Akurat Logo

Tak Lagi Ikut Tren, Investor Kripto RI Mulai Pahami Risiko Pasar

Esha Tri Wahyuni | 28 Mei 2026, 07:50 WIB
Tak Lagi Ikut Tren, Investor Kripto RI Mulai Pahami Risiko Pasar
CEO Indodax, William Sutanto

AKURAT.CO Perilaku investor aset kripto di Indonesia mulai mengalami perubahan signifikan.

Jika sebelumnya pasar didominasi investor yang masuk karena fear of missing out (FOMO) dan euforia tren sesaat, kini pengguna aset digital dinilai semakin rasional dalam memahami risiko, strategi investasi, hingga fundamental teknologi blockchain.

CEO Indodax, William Sutanto mengatakan, perubahan pola pikir investor menjadi salah satu indikator bahwa industri kripto di Indonesia mulai bergerak menuju fase yang lebih matang.

“Sekarang pendekatannya mulai berubah. Investor makin sadar pentingnya riset dan strategi yang lebih disiplin dalam menghadapi market,” ujar William dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Baca Juga: CFX dan OJK Edukasi Aset Kripto ke Mahasiswa FEB UI

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya penetrasi aset digital di Indonesia. Berdasarkan data resmi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), jumlah pelanggan aset kripto di Indonesia sempat menembus lebih dari 22 juta pengguna sepanjang 2025.

Sementara nilai transaksi aset kripto nasional juga tercatat mencapai ratusan triliun rupiah dalam satu tahun terakhir, didorong meningkatnya aktivitas perdagangan dan adopsi teknologi blockchain.

William menilai, investor kini tidak lagi hanya berorientasi pada kenaikan harga jangka pendek.

Menurut dia, semakin banyak pengguna yang mulai mempelajari market structure, memahami siklus bitcoin, hingga menerapkan strategi investasi yang lebih terukur di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif.

“Kalau dulu banyak yang masuk hanya ikut tren atau FOMO, sekarang komunitas mulai lebih kritis. Mereka belajar memahami risiko dan bagaimana teknologi blockchain berkembang,” katanya.

Momentum perubahan perilaku investor ini juga terjadi di tengah reli harga Bitcoin yang sempat menembus level USD81 ribu usai muncul sentimen positif dari pembahasan regulasi kripto di Amerika Serikat.

Kenaikan harga tersebut kembali memicu perhatian pasar global terhadap aset digital, termasuk di Indonesia.

Namun berbeda dengan siklus sebelumnya yang cenderung dipenuhi spekulasi ekstrem, William menyebut saat ini investor mulai lebih fokus pada aspek fundamental, utilitas teknologi, dan keberlanjutan ekosistem digital.

Selain faktor investasi, perkembangan teknologi blockchain juga dinilai mulai membuka berbagai pemanfaatan baru di sektor ekonomi digital.

Beberapa di antaranya mencakup tokenisasi aset, pengembangan infrastruktur digital, hingga integrasi teknologi blockchain dalam sistem keuangan modern.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa industri kripto tidak lagi semata dipandang sebagai instrumen spekulatif.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara mulai mempercepat regulasi aset digital, termasuk pengembangan central bank digital currency (CBDC), pengawasan bursa kripto, hingga penguatan perlindungan investor.

Baca Juga: Dorong Transparansi Informasi, Bursa Kripto CFX Hadirkan Laporan Data Industri Aset Kripto

Di Indonesia sendiri, pengawasan aset kripto kini secara bertahap beralih dari Bappebti ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Peralihan tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola industri aset digital nasional.

William mengatakan komunitas tetap menjadi fondasi utama dalam perkembangan industri kripto sejak awal kemunculan bitcoin.

Berbeda dengan industri finansial tradisional yang tumbuh secara institusional, industri aset digital banyak berkembang melalui komunitas yang aktif membangun diskusi, edukasi, dan distribusi informasi secara organik.

“Pada akhirnya, industri yang mampu bertahan bukan hanya yang ramai secara tren, tetapi yang bisa membangun kepercayaan, edukasi, dan ekosistem kripto yang berkelanjutan,” ujar William.

Ia menambahkan, komunitas memiliki peran penting dalam membangun keyakinan terhadap perkembangan aset digital jangka panjang.

Menurut dia, diskusi yang berkembang di komunitas kini juga semakin luas dan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga harian.

“Sekarang komunitas kripto berkembang jauh lebih terbuka terhadap diskusi. Bukan hanya soal harga, tetapi juga soal bagaimana teknologi blockchain berkembang dan bagaimana industri ini tetap relevan dalam jangka panjang,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan bertepatan dengan perayaan Bitcoin Pizza Day 2026 yang selama ini dikenal sebagai simbol awal penggunaan bitcoin dalam transaksi nyata.

Peristiwa itu merujuk pada transaksi pembelian dua loyang pizza menggunakan 10 ribu bitcoin pada 2010, yang kini menjadi salah satu tonggak sejarah penting dalam perkembangan aset digital global.

Dalam momentum tersebut, Indodax menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat edukasi dan literasi blockchain di Indonesia melalui pendekatan komunitas dan pengembangan ekosistem digital yang lebih sehat.

Perubahan perilaku investor ini dinilai penting bagi keberlanjutan industri kripto nasional. Meningkatnya literasi dan pemahaman risiko berpotensi mengurangi pola investasi spekulatif yang selama ini kerap memicu volatilitas ekstrem di pasar aset digital.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.