Akurat Logo

IHSG Rentan Diguncang Asing, Free Float Minim Jadi Sorotan

Esha Tri Wahyuni | 20 Mei 2026, 10:10 WIB
IHSG Rentan Diguncang Asing, Free Float Minim Jadi Sorotan
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

AKURAT.CO Pelemahan rupiah tidak hanya memicu tekanan terhadap harga barang impor dan pasar obligasi, tetapi juga kembali membuka persoalan lama di pasar modal Indonesia, dominasi saham dengan free float rendah.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai masih banyak emiten di Bursa Efek Indonesia yang memiliki saham beredar di publik dalam jumlah minim, sehingga membuat pergerakan harga saham mudah dimanipulasi dan rentan gejolak.

“Harusnya free float itu 15 persen, bukan 3 persen atau 7,5 persen,” kata Ibrahim saat dihubungi Akurat.co, Selasa (19/5/2026).

Baca Juga: Cermin Mengapa dan Bagaimana Habibie Bisa Balikkan Rupiah dari Rp16.800 ke Rp6.500 per Dolar AS

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sejumlah saham mudah mengalami lonjakan maupun penurunan ekstrem karena likuiditas yang tipis. Ia menyebut fenomena ini kerap dikaitkan dengan istilah “saham gorengan” di pasar.

Sebagai informasi, Bursa Efek Indonesia memang mengatur ketentuan minimum saham beredar untuk perusahaan tercatat. Free float merupakan persentase saham yang dimiliki publik dan dapat diperdagangkan secara bebas di pasar.

Namun dalam praktiknya, sejumlah emiten masih memiliki porsi kepemilikan publik relatif kecil dibanding total saham beredar.

Investor Asing Masih Jadi Penentu

Ibrahim menilai struktur pasar modal domestik saat ini membuat IHSG sangat sensitif terhadap keputusan investor asing dan lembaga indeks global.

“Semua tergantung validasi asing,” ujarnya.

Data transaksi Bursa Efek Indonesia menunjukkan investor domestik memang mendominasi jumlah SID atau single investor identification. Namun secara nilai transaksi dan kepemilikan saham kapitalisasi besar, investor asing masih memiliki peran signifikan.

Ketika dana asing keluar, tekanan terhadap IHSG dan rupiah biasanya terjadi secara bersamaan.

Baca Juga: Investor Ritel Lokal Dominasi Pasar Saham, Dasco Optimistis IHSG Segera Menguat

Hal itu terlihat saat volatilitas global meningkat akibat tensi geopolitik Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat.

Berdasarkan data resmi Bank Indonesia, rupiah sempat berada di level Rp16.000 per dolar AS, sementara IHSG bergerak fluktuatif mengikuti arus modal asing.

Dalam wawancara tersebut, Ibrahim juga menyinggung keluarnya saham PT Aneka Tambang Tbk dari salah satu indeks global sebagai contoh pengaruh lembaga internasional terhadap pasar domestik.

Dirinya menyebut investor global kini semakin memperhatikan fokus bisnis dan aspek lingkungan perusahaan.

Fenomena tersebut sejalan dengan tren global environmental, social, and governance (ESG) yang kini menjadi salah satu pertimbangan utama investor institusi dunia.

Lembaga indeks global seperti MSCI memang rutin melakukan evaluasi terhadap emiten berdasarkan likuiditas, kapitalisasi pasar, hingga faktor keberlanjutan usaha.

Di tengah tekanan rupiah, Ibrahim mengatakan dampaknya mulai terasa pada konsumsi rumah tangga. Ia menyoroti harga pangan yang terus meningkat meski harga BBM tidak mengalami kenaikan.

“Sekarang BBM nggak naik, tapi harga-harga naik,” ujarnya.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi pangan masih menjadi salah satu penyumbang utama inflasi nasional dalam beberapa bulan terakhir.

Produk berbahan impor seperti kedelai dan gandum menjadi komoditas yang sensitif terhadap pelemahan rupiah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.