikan biaya tersebut kepada konsumen dalam bentuk harga barang dan jasa yang lebih tinggi.

Di sinilah AI memiliki efek tidak langsung terhadap inflasi.

Teknologi tersebut bukan penyebab utama kenaikan harga, tetapi investasi besar yang menyertainya ikut memperbesar permintaan energi dan berbagai komoditas penting.

Mengapa Kondisi Ini Membuat Bank Sentral Semakin Berhati-hati?

Selama beberapa bulan terakhir, sebagian pelaku pasar berharap bank-bank sentral utama dunia akan kembali memangkas suku bunga seiring meredanya inflasi.

Namun, menurut DBS, harapan tersebut menjadi semakin menantang untuk diwujudkan.

Jika inflasi bertahan lebih lama akibat kombinasi investasi AI, konflik geopolitik, dan tingginya harga energi, ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi lebih sempit.

Hou Wey Fook menilai risiko tersebut perlu menjadi perhatian investor.

"Krisis Timur Tengah, bersama dengan ketahanan makro yang didorong oleh belanja modal terkait AI, akan menjaga tekanan inflasi tetap tinggi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut di pasar negara maju," ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan adanya perubahan ekspektasi pasar.

Sebelumnya, banyak investor memperkirakan inflasi akan terus menurun sehingga suku bunga dapat dipangkas lebih cepat. Kini, muncul kemungkinan bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama, bahkan tidak menutup kemungkinan kembali dinaikkan apabila tekanan inflasi meningkat.

Bagi dunia usaha, kondisi tersebut berarti biaya pinjaman tetap mahal. Perusahaan yang ingin berekspansi harus mengeluarkan biaya pendanaan lebih besar, sementara rumah tangga juga menghadapi bunga kredit yang relatif tinggi.

Akibatnya, laju pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat meskipun investasi di sektor AI terus meningkat.

Paradoks AI yang Jarang Dibahas

Salah satu nilai paling menarik dari analisis DBS adalah kemampuannya melihat AI dari perspektif yang lebih luas.

Selama ini, sebagian besar pembahasan mengenai AI berpusat pada peningkatan produktivitas, otomatisasi pekerjaan, dan efisiensi operasional. Semua manfaat tersebut memang berpotensi terwujud.

Namun, sebelum mencapai tahap itu, dunia harus melewati periode investasi yang sangat mahal.

Paradoks inilah yang sering luput dari perhatian.

AI dapat menciptakan dua dampak ekonomi yang berbeda dalam dua fase yang berbeda pula.

Pada fase pertama, ketika infrastruktur masih dibangun, AI mendorong peningkatan permintaan terhadap chip, pusat data, energi, jaringan, dan berbagai komponen industri. Kondisi ini berpotensi memicu tekanan inflasi.

Sementara pada fase kedua, setelah infrastruktur tersedia dan teknologi semakin matang, AI mulai menghasilkan efisiensi, meningkatkan produktivitas, serta membantu perusahaan menekan biaya operasional.

Artinya, AI bukanlah teknologi yang secara otomatis menciptakan inflasi maupun deflasi. Dampaknya bergantung pada fase perkembangan teknologi tersebut.

Analisis DBS memberikan perspektif baru bahwa investor, pelaku usaha, maupun pembuat kebijakan perlu melihat AI sebagai bagian dari siklus ekonomi yang lebih besar, bukan hanya sebagai inovasi digital semata.

Pada akhirnya, memahami paradoks ini menjadi penting karena keputusan investasi, arah kebijakan moneter, hingga strategi bisnis dalam beberapa tahun ke depan kemungkinan besar akan dipengaruhi oleh bagaimana dunia melewati fase pembangunan infrastruktur AI yang sedang berlangsung saat ini.

Baca Juga: BPS: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Dorong Inflasi Transportasi 2,29 Persen di Juni 2026

Baca Juga: Rekomendasi Investasi DBS Q3 2026: Emas Tetap Menarik, Investor Diminta Waspadai Inflasi Baru akibat AI dan Geopolitik

Apa Dampaknya bagi Investor dan Masyarakat?

Bagi sebagian orang, pembahasan mengenai AI, inflasi, atau kebijakan bank sentral mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, hubungan di antara ketiganya dapat memengaruhi berbagai aspek ekonomi, mulai dari biaya hidup, suku bunga pinjaman, hingga kinerja investasi.

Ketika inflasi bertahan lebih tinggi dari perkiraan, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk mengendalikan kenaikan harga. Konsekuensinya, bunga kredit rumah, pinjaman kendaraan, hingga pembiayaan usaha bisa tetap mahal lebih lama.

Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi biaya pendanaan yang lebih besar. Akibatnya, ekspansi bisnis menjadi lebih selektif dan sebagian perusahaan mungkin menunda investasi di luar sektor yang benar-benar memiliki prospek pertumbuhan kuat.

Bagi investor, situasi tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan AI tidak cukup dilihat dari potensi keuntungan perusahaan teknologi semata.

Justru, menurut DBS, peluang investasi juga muncul pada sektor-sektor yang menjadi fondasi berkembangnya AI, seperti:

  • produsen semikonduktor;

  • perusahaan penyedia infrastruktur digital;

  • operator pusat data;

  • sektor utilitas dan energi;

  • perusahaan yang memasok peralatan industri.

Dengan kata lain, AI menciptakan efek ekonomi yang jauh lebih luas dibanding sekadar meningkatkan nilai saham perusahaan teknologi.

AI Sedang Mengubah Peta Investasi Global

Analisis DBS juga menunjukkan bahwa AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mulai mengubah arah aliran investasi global.

Selama beberapa dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi dunia banyak didorong oleh konsumsi masyarakat dan sektor jasa. Kini, dunia memasuki fase baru ketika investasi fisik kembali menjadi mesin pertumbuhan.

Pusat data berskala besar, jaringan transmisi listrik, fasilitas produksi semikonduktor, hingga infrastruktur komputasi berkapasitas tinggi membutuhkan belanja modal dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Fenomena ini menciptakan apa yang oleh banyak analis disebut sebagai siklus investasi baru (new capital expenditure cycle).

Artinya, AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan juga mendorong lahirnya gelombang investasi infrastruktur global.

Bagi investor, perubahan tersebut menghadirkan dua konsekuensi sekaligus.

Di satu sisi, perusahaan yang mampu menjadi bagian dari rantai pasok AI memiliki peluang pertumbuhan yang besar.

Di sisi lain, besarnya kebutuhan investasi juga meningkatkan risiko inflasi, sehingga strategi investasi harus disusun dengan lebih hati-hati.

Inilah alasan mengapa DBS tetap mempertahankan pandangan positif terhadap aset seperti emas dan aset alternatif sebagai pelengkap portofolio di tengah meningkatnya ketidakpastian.

Pelajaran Penting: AI Tidak Selalu Bersifat Deflasi

Salah satu kesimpulan terpenting dari analisis DBS adalah bahwa dampak ekonomi AI tidak bisa dipahami secara hitam putih.

Selama ini berkembang anggapan bahwa setiap inovasi teknologi akan otomatis membuat biaya produksi lebih murah dan inflasi menurun. Dalam jangka panjang, asumsi tersebut memang memiliki dasar yang kuat.

Namun, laporan DBS menunjukkan bahwa terdapat fase transisi yang sering kali terlewat dalam pembahasan publik.

Sebelum AI menghasilkan efisiensi, dunia harus lebih dulu membangun "mesin" yang membuat AI dapat bekerja.

Mesin tersebut bukan hanya berupa perangkat lunak, tetapi juga:

  • pusat data berkapasitas besar;

  • chip AI generasi terbaru;

  • jaringan komunikasi berkecepatan tinggi;

  • sistem pendingin;

  • pembangkit listrik;

  • infrastruktur transmisi energi.

Seluruh investasi itu membutuhkan dana yang sangat besar.

Ketika pembangunan berlangsung secara serentak di berbagai negara, permintaan terhadap bahan baku, energi, tenaga kerja, dan komponen teknologi meningkat tajam. Jika pasokan tidak bertambah secepat permintaan, tekanan inflasi menjadi sulit dihindari.

Inilah paradoks yang menjadi inti analisis DBS.

AI pada akhirnya memang diperkirakan mampu meningkatkan produktivitas dan menekan biaya ekonomi. Akan tetapi, untuk mencapai tahap tersebut, dunia harus terlebih dahulu melewati periode investasi yang justru mendorong kenaikan harga.

Kesimpulan: Inflasi AI Bukan Ancaman Permanen, tetapi Fase yang Perlu Dipahami

Pandangan DBS Group Research memberikan perspektif yang lebih utuh mengenai dampak ekonomi Artificial Intelligence.

Alih-alih melihat AI hanya sebagai teknologi yang meningkatkan efisiensi atau sekadar peluang investasi baru, DBS mengajak investor memahami bahwa transformasi teknologi selalu memiliki biaya ekonomi pada tahap awal.

Seperti disampaikan Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook, lonjakan investasi AI kini menjadi salah satu faktor yang mulai memengaruhi dinamika inflasi global. Bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, belanja pertahanan, dan kebutuhan energi, investasi AI berpotensi membuat tekanan harga bertahan lebih lama dibanding ekspektasi pasar.

Namun, hal itu tidak berarti AI akan terus menjadi sumber inflasi.

Sebaliknya, ketika infrastruktur telah terbangun, kapasitas produksi meningkat, dan teknologi semakin matang, AI justru diperkirakan mampu memberikan manfaat produktivitas yang selama ini menjadi alasan utama banyak perusahaan berinvestasi di bidang tersebut.

Bagi investor, pelaku usaha, maupun pembuat kebijakan, pemahaman terhadap dua fase tersebut menjadi kunci. Tantangannya bukan sekadar mengikuti perkembangan AI, melainkan memahami bagaimana gelombang investasi yang menyertainya mengubah arah inflasi, kebijakan moneter, dan strategi ekonomi global.

Di tengah transformasi tersebut, satu hal menjadi semakin jelas: AI bukan hanya sedang mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mulai membentuk ulang cara dunia memahami inflasi.

Pantau terus perkembangan ekonomi global dan inovasi teknologi, karena keduanya kini semakin sulit dipisahkan dalam menentukan arah investasi maupun kebijakan ekonomi di masa depan.


Baca Juga: Pengamat: Jika Selat Hormuz Dibuka, Inflasi Global Bisa Mereda

FAQ

1. Benarkah AI bisa menyebabkan inflasi global?

Ya, tetapi bukan karena teknologi AI itu sendiri. Berdasarkan analisis DBS Group Research, tekanan inflasi muncul dari investasi besar-besaran untuk membangun infrastruktur AI, seperti pusat data, semikonduktor, jaringan digital, dan pasokan listrik.

2. Mengapa AI yang identik dengan efisiensi justru dapat memicu inflasi?

AI memang berpotensi meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang. Namun sebelum manfaat tersebut dirasakan, perusahaan harus mengeluarkan belanja modal yang sangat besar. Lonjakan permintaan terhadap chip, energi, dan berbagai komponen industri inilah yang dapat mendorong kenaikan harga.

3. Apa hubungan AI dengan kebutuhan energi?

Model AI generatif membutuhkan daya komputasi yang sangat besar sehingga pusat data harus beroperasi selama 24 jam. Akibatnya, konsumsi listrik meningkat dan investasi pada pembangkit maupun jaringan energi ikut bertambah. Kondisi ini dapat mempertahankan harga energi pada level tinggi.

4. Mengapa inflasi akibat AI memengaruhi suku bunga?

Jika inflasi bertahan tinggi, bank sentral cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan kenaikan harga. Oleh karena itu, perkembangan AI kini juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam proyeksi kebijakan moneter.

5. Apakah AI akan terus menjadi pemicu inflasi?

Tidak. DBS menilai tekanan inflasi akibat AI lebih banyak terjadi pada fase pembangunan infrastrukturnya. Setelah ekosistem AI matang dan produktivitas meningkat, teknologi ini justru berpotensi membantu menekan biaya operasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

6. Apa pelajaran bagi investor dari analisis DBS?

Investor perlu melihat AI sebagai transformasi ekonomi yang lebih luas, bukan sekadar peluang membeli saham teknologi. Sektor semikonduktor, energi, pusat data, infrastruktur digital, hingga aset lindung nilai seperti emas dapat memperoleh manfaat atau terdampak oleh perubahan lanskap ekonomi yang dipicu oleh investasi AI.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.