Menilik Prospek Bitcoin di September 2025, Akankah Rebound Seperti Tahun 2017?

AKURAT.CO Pergerakan harga Bitcoin kembali menjadi sorotan pelaku pasar menjelang September 2025.
Setelah mengalami tren penurunan di penghujung Agustus, kekhawatiran pun muncul bahwa aset kripto terbesar ini bisa jatuh hingga menyentuh level psikologis USD100.000. Namun, sejumlah analis menilai potensi ke arah itu tidak terlalu besar.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa untuk membaca arah pasar Bitcoin di September, perlu melihat dari dua sisi, yakni historis dan fundamental.
Dari sisi historis, bulan September memang dikenal sebagai periode yang kurang ramah bagi Bitcoin, atau sering disebut dengan September Effect.
Sejak tahun 2013, data menunjukkan harga Bitcoin cenderung melemah pada bulan September, dengan catatan delapan kali penurunan dari 12 periode yang ada.
Baca Juga: El Salvador Pindahkan Cadangan Bitcoin ke Alamat Digital Baru
Rata-rata return pada bulan tersebut tercatat minus 3,8%. Kondisi inilah yang menimbulkan kekhawatiran investor bahwa pola serupa bisa kembali terulang tahun ini.
Namun, Fyqieh menekankan bahwa tren historis tidak selalu berulang. Faktor lain seperti selera pasar, tingkat kepercayaan investor, hingga kondisi ekonomi makro global, dapat mengubah arah pergerakan harga.
Ia mencontohkan tahun 2017, ketika setelah terkoreksi di Agustus, harga Bitcoin justru berhasil rebound pada September.
“Jika melihat pola yang terjadi saat ini, situasinya cukup mirip. Koreksi di akhir Agustus bisa menjadi landasan bagi Bitcoin untuk memulai pemulihan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (2/9/2025).
Secara teknikal, Bitcoin kini tengah menguji area support kuat di kisaran USD105.000 hingga USD110.000.
Jika level ini mampu bertahan, menurut Fyqieh, peluang penurunan hingga menyentuh USD100.000 relatif kecil. Sebaliknya, peluang untuk rebound cukup terbuka lebar.
Optimisme tersebut juga ditopang sentimen makro. Salah satunya adalah ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan memangkas suku bunga pada September. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas pemangkasan suku bunga mencapai 87%.
Jika benar terealisasi, pelonggaran moneter ini akan melemahkan nilai dolar AS sekaligus meningkatkan likuiditas global.
Kondisi tersebut secara historis cenderung memberi dorongan positif terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
“Level psikologis USD100.000 memang menimbulkan rasa khawatir di kalangan investor. Tapi dengan kombinasi support teknikal dan sentimen dovish dari The Fed, peluang Bitcoin untuk bertahan bahkan berbalik menguat cukup besar,” tambahnya.
Fyqieh memperkirakan, jika momentum positif ini terjaga, Bitcoin berpotensi kembali menanjak ke kisaran USD115.000 hingga USD120.000 pada akhir September.
Meski pasar saat ini tampak penuh kehati-hatian, menurutnya arah jangka pendek tidak sepenuhnya bearish.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









