Kredit Tumbuh 7,74 Persen, Perbanas Soroti Minim Serapan Tenaga Kerja

AKURAT.CO Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menilai pertumbuhan kredit perbankan yang terjadi saat ini belum sepenuhnya berkualitas.
Meski kredit investasi mencatatkan kinerja positif, aliran pembiayaan dinilai masih terkonsentrasi pada sektor padat modal yang minim menyerap tenaga kerja.
Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, Aviliani mengatakan, data Bank Indonesia menunjukkan kredit per November 2025 tumbuh 7,74% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit investasi yang mencatatkan pertumbuhan dua digit.
Baca Juga: Ekonom Perbanas Taksir Kredit Perbankan Tumbuh 10,6-11,6 Persen di 2025
“Kredit investasi memang tumbuh relatif baik. Tapi pembiayaan ini lebih banyak masuk ke sektor padat modal yang cenderung melakukan efisiensi dan tidak banyak menciptakan lapangan kerja,” ujar Aviliani di Jakarta, Selasa (5/1/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian, terutama dalam upaya mendorong penyerapan tenaga kerja dan memperkuat daya beli masyarakat.
Oleh karena itu, ia menilai perlu adanya insentif yang lebih kuat untuk mendorong investasi yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja.
Selain kredit investasi, Aviliani mencatat bahwa kredit modal kerja masih berada dalam tren rendah.
Pada periode suku bunga tinggi, banyak pelaku usaha memilih memanfaatkan dana
internal untuk membiayai operasional, sembari melakukan efisiensi untuk menekan biaya.
Baca Juga: Perbanas Dorong Perbaikan Perilaku Pasar dalam Regulasi Jasa Keuangan
“Ketika bunga tinggi, pelaku usaha cenderung menggunakan kas sendiri. Mereka juga menunda ekspansi dan lebih fokus pada efisiensi,” jelasnya.
Aviliani berharap, seiring dengan tren penurunan suku bunga, pelaku usaha dapat kembali memanfaatkan pembiayaan perbankan untuk mendukung modal kerja.
Sebab, lanjut Aviliani, peningkatan kredit modal kerja dinilai penting untuk menggerakkan aktivitas produksi dan distribusi secara lebih luas.
Sementara itu, dari sisi usaha kecil dan menengah (UKM), Aviliani menilai segmen ini belum menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit. Tantangan utama UKM masih berkisar pada keterbatasan permintaan, inovasi, dan skala usaha.
Ia menekankan perlunya perbaikan model bisnis UKM agar dapat terintegrasi ke dalam rantai pasok perusahaan menengah dan besar. Dengan integrasi tersebut, UKM diharapkan mampu tumbuh berkelanjutan dan meningkatkan kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja.
“UKM harus masuk ke supply chain yang lebih besar. Tanpa itu, sulit bagi UKM untuk berkembang dan menjadi motor pertumbuhan kredit,” ujarnya.
Ke depan, Aviliani menilai sinergi antara kebijakan fiskal, insentif investasi, dan penurunan suku bunga akan menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan kredit. Tanpa perbaikan pada sisi permintaan dan struktur investasi, pertumbuhan kredit berpotensi tetap terbatas dan belum optimal bagi perekonomian nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








