Suku Bunga Rendah Jadi Senjata Baru Pemerintah Dorong Kredit

AKURAT.CO Pemerintah menyiapkan strategi insentif baru bagi sektor perbankan melalui penempatan dana berbunga rendah di bank-bank Himbara.
Skema ini diharapkan mampu mempercepat penyaluran kredit produktif dan memperkuat pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Kacaribu, mengatakan bahwa kebijakan penempatan dana sebesar Rp200 triliun di lima bank Himbara bukan hanya soal tambahan likuiditas, tetapi juga menciptakan biaya dana yang lebih murah bagi bank.
“Bunga penempatan dana pemerintah hanya sekitar 3,8 persen, lebih rendah dari rata-rata biaya dana bank. Ini membuat mereka punya ruang untuk menyalurkan kredit dengan bunga lebih kompetitif,” kata Febrio di Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Baca Juga: Himbara Kebanjiran Likuiditas, Kredit Dipacu Naik 10 Persen
Penetapan bunga tersebut mengacu pada KMK Nomor 276 Tahun 2025, yang menetapkan bunga sebesar 80,476% dari suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang kini berada di level 4,75%.
Dengan skema ini, bank memperoleh margin yang lebih luas untuk memperluas pembiayaan ke sektor produktif, terutama UMKM dan industri prioritas. Selain itu, kebijakan ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam menjaga arus likuiditas tanpa harus menambah beban fiskal secara langsung.
Per 9 Oktober 2025, sebagian besar dana penempatan telah digunakan: Bank Mandiri menyerap 75%, BRI 62%, BNI 50%, BTN 19%, dan BSI 55%.
Febrio menilai respons cepat ini menandakan kepercayaan perbankan terhadap kebijakan pemerintah sekaligus menunjukkan kemampuan sistem keuangan nasional dalam menyalurkan dana ke sektor-sektor produktif.
“Tujuan akhirnya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi dari bawah, lewat pembiayaan ke UMKM, industri kecil, dan proyek-proyek sektor riil,” ujarnya.
Baca Juga: BTN Ungguli Himbara, Salurkan KPR FLPP Terbanyak bagi Masyarakat
Seiring dengan keberhasilan skema ini, beberapa bank lain mulai menyatakan minat untuk ikut serta, termasuk sejumlah bank pembangunan daerah (BPD) yang ingin mengakses penempatan dana serupa. “Saya dengar-dengar Bank BJB juga tertarik,” kata Febrio.
Dengan strategi ini, pemerintah berharap penyaluran kredit produktif akan meningkat signifikan menjelang akhir tahun, membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








