Defisit 0,93 Persen PDB, Pajak Konsumsi Dorong Ekonomi

AKURAT.CO Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada triwulan I 2026 menunjukkan kombinasi antara peningkatan belanja dan pertumbuhan penerimaan yang mendorong defisit fiskal tetap terjaga.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung menyampaikan bahwa defisit APBN hingga akhir Maret 2026 tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Defisit tersebut terjadi di tengah peningkatan belanja negara yang mencapai Rp815 triliun atau tumbuh 31,4% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan negara tercatat Rp574,9 triliun, tumbuh 10,5% yoy," paparnya di gedung Bank Indonesia, Senin (27/4/2026).
Baca Juga: Pajak Naik 20,7 Persen, APBN Jadi Peredam Ekonomi Global
Struktur penerimaan negara menunjukkan peran dominan sektor perpajakan. Penerimaan pajak mencapai Rp462,7 triliun atau 17,2% dari target APBN, dengan pertumbuhan 14,3% yoy.
Salah satu komponen yang mencatat peningkatan signifikan adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), yang tumbuh 57,7% yoy hingga mencapai Rp155,6 triliun.
Peningkatan ini mencerminkan penguatan aktivitas konsumsi masyarakat serta transaksi di dunia usaha.
Di sisi lain, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp112,1 triliun atau 24,4% dari target APBN, namun mengalami penurunan sebesar 3% yoy.
Kinerja fiskal ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan mencapai 5,5% yoy pada triwulan I 2026.
Menurut Juda, pertumbuhan tersebut didorong oleh percepatan belanja pemerintah serta indikator konsumsi domestik yang masih positif, salah satunya tercermin dalam Mandiri Spending Index (MSI).
Baca Juga: Isu Kas Negara Menipis Dibantah, SAL APBN Masih Besar
Konsumsi rumah tangga memang masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini tercermin dari peningkatan penerimaan pajak berbasis konsumsi seperti PPN dan PPnBM.
Namun demikian, Juda juga mengingatkan adanya potensi tekanan dari faktor eksternal. Ia menyebutkan bahwa ekspektasi ekonomi sempat mengalami pelemahan pada Maret 2026, yang dikaitkan dengan dampak konflik di Timur Tengah.
“Memang di bulan Maret ada sedikit pelemahan, terutama dalam ekspektasi kondisi ekonomi ke depan, yang saya kira dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah,” ujar Juda.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun fundamental domestik relatif kuat, dinamika global tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Dalam konteks tersebut, kebijakan fiskal melalui APBN menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menopang pertumbuhan.
Defisit yang masih berada di bawah 1 persen PDB mencerminkan ruang fiskal yang tetap terjaga, sekaligus menunjukkan upaya pemerintah dalam menyeimbangkan antara stimulus ekonomi dan keberlanjutan fiskal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









