Akurat
Pemprov Sumsel

Modal Asing Rp1,44 Triliun Masuk di Awal Januari 2026, Sinyak Kuat bagi Pasar Keuangan RI

Hefriday | 10 Januari 2026, 13:16 WIB
Modal Asing Rp1,44 Triliun Masuk di Awal Januari 2026, Sinyak Kuat bagi Pasar Keuangan RI

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing sebesar Rp1,44 triliun masuk ke pasar keuangan pada pekan kedua (5-8) Januari 2026

Capaian ini mencerminkan masih terjaganya minat investor global terhadap aset keuangan domestik, meski di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Pergerakan dana investor asing ini menjadi perhatian pelaku pasar karena berlangsung bersamaan dengan kenaikan premi risiko investasi Indonesia serta meningkatnya imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).

Kondisi tersebut menunjukkan dinamika pasar keuangan nasional masih dipengaruhi kuat oleh sentimen global, terutama arah kebijakan moneter AS dan pergerakan dolar.

Baca Juga: Modal Asing Rp14 Triliun Banjiri RI dalam Sepekan

Bagi investor, khususnya generasi muda yang mulai aktif di pasar saham dan obligasi, data aliran modal asing, pergerakan rupiah, serta yield SBN menjadi indikator penting dalam membaca arah pasar keuangan Indonesia di awal 2026.

Modal Asing Masuk ke Saham dan SRBI

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa aliran modal asing masuk bersih tercatat di pasar saham dan instrumen moneter Bank Indonesia atau SRBI.

"Pasar saham mencatatkan modal asing masuk bersih sebesar Rp1,78 triliun. Sementara itu, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga membukukan aliran dana asing masuk bersih sebesar Rp1,04 triliun," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Masuknya dana asing ke saham dan SRBI menunjukkan investor masih melihat peluang pada aset keuangan domestik, terutama instrumen yang dinilai relatif likuid dan berisiko lebih terkelola di tengah volatilitas global.

Modal Asing Keluar dari Pasar SBN

Di sisi lain, pasar obligasi pemerintah justru mencatatkan tekanan. BI mencatat modal asing keluar bersih dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp1,38 triliun pada periode yang sama.

Dengan demikian, meski terjadi arus keluar di SBN, secara keseluruhan pasar keuangan domestik tetap membukukan aliran modal asing masuk bersih Rp1,44 triliun pada pekan pertama Januari 2026.

Akumulasi Aliran Modal Asing Sejak Awal Tahun

Secara kumulatif, sejak awal tahun hingga 8 Januari 2026, aliran modal asing masih menunjukkan tren positif di sejumlah instrumen keuangan.

BI mencatat modal asing masuk bersih sebesar Rp7,34 triliun terdiri dari pasar saham senilai Rp3,85 triliun, SBN senilai Rp3,23 triliun dan SRBI senilai Rp260 miliar.

Data ini mengindikasikan bahwa investor asing masih menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia, meski terjadi rotasi portofolio antar instrumen.

Premi Risiko Naik, Rupiah Tertekan

Di tengah aliran modal tersebut, indikator risiko investasi menunjukkan peningkatan. Credit Default Swaps (CDS) Indonesia tenor 5 tahun tercatat naik dari 67,62 basis poin (bps) pada 2 Januari 2026 menjadi 69,57 bps per 8 Januari 2026. Kenaikan CDS mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap aset Indonesia.

Sejalan dengan itu, nilai tukar rupiah dibuka melemah pada level Rp16.815 per USD pada Jumat (9/1/2026), dibandingkan posisi penutupan Kamis (8/1) di Rp16.785 per USD.

Dolar AS Menguat, Yield SBN Ikut Naik

Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari penguatan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat ke level 98,93 pada akhir perdagangan Kamis (8/1/2026). DXY merupakan indeks yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, termasuk euro, yen Jepang, dan pound Inggris.

Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun tercatat naik ke level 6,15% pada Jumat (9/1/2026), dibandingkan 6,05% pada Kamis (8/1/2026). Sebaliknya, imbal hasil US Treasury Note tenor 10 tahun justru turun ke level 4,167%.

BI Perkuat Koordinasi Jaga Stabilitas

Merespons perkembangan tersebut, BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. Bank sentral juga mengoptimalkan strategi bauran kebijakan guna menjaga stabilitas pasar keuangan dan memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa