Bitcoin Gagal Tembus USD80.000, Tertekan Sentimen Global

AKURAT.CO Harga Bitcoin kembali melemah dan gagal menembus level psikologis USD80.000 di tengah tekanan global yang meningkat. Per Senin (27/4/2026) pukul 12.34 WIB, Bitcoin tercatat turun 0,23% ke level USD77.861.
Data tersebut menunjukkan tren pelemahan jangka pendek, setelah sebelumnya sempat menyentuh kisaran USD79.000 sebelum terkoreksi tajam.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, tekanan harga dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal pasar kripto, termasuk ketegangan geopolitik dan dinamika pasar derivatif.
Baca Juga: Bitcoin Gagal Tembus 80.000: Ini Penyebab Utama dan Proyeksi Harga Terbaru
“Pergerakan harga Bitcoin menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah sempat menyentuh level di atas USD79 ribu, harga kembali terkoreksi dan ditutup melemah sekitar 2 persen ke kisaran USD78 ribu,” ujar Fyqieh dalam keterangan di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Dirinya mengungkapkan, koreksi tersebut memicu likuidasi besar di pasar derivatif dengan total mencapai sekitar USD278 juta atau setara Rp4,5 triliun (asumsi kurs Rp16.300 per USD).
Menurutnya, tekanan jual akibat likuidasi ini mempercepat penurunan harga dan mencerminkan lemahnya daya tahan reli sebelumnya.
“Penurunan ini memicu likuidasi besar di pasar derivatif. Tekanan jual yang muncul mempercepat koreksi harga dalam jangka pendek,” katanya.
Tekanan terhadap pasar kripto tidak berdiri sendiri. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memicu penurunan sentimen risiko global.
Kondisi ini diperparah oleh ketidakpastian kebijakan dari pemerintah AS, termasuk arah hubungan luar negeri dan kebijakan ekonomi yang belum jelas.
Baca Juga: Didorong ETF dan Regulasi, Bitcoin Semakin Mendekati USD80.000
Di sisi lain, pasar juga menghadapi tekanan dari ketidakpastian regulasi. Prospek pengesahan regulasi kripto di AS melalui CLARITY Act pada 2026 dilaporkan melemah akibat perbedaan pandangan di kalangan pembuat kebijakan.
Situasi ini berdampak langsung pada kepercayaan investor terhadap aset digital.
Secara historis, pasar kripto memang sensitif terhadap kombinasi faktor makroekonomi dan kebijakan moneter. Pada periode 2022–2023, kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral AS juga sempat memicu koreksi tajam Bitcoin hingga di bawah USD20.000 sebelum pulih kembali.
Sejalan dengan pelemahan Bitcoin, sejumlah aset kripto lain juga mengalami tekanan.
Ethereum terkoreksi dari level tertinggi sepekan, sementara XRP bergerak terbatas di bawah level resistance. Aset lain seperti Solana, Cardano, dan Dogecoin turut melemah seiring turunnya minat risiko investor.
Di tengah kondisi ini, dominasi Bitcoin justru meningkat hingga sekitar 60%. Data ini mengindikasikan adanya pergeseran alokasi dana ke aset yang dianggap lebih stabil dibanding altcoin.
Fenomena ini umum terjadi saat pasar memasuki fase ketidakpastian, di mana investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi.
Dalam waktu dekat, pasar akan mencermati hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28–29 April 2026 sebagai katalis utama.
Keputusan terkait suku bunga The Fed dinilai akan sangat menentukan arah pergerakan aset kripto ke depan.
Selain itu, tekanan dari sisi suplai juga menjadi perhatian. Aktivitas penjualan Bitcoin oleh penambang (miner) yang masih tinggi berpotensi menahan kenaikan harga jika tidak diimbangi permintaan baru.
Fyqieh menilai kondisi saat ini masih dalam fase konsolidasi yang wajar.
“Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi faktor geopolitik, tetapi juga tekanan teknikal seperti likuidasi besar serta aksi profit taking investor jangka pendek,” ujarnya.
Secara teknikal, level USD75.000 menjadi batas psikologis penting bagi Bitcoin. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pemulihan dinilai masih terbuka.
Namun, untuk melanjutkan tren kenaikan, Bitcoin perlu menembus dan bertahan di kisaran USD78.000 hingga USD83.000 dengan dukungan likuiditas yang kuat.
“Selama Bitcoin mampu bertahan di atas USD75 ribu, peluang pemulihan masih terbuka. Namun investor perlu mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan geopolitik,” kata Fyqieh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










