Akurat Logo

Era Agentic AI Dimulai, Transaksi Keuangan Tak Lagi Selalu Dijalankan Manusia

Idham Nur Indrajaya | 14 Juli 2026, 13:47 WIB
Era Agentic AI Dimulai, Transaksi Keuangan Tak Lagi Selalu Dijalankan Manusia
Era Agentic AI membuka babak baru transaksi keuangan digital. Simak peran Privy dan pentingnya digital trust di masa depan. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Bayangkan jika suatu hari kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di ponsel Anda tidak hanya memberikan rekomendasi investasi atau mengingatkan jatuh tempo tagihan, tetapi juga secara mandiri membayar cicilan, mengajukan pembiayaan, hingga menandatangani kontrak digital atas nama Anda. Skenario tersebut mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, namun mulai dipersiapkan oleh pelaku industri keuangan dan teknologi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Era Agentic AI dipandang sebagai fase berikutnya dalam evolusi kecerdasan buatan. Berbeda dengan AI generatif yang selama ini berfungsi membantu manusia menghasilkan teks, gambar, atau analisis, Agentic AI dirancang untuk mengambil keputusan sekaligus mengeksekusi tindakan secara mandiri sesuai mandat yang diberikan pengguna.

Perubahan ini membuka peluang besar bagi efisiensi layanan keuangan digital. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapa yang bertanggung jawab ketika AI melakukan sebuah transaksi? Bagaimana memastikan tindakan AI benar-benar sah, memperoleh otorisasi, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum?

Isu inilah yang menjadi sorotan dalam Indonesia Digital Bank Summit (IDBS) 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH). Dalam forum tersebut, perusahaan penyelenggara sertifikasi elektronik (PSrE) Privy menilai bahwa fondasi kepercayaan digital atau digital trust akan menjadi elemen yang semakin penting ketika AI mulai berperan sebagai pelaku transaksi di ekosistem keuangan digital.

Apa Itu Agentic AI?

Secara sederhana, Agentic AI adalah kecerdasan buatan yang mampu mengambil keputusan sekaligus menjalankan tindakan secara mandiri berdasarkan tujuan atau instruksi yang diberikan manusia.

Dalam konteks layanan keuangan, Agentic AI berpotensi melakukan berbagai aktivitas, seperti:

  • mengajukan pembiayaan;

  • membayar tagihan secara otomatis;

  • memindahkan dana;

  • membeli produk investasi;

  • menandatangani dokumen elektronik;

  • menyetujui kontrak digital sesuai otorisasi yang diberikan.

Kemampuan tersebut membuat AI tidak lagi hanya menjadi alat bantu analisis, tetapi mulai bertransformasi menjadi "agen digital" yang bertindak atas nama pengguna.

Perubahan inilah yang diperkirakan akan menjadi salah satu tonggak baru dalam transformasi industri keuangan digital.

Mengapa Agentic AI Menjadi Tonggak Baru Industri Keuangan?

Selama beberapa tahun terakhir, AI lebih banyak digunakan untuk membantu manusia mengambil keputusan, misalnya mendeteksi penipuan (fraud), menganalisis kelayakan kredit, atau memberikan rekomendasi investasi.

Namun, perkembangan teknologi kini bergerak lebih jauh. AI mulai dikembangkan agar mampu menyelesaikan rangkaian pekerjaan tanpa campur tangan manusia secara langsung.

Bayangkan seseorang memberikan mandat kepada AI untuk mengelola seluruh keuangan bulanannya. AI kemudian secara otomatis memeriksa saldo rekening, membayar listrik sebelum jatuh tempo, melunasi kartu kredit, membeli reksa dana ketika harga turun, hingga mengajukan pembiayaan kendaraan jika menemukan penawaran dengan bunga yang lebih kompetitif.

Dalam skenario tersebut, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah AI mampu melakukan tugas tersebut, melainkan bagaimana memastikan setiap tindakan AI benar-benar memperoleh izin dari pemilik akun dan memiliki kekuatan hukum apabila suatu saat terjadi sengketa.

Inilah tantangan baru yang mulai diantisipasi industri keuangan global.

Privy: Digital Trust Akan Menjadi Fondasi Era AI

Sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE), Privy melihat bahwa perkembangan Agentic AI harus diimbangi dengan infrastruktur kepercayaan digital yang lebih kuat.

CEO sekaligus Co-Founder Privy Marshall Pribadi mengatakan, identitas digital dan mekanisme otorisasi yang dapat dibuktikan secara matematis akan menjadi fondasi penting ketika AI mulai melakukan tindakan yang memiliki konsekuensi hukum.

"Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan memasuki era ketika AI tidak hanya membantu manusia mengambil keputusan, tetapi juga menjalankan berbagai proses dan transaksi secara mandiri. Ketika tindakan yang dilakukan AI mulai menimbulkan hak dan kewajiban hukum, kebutuhan akan mekanisme identitas dan otorisasi yang dapat dibuktikan secara kuat akan menjadi semakin penting. Karena itu, digital trust tidak hanya relevan untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga akan menjadi fondasi penting bagi ekosistem ekonomi digital berbasis AI di masa depan," ujar Marshall Pribadi dalam sesi panel Beyond Banking: Rewiring the Financial System pada Indonesia Digital Bank Summit (IDBS) 2026, dikutip Selasa, 14 Juli 2026.

Menurut Marshall, identitas setiap agen AI nantinya perlu diverifikasi menggunakan pendekatan berbasis kriptografi sehingga setiap tindakan yang dilakukan AI dapat dibuktikan keabsahannya secara matematis, bukan sekadar diasumsikan benar.

Dengan mekanisme tersebut, setiap keputusan maupun transaksi yang dilakukan AI memiliki rekam jejak identitas dan otorisasi yang dapat diaudit jika sewaktu-waktu terjadi persoalan hukum.

Mengapa Identitas Digital AI Menjadi Sangat Penting?

Selama ini, identitas digital digunakan untuk memastikan bahwa seseorang benar-benar merupakan pemilik akun saat membuka rekening, mengajukan pinjaman, atau menandatangani dokumen elektronik.

Namun ketika AI mulai bertindak sebagai agen, konsep identitas digital berkembang lebih jauh.

Yang perlu dipastikan bukan hanya identitas manusia sebagai pemilik akun, tetapi juga identitas digital AI yang bertindak atas nama manusia tersebut.

Misalnya, apabila AI memindahkan dana sebesar Rp50 juta ke rekening lain, sistem harus mampu membuktikan beberapa hal sekaligus:

  • siapa pemilik akun sebenarnya;

  • AI mana yang menjalankan transaksi;

  • kapan transaksi dilakukan;

  • berdasarkan otorisasi apa transaksi tersebut terjadi;

  • apakah tindakan AI masih berada dalam batas kewenangan yang diberikan pengguna.

Tanpa mekanisme tersebut, proses audit dan penyelesaian sengketa berpotensi menjadi jauh lebih rumit dibanding transaksi digital saat ini.

Marshall menilai kebutuhan tersebut akan semakin penting seiring meningkatnya integrasi layanan keuangan digital.

"Dalam ekosistem yang semakin terhubung, kepercayaan menjadi elemen penting yang memungkinkan berbagai layanan digital dapat beroperasi secara aman dan efisien. Termasuk dalam merespon perkembangan peran agen AI, sehingga setiap keputusan dan transaksi yang dijalankan AI memiliki rekam jejak identitas serta otorisasi yang dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan secara hukum," katanya.

Beyond Banking Membutuhkan Fondasi Kepercayaan Baru

Perkembangan Agentic AI juga berlangsung bersamaan dengan transformasi sektor jasa keuangan menuju era beyond banking.

Konsep ini ditandai dengan semakin terintegrasinya layanan perbankan, perusahaan fintech, hingga berbagai platform digital melalui pendekatan Universal Banking, Embedded Finance, dan Open Finance.

Dalam ekosistem tersebut, pelanggan tidak lagi harus selalu datang ke bank untuk memperoleh layanan keuangan. Mereka bisa mengakses pinjaman, asuransi, investasi, hingga pembayaran langsung melalui aplikasi e-commerce, transportasi online, maupun platform digital lainnya.

Semakin banyak layanan yang saling terhubung, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem identitas yang dapat dipercaya oleh seluruh pelaku industri.

Marshall mengatakan, selama ini banyak institusi masih membangun proses verifikasi identitas masing-masing sehingga biaya operasional menjadi lebih tinggi dan pengalaman pengguna kurang efisien.

"Transformasi menuju era beyond banking membutuhkan fondasi kepercayaan yang sama kuatnya dengan infrastruktur teknologinya. Selama ini banyak institusi keuangan masih melakukan berbagai lapisan verifikasi untuk memastikan identitas pengguna dan memitigasi risiko fraud. Ketika setiap institusi harus membangun proses verifikasinya sendiri, biaya operasional menjadi lebih tinggi dan pengalaman pengguna menjadi kurang efisien. Karena itu, kami melihat digital trust sebagai infrastruktur bersama yang dapat diandalkan oleh berbagai pelaku industri untuk memperkuat kepastian identitas, mengurangi kompleksitas verifikasi, dan mendukung pertumbuhan ekosistem keuangan yang lebih efisien," ujarnya.

Baca Juga: Dukung Ketahanan dan Kemajuan Digital Indonesia, Telkomsel Raih Tiga Pengakuan Global di TM Forum DTW Ignite 2026

Baca Juga: 5 Cara Membayar Pembelian Produk Digital Luar Negeri dengan Aman

Peran Privy dalam Ekosistem Digital Trust

Sebagai PSrE yang telah beroperasi di Indonesia, Privy menyediakan berbagai layanan yang menjadi fondasi digital trust, mulai dari identitas digital, tanda tangan elektronik tersertifikasi, hingga proses verifikasi elektronik.

Layanan tersebut digunakan dalam berbagai aktivitas digital, seperti:

  • pembukaan rekening bank;

  • electronic Know Your Customer (e-KYC);

  • pengajuan pembiayaan;

  • penerbitan polis asuransi;

  • penandatanganan dokumen elektronik yang memiliki kekuatan hukum.

Ke depan, fondasi infrastruktur tersebut dipandang dapat berkembang untuk mendukung kebutuhan verifikasi dan otorisasi Agentic AI.

Pendekatan yang disiapkan Privy menggunakan metode kriptografi sehingga identitas maupun kewenangan AI dapat diverifikasi secara matematis, memberikan tingkat kepastian yang lebih tinggi dibanding sekadar autentikasi konvensional.

Tantangan Industri Keuangan Tidak Lagi Sekadar Inklusi

Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 80,51%.

Artinya, tantangan industri mulai bergeser. Jika sebelumnya fokus utama adalah memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan, kini perhatian mulai beralih pada bagaimana memastikan setiap transaksi digital berlangsung secara aman, tepercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam konteks inilah digital trust berkembang menjadi infrastruktur yang memungkinkan berbagai institusi saling terhubung dengan tingkat kepastian identitas yang lebih tinggi.

Pandangan serupa juga disampaikan Sekretaris Jenderal AFTECH Firlie Ganinduto.

"Transformasi menuju era beyond banking pada dasarnya adalah upaya membangun ekosistem keuangan yang semakin terhubung dan berpusat pada kebutuhan masyarakat. Namun semakin tinggi tingkat konektivitas tersebut, semakin penting pula keberadaan fondasi kepercayaan yang dapat digunakan bersama oleh seluruh pelaku industri. Karena itu, penguatan infrastruktur digital trust menjadi salah satu elemen penting untuk memastikan kolaborasi, inovasi, dan pertumbuhan sektor keuangan digital dapat berlangsung secara berkelanjutan," ujarnya.

Era Baru AI Bukan Lagi Soal Kepintaran, Melainkan Kepercayaan

Perkembangan Agentic AI menunjukkan bahwa masa depan AI tidak lagi hanya diukur dari kemampuannya menjawab pertanyaan atau membuat konten.

Tantangan berikutnya adalah membangun sistem yang mampu memastikan setiap tindakan AI berlangsung secara aman, transparan, serta memiliki dasar hukum yang jelas. Ketika AI mulai diberi kewenangan mengelola uang, menyetujui kontrak, atau menjalankan transaksi atas nama manusia, aspek identitas digital, otorisasi, dan audit trail akan menjadi sama pentingnya dengan kecanggihan algoritma itu sendiri.

Karena itu, langkah yang mulai dipersiapkan Privy melalui penguatan infrastruktur digital trust menjadi salah satu gambaran bagaimana industri keuangan Indonesia bersiap menghadapi era ketika manusia dan AI akan bekerja berdampingan, bahkan berbagi peran dalam menjalankan aktivitas keuangan sehari-hari.

Baca Juga: Beasiswa Garuda Antar Siswa Tangsel Kuliah di Kampus Teknologi Elite Korea

Baca Juga: OJK Ungkap 608 Ribu Kasus Penipuan Digital, Dana Rp674 Miliar Berhasil Diamankan


FAQ

Apa itu Agentic AI?

Agentic AI adalah jenis kecerdasan buatan yang mampu mengambil keputusan sekaligus menjalankan tindakan secara mandiri berdasarkan tujuan atau instruksi yang diberikan pengguna. Berbeda dengan AI generatif yang hanya menghasilkan konten atau analisis, Agentic AI dapat mengeksekusi tugas seperti membayar tagihan, mengajukan pembiayaan, hingga melakukan transaksi keuangan dengan batas kewenangan tertentu.

Apa perbedaan Agentic AI dengan AI generatif?

AI generatif berfungsi menciptakan teks, gambar, video, atau kode berdasarkan perintah pengguna. Sementara itu, Agentic AI memiliki kemampuan lebih lanjut karena tidak hanya memberikan rekomendasi, tetapi juga dapat menjalankan serangkaian tindakan secara otomatis untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan kata lain, Agentic AI bertindak sebagai "agen digital" yang mampu menyelesaikan tugas tanpa harus menunggu instruksi pada setiap langkah.

Mengapa Agentic AI penting bagi industri keuangan?

Agentic AI berpotensi meningkatkan efisiensi layanan keuangan dengan mengotomatiskan berbagai proses, mulai dari pembayaran tagihan, pengelolaan investasi, hingga pengajuan pembiayaan. Namun, teknologi ini juga menghadirkan tantangan baru terkait keamanan, identitas digital, dan tanggung jawab hukum karena AI mulai menjalankan transaksi yang sebelumnya hanya dilakukan manusia.

Apa yang dimaksud dengan digital trust?

Digital trust atau kepercayaan digital adalah fondasi yang memastikan setiap identitas, transaksi, dan dokumen elektronik dapat diverifikasi keaslian serta keamanannya. Dalam ekosistem keuangan digital, digital trust menjadi penting agar setiap tindakan, baik yang dilakukan manusia maupun AI, memiliki otorisasi yang jelas, dapat diaudit, dan diakui secara hukum.

Bagaimana peran Privy dalam mendukung era Agentic AI?

Sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE), Privy menyediakan layanan identitas digital, tanda tangan elektronik tersertifikasi, dan berbagai solusi verifikasi yang mendukung keamanan transaksi digital. Ke depan, perusahaan juga menyiapkan infrastruktur digital trust berbasis kriptografi untuk memverifikasi identitas dan otorisasi agen AI sehingga setiap tindakan AI dapat dibuktikan secara matematis dan dipertanggungjawabkan secara hukum.

Apa risiko jika AI melakukan transaksi secara mandiri?

Risiko utama meliputi kesalahan pengambilan keputusan, penyalahgunaan akses, hingga sengketa mengenai tanggung jawab hukum apabila terjadi transaksi yang tidak semestinya. Oleh karena itu, diperlukan sistem identitas digital, mekanisme otorisasi, serta audit trail yang kuat agar setiap aktivitas AI dapat ditelusuri dan diverifikasi.

Mengapa identitas digital AI akan semakin dibutuhkan di masa depan?

Seiring berkembangnya konsep Open Finance, Embedded Finance, dan Universal Banking, AI diperkirakan akan semakin banyak menjalankan proses keuangan atas nama pengguna. Identitas digital memungkinkan setiap tindakan AI memiliki rekam jejak yang jelas, mulai dari siapa yang memberikan otorisasi, kapan transaksi dilakukan, hingga bagaimana proses tersebut dapat dibuktikan apabila diperlukan dalam audit atau penyelesaian sengketa hukum.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.