Kredit BCA Tumbuh 5,6 Persen, Likuiditas Melimpah Sentuh Rp1.089 Triliun

AKURAT.CO PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat pertumbuhan kredit 5,6% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp994 triliun per Maret 2026, di tengah lonjakan dana murah (CASA) yang mencapai Rp1.089 triliun atau setara 85,2% dari total dana pihak ketiga (DPK).
Total DPK BCA tercatat Rp1.292,4 triliun, tumbuh 8,3% YoY, dengan dominasi giro dan tabungan yang mengindikasikan likuiditas sangat longgar di sistem internal bank. Di sisi profitabilitas, laba bersih BCA dan entitas anak mencapai Rp14,7 triliun pada kuartal I-2026.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan kinerja awal tahun didorong faktor musiman dan program promosi.
“Kinerja BCA dipengaruhi momentum Ramadan dan Idulfitri yang mendukung kinerja kredit. Kami optimistis menjaga kinerja tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis,” ujar Hendra dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Dari sisi penyaluran, kredit produktif mendominasi dengan nilai Rp760,2 triliun atau tumbuh 7,8% YoY. Kredit UMKM tumbuh lebih tinggi sebesar 12% YoY menjadi Rp146 triliun. Sementara itu, pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp258,4 triliun atau 26% dari total portofolio kredit.
Secara historis, perbankan Indonesia dalam dua tahun terakhir menghadapi fenomena kelebihan likuiditas, seiring pertumbuhan dana pihak ketiga yang lebih cepat dibanding ekspansi kredit. Kondisi ini juga tercermin dari industri secara umum.
Data Bank Indonesia (BI) sebelumnya menunjukkan pertumbuhan kredit industri perbankan berada di kisaran 10–11% sepanjang 2025, sementara likuiditas tetap longgar dengan rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) di atas ambang aman.
Dalam konteks BCA, dominasi CASA di atas 80% merupakan salah satu yang tertinggi di industri, yang menekan biaya dana (cost of fund), tetapi juga mencerminkan dana yang belum sepenuhnya tersalurkan ke sektor riil.
Baca Juga: UMKM Dapat Angin Segar, Kredit BCA Tumbuh Pesat Mencapai Rp146 Triliun
Di sisi risiko, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) 1,8% dan loan at risk (LAR) 5,1%, disertai coverage ratio masing-masing 174,6% dan 69,7%.
Kombinasi likuiditas tinggi dan pertumbuhan kredit moderat menunjukkan adanya potensi mismatch antara ketersediaan dana dan permintaan pembiayaan di sektor riil.
Bagi pelaku usaha, kondisi ini berpotensi membuka ruang penurunan suku bunga kredit secara selektif, terutama di segmen produktif dan UMKM. Namun, bagi pasar, kondisi ini juga menjadi sinyal bahwa ekspansi ekonomi domestik masih belum sepenuhnya agresif di awal 2026.
Di sisi lain, BCA terus mendorong penyaluran kredit berbasis ESG, termasuk pembiayaan energi baru terbarukan (EBT) yang tumbuh 53,5% YoY, serta penguatan ekosistem digital melalui platform Ocean by BCA.
Ke depan, BCA memperkirakan momentum musiman dan penguatan kanal digital akan menopang pertumbuhan bisnis. Namun, tantangan global dan kehati-hatian dalam penyaluran kredit diperkirakan masih menjadi faktor utama yang menahan laju ekspansi kredit dalam jangka pendek.
Dengan likuiditas yang tetap tinggi dan kualitas aset yang terjaga, arah kebijakan penyaluran kredit perbankan akan menjadi indikator kunci bagi pemulihan dan akselerasi ekonomi nasional sepanjang 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









