Akurat Logo

Wannan Inti Kenalkan Teknologi yang Bisa Pangkas Massa Sampah Organik hingga 80 Persen dalam Sehari

Idham Nur Indrajaya | 24 Oktober 2026, 20:33 WIB
Wannan Inti Kenalkan Teknologi yang Bisa Pangkas Massa Sampah Organik hingga 80 Persen dalam Sehari
Teknologi pengolahan sampah organik Wannan diklaim mampu mereduksi massa hingga 80 persen dalam 24 jam. Simak cara kerja dan potensinya. - dok. Wannan Inti Teknologi

AKURAT.CO Sampah organik yang menumpuk bukan hanya menambah beban pengangkutan, tetapi juga membutuhkan penanganan khusus karena kadar airnya tinggi dan berpotensi menimbulkan bau. Di tengah tantangan tersebut, teknologi pengolahan sampah organik yang mampu mengurangi massa limbah sekaligus membuka peluang pemanfaatan kembali material menjadi salah satu alternatif yang menarik untuk dikembangkan.

PT Wannan Inti Teknologi memperkenalkan teknologi biochemical chamber yang diklaim mampu mereduksi massa sampah organik hingga 80 persen dalam waktu 24 jam. Teknologi ini diperkenalkan dalam seminar Advanced Composting Technology 2026: Transforming Organic Waste into Valuable Resources, yang digelar bersama PT Indonesia Environment Consultant dalam rangkaian ALLPACK INDONESIA EXPO 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.

Dalam pemaparannya, Direktur PT Wannan Inti Teknologi Jeremy Wijaya menjelaskan bahwa teknologi tersebut dirancang untuk mengolah sampah organik dalam berbagai skala, mulai dari kebutuhan usaha hingga industri. Hasil pengolahannya juga berpotensi dimanfaatkan kembali, sehingga pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga pemulihan material.

Teknologi Pengolahan Sampah Organik Wannan Diklaim Pangkas Massa hingga 80 Persen

Teknologi biochemical chamber yang diperkenalkan PT Wannan Inti Teknologi dirancang untuk memproses sampah organik dalam siklus 1 x 24 jam. Berdasarkan contoh pengolahan yang dipaparkan Jeremy Wijaya, input material sebanyak 120 ton menghasilkan sekitar 24 ton material olahan, atau setara dengan reduksi massa sekitar 80 persen.

Jeremy menilai pengolahan sampah sebelum mencapai tempat pemrosesan akhir menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi beban sistem pengelolaan sampah konvensional.

“Pertanyaannya adalah, seberapa banyak sampah yang sebenarnya bisa kita selesaikan sebelum mencapai tempat pembuangan akhir? Karena semakin besar sampah atau limbah organik yang diolah lebih awal, maka semakin kecil ketergantungan kita terhadap tempat pembuangan akhir,” ujar Jeremy melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Sabtu, 24 Oktober 2026.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya pengolahan sampah dari sumbernya. Selama ini, sampah yang dihasilkan rumah tangga, tempat usaha, dan kawasan industri kerap dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dibawa ke fasilitas pengolahan atau tempat pemrosesan akhir.

Pendekatan pengolahan di sumber menawarkan alternatif dengan menangani sebagian sampah lebih awal. Namun, besarnya pengurangan sampah yang akhirnya dikirim ke tempat pemrosesan akhir tetap bergantung pada jenis material, penerapan teknologi, pengelolaan di lokasi, dan pemanfaatan hasil olahan.

Klaim reduksi massa 80 persen juga perlu dipahami secara tepat. Angka tersebut merujuk pada pengurangan berat material dalam contoh yang disampaikan narasumber, bukan berarti volume sampah berkurang dalam persentase yang sama atau seluruh dampak lingkungan dapat dihilangkan.

Baca Juga: Warga Sutawinangun Keluhkan Tempat Pembuangan Sampah Liar, Limbah Perusahaan Diduga Dibuang Sembarangan

Baca Juga: Lomba Pilah Olah Sampah Heroes Jakarta 2026, Bentuk Apresiasi Nyata Warga

Bagaimana Cara Kerja dan Berapa Kapasitas Mesin Biochemical Chamber?

PT Wannan Inti Teknologi memperkenalkan sistem pengolahan terintegrasi yang mencakup pemilahan serta pengolahan fraksi padat menggunakan mesin biochemical chamber.

Berdasarkan informasi yang dipaparkan dalam seminar, teknologi tersebut tersedia dalam variasi kapasitas input mulai dari 30 kilogram hingga 120 ton per hari, bergantung pada model dan spesifikasi unit.

Rentang kapasitas tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang ditawarkan menyasar kebutuhan pengolahan dengan skala berbeda. Unit berkapasitas lebih kecil berpotensi digunakan untuk kebutuhan tertentu di lokasi usaha, sedangkan kapasitas yang lebih besar ditujukan untuk kebutuhan pengolahan sampah dalam jumlah signifikan.

Meski demikian, kapasitas input tidak boleh disamakan dengan jumlah material yang dihasilkan setelah proses pengolahan. Keduanya merupakan ukuran berbeda yang perlu diperhatikan ketika menilai kemampuan suatu teknologi.

Dalam contoh yang disampaikan Jeremy, input sebanyak 120 ton menghasilkan sekitar 24 ton material olahan. Artinya, terdapat selisih massa sekitar 96 ton selama proses tersebut.

Perhitungan itu menggambarkan besarnya reduksi massa berdasarkan contoh yang dipaparkan. Namun, informasi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa semua jenis sampah organik yang diproses menggunakan teknologi ini akan selalu menghasilkan persentase reduksi yang sama.

Karakteristik bahan, kondisi operasional, dan spesifikasi mesin merupakan sejumlah aspek yang perlu diperhatikan ketika teknologi pengolahan sampah diterapkan di lapangan. Karena itu, pemilihan kapasitas unit perlu disesuaikan dengan jumlah dan karakteristik limbah yang dihasilkan.

Bagi pelaku usaha, informasi mengenai kapasitas dan waktu pengolahan dapat menjadi pertimbangan awal. Namun, keputusan penerapan teknologi juga perlu mempertimbangkan kebutuhan ruang, biaya operasional, pengelolaan hasil olahan, serta penanganan material yang masih memerlukan proses lanjutan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.