Akurat Logo

Wamenkeu Juda Optimis Defisit Fiskal Tetap Aman di Tengah Tekanan Global

Andi Syafriadi | 23 April 2026, 17:47 WIB
Wamenkeu Juda Optimis Defisit Fiskal Tetap Aman di Tengah Tekanan Global
Ilustrasi Mata Uang Rupiah (Source: Freepik)

AKURAT.CO Pemerintah memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terjaga di bawah ambang batas 3% dari produk domestik bruto (PDB), meskipun tekanan global meningkat akibat dinamika geopolitik dan fluktuasi harga energi.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung menyampaikan bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini masih berada dalam batas aman, bahkan dalam skenario tekanan ekstrem di pasar energi global.

“Perhitungan kami menunjukkan, bahkan dalam skenario terburuk dengan harga minyak mentah rata-rata sekitar USD100 per barel tahun ini, langkah-langkah yang telah disiapkan tetap dapat menjaga defisit fiskal di kisaran 2,9%,” ujar Juda dalam acara Fitch Ratings Annual Indonesia Conference di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Baca Juga: Pajak Tumbuh 20,7 Persen, Bantalan Fiskal APBN 2026 Menguat

Pernyataan tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal di tengah ketidakpastian global yang meningkat, termasuk konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dan volatilitas pasar keuangan.

Saat ini, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) tercatat masih berada di kisaran USD79 per barel. Namun, pemerintah mengantisipasi potensi kenaikan harga seiring berlanjutnya konflik yang berdampak pada pasokan energi global.

Juda menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak mentah memiliki dampak langsung terhadap keseimbangan fiskal. Berdasarkan perhitungan pemerintah, kenaikan harga minyak sebesar USD1 per barel dapat meningkatkan defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun.

“Ini menunjukkan sensitivitas fiskal kita terhadap harga energi global cukup tinggi, sehingga pengelolaan risiko menjadi sangat penting,” ujarnya.

Dampak lanjutan dari kenaikan harga minyak tidak hanya terbatas pada beban subsidi energi, tetapi juga berpotensi mendorong inflasi, terutama pada sektor pangan dan energi, yang pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat.

Selain itu, gejolak global turut memengaruhi sentimen investor dan stabilitas pasar keuangan, termasuk nilai tukar dan arus modal.

Baca Juga: S&P Pertahankan BBB, Defisit APBN Diproyeksi Menyempit

Dalam menghadapi kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kesehatan fiskal.

Strategi pertama adalah meningkatkan efisiensi belanja negara, terutama pada program-program prioritas. Beberapa program yang tetap dijaga keberlanjutannya antara lain Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Strategi kedua dilakukan melalui penguatan pembiayaan inovatif. Pemerintah mengoptimalkan pengelolaan portofolio pembiayaan serta memperdalam pasar keuangan domestik guna mengurangi ketergantungan pada pembiayaan eksternal.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pembiayaan di tengah volatilitas global.

Strategi ketiga difokuskan pada peningkatan penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan.

Pemerintah mengandalkan digitalisasi melalui sistem Coretax untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak serta efisiensi administrasi perpajakan.

Selain itu, optimalisasi penerimaan juga dilakukan melalui pemanfaatan momentum kenaikan harga komoditas serta perbaikan tata kelola restitusi pajak.

Pemerintah juga mengandalkan peran Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai alternatif sumber pembiayaan di luar APBN.

Melalui instrumen tersebut, pemerintah berupaya memperluas sumber pendanaan pembangunan tanpa meningkatkan tekanan terhadap defisit anggaran.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.