Transparansi Ditingkatkan, BEI Detailkan Klasifikasi Investor

AKURAT.CO PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap meningkatkan transparansi data investor dengan merinci klasifikasi pemegang saham di pasar modal domestik.
Langkah ini diambil menyusul rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan proses rebalancing indeks untuk saham-saham Indonesia.
Selama ini, data investor yang dihimpun PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) diklasifikasikan ke dalam sembilan kategori, mulai dari manajer investasi, perusahaan, hingga investor perorangan, serta dibedakan berdasarkan asal domestik dan asing. Nantinya klasifikasi tersebut akan diperluas agar memberikan gambaran yang lebih granular.
Baca Juga: Apa Itu Trading Halt Saham? Ini Penjelasan Lengkap, Dampak, dan Cara Kerjanya di BEI
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, mengatakan BEI bersama KSEI tengah mengkaji penambahan subkategori investor di bawah klasifikasi yang ada saat ini.
“Ke depan, ini yang sedang kami upayakan bersama dengan KSEI adalah dari sembilan jenis investor itu, kami berharap bisa turun lebih detail. Nanti penggolongan investornya ini yang teman-teman KSEI lagi merumuskan, kami akan tambah berapa jenis investor lagi di bawahnya,” ujar Irvan di Media Center BEI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Irvan menambahkan, pendetailan data investor ini juga dilakukan dengan mengacu pada praktik terbaik di tingkat global. BEI telah melakukan diskusi dengan sejumlah lembaga indeks internasional, termasuk Financial Times Stock Exchange (FTSE), untuk menyempurnakan transparansi data kepemilikan saham emiten di Indonesia.
Baca Juga: BDO Indonesia dan BEI Tekankan Pentingnya Integrasi Standar Global dalam Laporan Keberlanjutan
“Kami berharap, menindaklanjuti surat itu (MSCI), sebelum Mei 2026, informasi itu sudah bisa didistribusikan ke publik dari KSEI melalui Bursa,” katanya.
Di sisi lain, Direktur Utama BEI Iman Rachman menegaskan komunikasi antara BEI dan MSCI sebenarnya telah berlangsung sejak Desember 2025. Namun, dalam proses tersebut, BEI tidak menerima penjelasan yang rinci terkait data investor yang secara spesifik dibutuhkan oleh MSCI.
“Bukan kita tidak melakukan sesuatu, tapi belum sesuai metodologi yang mereka terapkan. Dan ini yang kita coba lakukan karena MSCI tidak spesifik bilang ABCD,” ujar Iman.
Iman menjelaskan, BEI telah berupaya menyediakan data free float emiten tercatat sesuai regulasi yang berlaku di Indonesia. Namun, perbedaan metodologi penghitungan membuat data yang disampaikan belum sepenuhnya sejalan dengan ekspektasi MSCI.
Meski demikian, BEI memastikan akan terus menyempurnakan penyajian data free float dengan tetap mematuhi ketentuan hukum nasional. Hingga tenggat Mei 2026, BEI juga akan mempelajari praktik terbaik dari bursa-bursa di kawasan regional.
“Kita support sehingga kita dapatkan apa yang bisa diberikan sesuai dengan metodologi. Kami menghargai tata cara mereka,” pungkas Iman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








