AKURAT.CO Tren investasi kini tidak kalah populer dibandingkan dengan gaya hidup, fesyen, atau kecantikan. Berbagai instrumen yang terlihat modern, mulai dari aset kripto, NFT, hingga peer to peer (P2P) lending, semakin diminati terutama oleh generasi muda.
Namun, di balik popularitas itu, ada risiko besar yang mengintai, terutama bagi mereka yang terjebak dalam fenomena fear of missing out (FOMO).
Dikutip dari beberapa sumber, Minggu (21/9/2025), FOMO dalam dunia investasi menggambarkan perasaan takut ketinggalan tren yang sedang naik daun. Banyak orang merasa tidak keren atau tidak update jika tidak ikut mencoba instrumen yang sedang viral.
Sayangnya, investasi bukan sekadar gaya hidup. Tanpa pemahaman yang cukup, langkah gegabah justru bisa berakhir dengan kerugian besar.
Tingkat literasi keuangan di Indonesia yang masih rendah membuat fenomena FOMO kian berbahaya. Tidak sedikit masyarakat yang tergoda masuk ke instrumen investasi hanya karena rekomendasi influencer atau artis.
Tingkat literasi keuangan di Indonesia yang masih rendah membuat fenomena FOMO kian berbahaya. Tidak sedikit masyarakat yang tergoda masuk ke instrumen investasi hanya karena rekomendasi influencer atau artis.
Padahal, endorsement semacam itu tidak selalu mencerminkan kualitas instrumen yang ditawarkan. Akibatnya, alih-alih untung, investor justru bisa tertipu oleh skema investasi bodong.
Instrumen populer seperti kripto, binary option, hingga robot trading memang menawarkan potensi keuntungan tinggi. Namun, tidak sedikit pula oknum yang memanfaatkan tren ini untuk menipu masyarakat.
Instrumen populer seperti kripto, binary option, hingga robot trading memang menawarkan potensi keuntungan tinggi. Namun, tidak sedikit pula oknum yang memanfaatkan tren ini untuk menipu masyarakat.
Tawaran imbal hasil fantastis seringkali menjadi jebakan. Inilah pentingnya memahami risiko sebelum menanamkan modal, agar tidak menjadi korban investasi ilegal.
Agar terhindar dari jerat FOMO, langkah pertama adalah kembali ke tujuan investasi. Investor perlu memiliki strategi yang jelas dan disesuaikan dengan target finansial pribadi.
Agar terhindar dari jerat FOMO, langkah pertama adalah kembali ke tujuan investasi. Investor perlu memiliki strategi yang jelas dan disesuaikan dengan target finansial pribadi.
Investasi yang baik adalah investasi yang sejalan dengan tujuan, bukan sekadar ikut-ikutan. Dengan begitu, peluang terjerat penipuan bisa ditekan sejak awal.
Langkah kedua adalah menyesuaikan investasi dengan kemampuan finansial. FOMO sering membuat seseorang nekat mengeluarkan dana besar tanpa perhitungan.
Langkah kedua adalah menyesuaikan investasi dengan kemampuan finansial. FOMO sering membuat seseorang nekat mengeluarkan dana besar tanpa perhitungan.
Padahal, investasi harus menggunakan “uang dingin” atau dana yang tidak dialokasikan untuk kebutuhan rutin. Menggunakan dana pensiun atau dana pendidikan anak untuk instrumen berisiko justru bisa merugikan di masa depan.
Selain itu, kewaspadaan terhadap modus penipuan sangat penting. Tawaran keuntungan besar dalam waktu singkat harus dicurigai. Prinsip investasi selalu sama: high risk, high return. Tidak ada jaminan keuntungan instan.
Selain itu, kewaspadaan terhadap modus penipuan sangat penting. Tawaran keuntungan besar dalam waktu singkat harus dicurigai. Prinsip investasi selalu sama: high risk, high return. Tidak ada jaminan keuntungan instan.
Oleh karena itu, calon investor perlu berhati-hati terhadap promosi yang terlalu menggiurkan, baik yang datang dari media sosial maupun pesan pribadi.
Mengelola emosi juga menjadi kunci sukses berinvestasi. Euforia karena tren baru sering membuat investor terburu-buru mengambil keputusan.
Mengelola emosi juga menjadi kunci sukses berinvestasi. Euforia karena tren baru sering membuat investor terburu-buru mengambil keputusan.
Sebaliknya, rasa panik saat harga turun juga bisa mendorong tindakan keliru. Dengan menjaga emosi tetap stabil dan berpegang pada tujuan awal, keputusan investasi bisa lebih rasional.
Diskusi dengan ahli atau teman yang berpengalaman juga sangat disarankan. Mendengar berbagai sudut pandang akan membantu calon investor menilai instrumen dengan lebih obyektif.
Diskusi dengan ahli atau teman yang berpengalaman juga sangat disarankan. Mendengar berbagai sudut pandang akan membantu calon investor menilai instrumen dengan lebih obyektif.
Namun, jangan hanya mengandalkan satu sumber. Semakin banyak referensi, semakin baik kualitas analisis yang bisa dilakukan.
Pada akhirnya, investasi adalah hal yang sangat personal. Apa yang cocok bagi orang lain belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita.
Pada akhirnya, investasi adalah hal yang sangat personal. Apa yang cocok bagi orang lain belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita.
Dengan memahami tujuan, menilai risiko, serta menjaga disiplin, investor bisa menghindari jebakan FOMO sekaligus melindungi diri dari investasi bodong.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








